Hereditary (2018)

Sejak beberapa pekan yang lalu saya mendapatkan rekomendasi untuk menonton sebuah film horor yang berjudul Hereditary (2018). Karena berbagai kesibukan, akhirnya saya baru dapat menontonnya beberapa hari kemudian. Film ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga setelah kehilangan ibu/nenek mereka. Di sana terdapat Annie Grahan (Toni Collette), pembuat miniatur mini yang baru saja kehilangan ibunya. Terdapat pula 2 anak Annie yaitu Charlie Graham (Milly Shapiro) dan Peter Graham (Alex Wolff). Memimpin keluarga kecil ini, Steve Graham (Gabriel Byrne) sebagai suami dari Annie dan bapak bagi Peter dan Charlie.

Dari awal, keluarga ini nampak muram dan aneh. Mereka harus menghadapi sejarah buruk keluarga Annie yang dilingkupi oleh depresi dan penyakit kejiwaan. Ayah, ibu dan saudara laki-laki Annie mengalami masalah kejiwaan sebelum mereka meninggal. Annie pun beberapa kali tidur sambil berjalan dan tak sadar akan apa yang dia perbuat. Hubungan di dalam keluarga ini agak saling asing antara satu dan lainnya. Rasanya hanya Steve saja yang nampak tegar dan berusaha merangkul agar keluarga ini tetap utuh. Tak heran kalau mereka nampak jarang tersenyum atau bahagia.

Tempo Hereditary (2018) berjalan lambat sekali sehingga saya merasa bosan dengan separuh bagian awal dari film ini. Masalah kejiwaan seakan menjadi topik utama Hereditary (2018). Hal ini membuat Hereditary (2018) nampak seperti film drama tentang orang stres dan gila saja. Loh? Mana horornya? Perlahan unsur horor dari Hereditary (2018) muncur mulai dari pertengahan film. Horor dimunculkan bukan dalam wujud jump scare yang didukung dengan suara nyaring dadakan. Jangan pula berharap akan ada banyak monster-monsteran di sana. Horor yang dihadirkan adalah horor psikologis yang anehnya, dapat membuat saya merinding.

Berbagai peristiwa tragis yang Annie dan keluarga hadapi memang misterius. Penonton diajak untuk menebak-nebak apakah semua ini disebabkan oleh faktor supranatural atau faktor kegilaan semata. Sayang, misteri yang dihadirkan kurang berhasil membuat saya penasaran. Beberapa bagian pada jalan cerita film ini, terbilang membosankan. Saya pribadi hanya dapat memberikan Heriditary (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: hareditary.movie

Valerian & the City of a Thousand Planets (2017)

Saya suka sekali dengan film-film yang mengusung tema perang luar angkasa seperti Trilogi Star Wars. Dengan didukung dengan special effect yang keren, film-film jenis ini hampir pasti saya tonton, tak terkecuali Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Film yang dibuat berdasarkan komik Prancis berjudul Valerian dan Laureline ini terbilang sangat ambisius karena menggunakan banyak sekali special effect terkini. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana film ini menggambarkan latar belakang film dengan sangat baik, kecuali ketika mereka mencoba menggambarkan keadaan Planet MΓΌl. Adegan pada Planet tersebut lebih terlihat seperti adegan pada film animasi 3D. Selain itu, saya tidak melihat keanehan lagi pada special effect film ini.

