Sonic the Hedgehog (2020)

Mayoritas anak tahun 90-an tentunya pernah menyaksikan masa-masa persaingan antara video game Nintendo dan Sega. Kalau Nintendo memiliki Mario Bros sebagai maskotnya, maka Sega memiliki Sonic sebagai maskotnya. Sebagai salah satu pemiliki Sega Mega Drive 2, tentunya saya sudah pernah berkali-kali bermain Sonic The Hedgehog. Permainan tersebut memang bukan permainan favorit saya, tapi banyak kenangan manis tercipta ketika mengingat permainan tersebut di masa lalu :).

Nostalgia yang membuat beberapa milenial yang mungkin sekarang sudah berusia 30-an, ingin melihat versi layar lebar dari sebuah permainan yang pernah dimainkan ketika masih kecil dulu, Sonic the Hedgehog (2020). Film yang seharusnya dirilis pada 2019, terpaksa dirilis pada 2020 karena besarnya komplain fans Sonic. Pada awalnya, penampakan Sonic di filmnya, mendapatkan kritikan pedas dari para fans. Hebatnya, pihak produser dan sutradara memilih untuk mengubah wujud Sonic dan mengundur jadwal rilisnya hinggal awal 2020 lalu. Bagaimana hasilnya?

Penampilan Sonic pada Sonic the Hedgehog (2020) sudah mewakili Sonic versi video game. Sonic seolah hidup dan keluar dari layar TV tabung tempat saya dulu bermain. Ia berhasil ditampilkan sebagai fokus utama pada film tersebut. Pemasalahan dari beberapa film lain yang menggabungkan antara manusia sungguhan dan CGI (Computer Generated Imagery) adalah, dibuat terlalu besarnya peranan karakter manusia hingga perlahan menggeser si tokoh utama yang digambarkan melalui CGI. Untunglah Sonic tidak mengalami nasib yang sama. Peranan Thomas Michael “Tom” Wachowski (James Marsden) disini terlihat sebagai sahabat sekaligus pendamping Sonic. Film ini benar-benar bercerita mengenai Sonic.

Beberapa lokasi pada Sonic the Hedgehog (2020) menggunakan nama lokasi yang dipergunakan pada versi video game nya, tapi tempat kejadian film ini tetap bukanlah dunia ajaibnya Sonic. Sonic (Ben Schwartz) merupakan landak biru berkuatan super. Ia dapat bergerak super cepat dan menggunakan putaran durinya sebagai senjata. Kekuatannya membuat Sunic diburu sejak ia masih kecil. Dengan menggunakan cincin ajaib, Sonic melarikan diri ke dunia lain dan bersembunyi.

Selama bertahun-tahun Sonic berdampar di sebuah desa kecil di daerah Montana. Ia mengamati kehidupan penduduk desa tersebut dari kejauhan hingga Dr. Robotnik (Jim Carrey) datang. Peneliti jenius tersebut menggunakan seluruh peralatan canggih yang ia miliki untuk menangkap Sonic. Jim Carrey berhasil memerankan Dr Robotnik yang egomaniak dan super narsis tanpa akting yang berlebihan. Selama ini Jim Carrey sering tampil dengan akting yang gilanya berlebihan, overacting, sorry para penggemar Carrey di luar sana. Kali ini Carrey berhasil tampil gila tapi tidak overacting, bravo!

Sayang kisah pada Sonic the Hedgehog (2020) terlalu datar dan biasa saja. Sepanjang film, Dr Robotnik mengejar Sonic dan Tom untuk menangkap, meneliti dan mereplikasi kekuatan Sonic. Film ini terlihat sudah berusaha untuk menambahkan warna di dalam ceritanya melalui persahabatan Tom dan Sonic yang semakin tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Kemudian ada pula keharuan Sonic akan kehidupan dipersembunyian yang membuatnya tidak memiliki teman. Yaah, sayang itu semua tersemasuk isu yang biasa dan kurang “Wah”.

Saya lebih senang memandang Sonic the Hedgehog (2020) sebagai film penuh nostalgia yang bertujuan untuk menghiburan. Jangan terlalu memperhatikan lubang