Untungnya, mayoritas peristiwa yang terjadi pada Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah pada Kota 1000 Planet, bukan Planet MΓΌl. Sesuai judulnya, Kota 1000 Planet pada dasarnya merupakan pesawat raksasa seukuran Planet yang dihuni oleh berbagai jenis mahluk hidup dari berbagai Galaksi. Pada awalnya pesawat ini dibuat oleh manusia dan memiliki orbit mengelilingi Bumi. Melalui pesawat inilah manusia dapat bertemu dan bersahabat dengan berbagai mahluk luar angkasa yang tersebar. Di dalam pesawat itulah, manusia dan mahluk-mahluk luar angkasa tersebut kemudian menyatukan dan melengkapi ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Mereka melengkapi dan memperluas pesawat tersebut sampai akhirnya Bumi memutuskan untuk melepaskan pesawat ini dari orbitnya untuk dapat bergerak bebas. Tak terasa pesawat tersebut sudah seukuran Planet dan menampung ribuan mahluk luar angkasa. Sampai akhirnya pesawat ini disebut Kota 1000 Planet.

Penggambaran Kota 1000 Planet terbilang bagus dan menarik. Saya melihat banyak gambar-gambar indah pada film ini. Imajinasi dan lingkungan yang ada pada film ini terbilang kreatif dan bagus. Adegan aksi pada film inipun terbilang keren dan nampak bagus. Hal yang saya paling suka dari Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah adegan aksinya yang kreatif.

Tapi sayang, keunggulan-keunggulan di atas runtuh seketika begitu saya melihat jalan cerita dan karakter utama Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Pada film ini, Mayor Valerian (Dane DeHaan) dan Sersan Laureline (Cara Delevingne) dikirim ke Kota 1000 Planet untuk menyelidiki sebuah kasus yang ternyata berkaitan erat dengan misteri Planet MΓΌl. Sebuah Planet yang entah bagaimana, datanya hilang dari Kota 1000 Planet. Sudah dapat ditebak, terdapat konspirasi besar di antara pejabat teras Kota 1000 Planet.

Hal ini semakin diperparah dengan kurang gregetnya karakter Valerian dan Laureline. Padahal kerangka utama dari film ini sepertinya dibangun dari chemistry diantara kedua karakter utama tersebut. Valerian dan Laureline banyak sekali melontarkan lelucon yang kurang lucu. Keduanya pun sering dihadapkan pada adegan romantis yang sama sekali tidak romantis. Film ini gagal meyakinkan saya bahwa Laureline dan Valerian merupakan pasangan muda yang saling cinta. Film ini juga gagal meyakinkan saya bahwa Valerian merupakan seorang jagoan. Saya sadar bahwa film ini berusaha sekuat tenaga agar Valerian nampak sebagai seorang “bad ass”. Tapi, bukan kesan itu yang saya dapatkan. Akting Dane DeHaan memang cukup memukau pada Chronicle (2012), tapi saya rasa kali ini ia gagal.

Film-film berlatar belakang perang luar angkasa bukan hanya adegan aksi yang memukau dengan dukungan special effect saja. Cerita dan karakter yang ada di dalamnya seharusnya mampu menjadi daya tarik juga bagi film tersebut. Sayang sekali, saya hanya dapat memberikan Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.valerianmovie.com

Sushi Knight, Sushi On-Line yang Ekonomis

Dengan bergugurannya warung sushi murah meriah di dekat rumah saya, maka saya harus mencari warung sushi murah meriah baru. Kantong bisa jebol juga kalau setiap ingin makan sushi harus pergi ke restoran sushi sejenis Sushi Tei :’D. Akhirnya saya menemukan warung sushi yang lokasinya tak jauh dari kantor baru saya yaitu Sushi Knight. Yaah, tak dapat yang di dekat rumah tak apalah, paling tidak yang satu ini dekat dari kantor.

Warung sushi ini terletak di lorong kecil di ITC Kuningan Jakarta Selatan lantai 4, jembatan 2 nomor 57. Karena dulu saya biasa ke daerah ini untuk makan siang, maka menemukan Sushi Knight bukanlah hal yang sulit. Area sekitar Sushi Knight memang bisa digunakan untuk makan siang pekerja kantor di sekitar Mega Kuningan. Tapi bagi yang jarang ke ITC Kuningan atau Mall Ambassador, pasti pusing tujuh keliling :’D.

Dapur

Bentuk warungnya sendiri bersih tapi agak sempit dan terlihat sangat sederhana. Saya sendiri pernah makan di tempat dan pernah pula membawa pulang sushi pesanan saya ke rumah. Kalau saya lihat, mayoritas pelanggan Sushi Knight memang banyak yang memesan melalui aplikasi ojeg on-line, bukan datang sendiri seperti saya. Sushi Knight lebih populer sebagai restoran sushi yang produknya diantar dan disantap di rumah. Bukan disantap sambil bersantai di restorannya. Kalau saya lihat, packing take-away Sushi Knight memang sederhana tapi kuat dibawa jauh. Jadi tidak perlu khawatir kalau kita membawa pulang dengan naik motor atau naik angkot.

Packing

Kalau soal harga, saya rasa Sushi Knight termasuk warung sushi yang relatif murah di Jakarta. Tapi murahnya bukan yang jauuuuuh murah sekali ya. Tetap masuk range murah yang reasonable. Yah namanya juga sushi, bahan-bahannya terbuat dari salmon, tuna, abon, daging sapi dan bahan-bahan lain yang tidak murah.

Hhhmmmm, memangnya ada apa saja sih di Sushi Knight sana? Mirip seperti warung sushi pada umumnya, Sushi Knight menyajikan beranekaragam jenis fusion sushi, nigiri sushi, makimono, carpaccio dan lain-lain. Saya sendiri baru sempat mencicipi mentaiko crunchy salmon, unagi maki, volcano sushi, salmon cheese maki, spicy hanami dan salmon carpaccio.

Mentaiko crunchy salmon terdiri dari gulungan nasi, abon dan tempura dengan salmon dan saus mayo di atasnya. Tempura memberikan kerenyahan ketika saya menggigit sushi ini. Terasa sedikit aroma daging dari abon dan terasa pula tekstur abon dan salmon yang semakin lembut dengan keberadaan saus mayo. Rasanya realtuf lembut dan akan terasa lebih enak dengan tambahan kecap dan wasabi. Yuuuumm, enaaaakkkk. Tapi sayang wasabinya kurang terasa sehingga saya harus menggunakan agak banyak wasabi.

Mentaiko Crunchy Salmon

Spicy hanami terdiri dari gulungan nasi, kepiting, salmon, telur ikan dan saus merah. Saus tersebut memberikan rasa gurih, manis dan sedikit pedas. Ditambah tekstur dan aroma dari bahan-bahan lain, sushi ini terasa enak. Spicy hanami sudah cukup kaya akan rasa sehingga tidak perlu menambahkan kecap atau wasabi. Saya suka sekali dengan menu yang satu ini, yummmm enak.

Spicy Hanami

Sekilas, saya kira salmon carpaccio itu sashimi dengan topping mayonaise. Oh ternyata saya salah, salmon carpaccio merupakan potongan ikan tuna yang dibakar bersama-sama dengan mayonaise, abon, lemon, minyak zaitun dan daun bawang. Aroma dagingnya benar-benar harum dan mampu memperkaya hidangan ini. Salmonnya memang terlihat basah, tapi tidak ada rasa amis di sana. Paduan rasanya ternyata benar-benar enak walaupun hidangan ini praktis tidak melibatkan nasi atau bahan karbohidrat lainnya ;).

Salmon Carpaccio

Unagi maki merupakan gulungan nasi, belut dan saus kabayaki. Saya tidak jijik dengan belut tapi hidangan yang satu ini agak amis dan aromanya kurang ok. Yang pasti ini bukanlah hidangan favorit saya di Sushi Knight.

Sushi Knight

Unagi Maki

Volcano sushi merupakan sushi yang terdiri dari gulungan nasi, kepiting, tempura dan ebi kering, dengan siraman mayonaise dan tobiko di atasnya. Tempura dan ebi kering memberikan rasa renyah kriuk kriuk ketika saya menggigit sushi ini. Mayonaise yang melumuri sushi ini mampu memberikan rasa masam yang enak. Gabungan dari semua bahan yabg ada, memberikan sebuah sushi yang renyah dan lezat. Inilah sushi favorit istri saya di Sushi Knight ;).

Sushi Knight

Volcano Sushi

Salmon cheese maki merupakan gulungan nasi, salmon dan keju cair. Rasa kejunya benar-benar terasa. Tak disangka, salmon dan keju ternyata mampu memberikan rasa sederhana yang lumayan enak.

Sushi Knight

Salmon Cheese Maki

Ketika saya menunggu hidangan-hidangan di atas, saya mencium sedikit bau amis dari dalam dapur. Tapi ternyata, kecuali unahi maki, hidangan yang mereka sajikan ternyata tidak amis. Saya justru suka dengan beberapa hidangan yang mereka sajikan. Kondisi tempat makan yang sederhana sekali, tidak menjadi masalah yang berarti di mata saya. Saya rasa Sushi Knight layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.

Warung Leko, Spesial Iga Sapi Penyet

 

 

 

 

Sekitar tahun 2011 lalu, saya pernah mengalami pelayanan yang buruk sekali pada salah satu cabang Warung Tekko di Tangerang Selatan :'(. Pengalaman tersebut membuat saya pribadi mem-blacklist Warung Tekko. Saya tak akan makan di sana kecuali kalau ditraktir atau sedang terdesak. Toh rasa makannya biasa pakai banget, entah pendapat ini muncul karena saya kesal atau tidak ya hehehehe. 8 tahun sudah berlalu, saya rasa manajemen Warung Tekko sudah banyak bebenah diri dan melakukan berbagai perbaikan sehingga pelayanannya semakin baik kedepannya. Toh cabang Warung Tekko yang menyebalkan tersebut sudah tutup :D.

Nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena Warung Leko memiliki logo dan bentuk yang sangat mirip dengan Warung Tekko, yaaah otomatis Warung Leko tidak sengaja masuk pula ke dalam blacklist saya hohohoho. Wah kenapa kok keduanya mirip yah? Ternyata keduanya memang sama-sama berasal dari Surabaya dan berdiri di bawah bendera Warung Leko. Saya rasa nama leko sekilas mirip seperti kata lekoh yang sering diucapkan orang Surabaya ketika menyantap makanan yang enak sekali. Dan sepertinya masakan mereka memang cocok dengan lidah Surabaya karena cabang mereka terus bertambah dari hari ke hari. Lhah terus kok ada Tekko dan Leko itu dari mana asalnya? Konon karena perselisihan internal, mereka kemudian pecah kongsi. Salah satu pihak yang berselisih kemudian memilih untuk keluar dan mendirikan Warung Tekko. Itulah mengapa logo, dekorasi toko dan menu masakannya sangat mirip sekali.

Warung Leko sendiri sebenarnya sudah berdiri di Surabaya sejak tahun 2006. Walaupun sepertinya di DKI Jakarta sendiri cabangnya tak sebanyak Warung Tekko, Warung Leko sudah memiliki cabang di Setiabudi One, Grand Indonesia, Central Park, Citywalk Sudirman, Plaza Semanggi, Jalan Gajah Mada, Jalan Pemuda, Jalan Pesanggrahan Raya, Senayan City, Kota Kasablanka Mall, Lotte Shopping Avenue, Ciputra Mall, Kelapa Gading Mall 3 dan Rukan Cordoba. Wah lumayan banyak juga yaaaa.

Bagian Dalam

Bagian Dalam

Salah satu cabang Warung Leko ini buka di gedung tempat saya bekerja dulu. Restorannya nampak penuh sekali terutama setelah Sholat Jumat. Kalau dilihat dari bentuknya, restoran ini menyajikan makanan yang lebih Indonesia, bukan Western atau Jepang. Yaaa jelasss, Warung Leko memang terkenal akan hidangan iga sapinya. Saya sendiri baru sempat mencicipi es kelapa duren, cah kangkung, cah taoge ikan asin, buntut bakar madu, iga hotplate dan iga & otot sapi penyet. Yang lain, entahlah mungkin kapan-kapan saya cicipi juga.

Cah taoge ikan asin menggunakan siraman bumbu yang terasa gurih. Bagi yang kurang suka dengan akar toge, mungkin akan merasakan sedikit bau tanah. Tapi bagi saya sih rasa tersebut tidak ada. Ini bukan menufavorit saya tapi rasanya lumayan dan cocok dijadikan pendamping menu utama lainnya.

Cah Taoge Ikan Asin

Cah kangkung sebenarnya yaa seperti cah kangkung pada umumnya. Rasanya standard dan bisa dijadikan pendamping ketika saya menikmati iga penyet atau menu daging lainnya, menghilangkan rasa bersalah makan kolesterol hehehehe.

Cah Kangkung

Buntut bakar madu merupakan daging buntut bakar dengan olesan madu dipermukaannya. Dagingnya empuk, rasa bakarnya terasa, tapi rasa madunya kurang terasa. Hanya ada sedikit rasa manis madu di sana. Nilaiplus dari menu ini adalah betapa banyak dan lembutnya daging buntut yang disajikan, yummmmmmm.

Buntut Bakar Madu

Iga & otot sapi penyet terdiri dari sambal penyet yang terletak di bawah lalapan, potongan iga goreng dan potongan otot sapi. Daging iganya tidak full daging, terdapat sedikit lemak disela-sela dagingnya sehingga daging tidak terlalu kering. Ototnya lembut dan dapat memberikan tambahan tekstur yang enak ketika dikunyah bersama dengan daging iga. Baik iga maupun otot, terasa enak sekali ketika ditemani dengan sambal yang rasa dan aroma terasinya mantab. Khusus di Warung Leko, saya lebih suka memesan sambal yang tidak terlalu pedas. Sambal yang terlalu pedas justru akan mematikan aroma dan rasa terasinya. Tidak semuamua yang semakin pedas, semakin enak bukan? ;).

Iga & Otot Sapi Penyet

Iga hotplate adalah daging iga sapi yang dibakar dengan saus barbeque. Kemudian iga tersebut disajikan di atas hotplate dengan sambal, tomat, bawang dan lalapan. Daging iga di sini terasa lembut tapi sayang saus barberque-nya kurang terasa. Saya sendiri harus menjilati saus yang menempel pada tulang iga. Padahal sausnya lumayan enak loh, jumlahnya saja yang sedikit sekali. Sambal yang digunakan pada menu ini tidak seenak sambal penyet yang digunakan pada menu iga & otot sapi penyet. Penggunaan hotplate pun tidak mampu memberikan banyak perbedaan.

Iga Hotplate

Es kelapa duren merupakan perpaduan antara duren dan kelapa, sehingga tak heran kalau ada serutan kelapa pada permukaan minuman ini. Ahhh tapi mana durennya? Ada sih tapi sepertinya agak kalah dominan dengan rasa kelapanya. Saya sendiri lebih senang dengan es durean saja, ini hanya pendapat dari saya yang suka sekali dengan duren ya. Teman-teman yang kurang suka dengan wangi menyengat duren, pasti suka dengan minuman ini karena rasa duren tetap ada tapi agak tipis :).

Es Kelapa Duren

Sejauh ini, sepertinya inilah salah satu warung iga dengan iga goreng paling enak yang pernah saya santap, asalkan ditemani dengan sambal penyetnya ;). Sambal penyet Warung Leko memang juara. Lokasi yang strategis dan restoran yang bersih tentunya menambah nilai plus tempat ini. Tentunya saya ikhlas untuk memberikan Warung Leko nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.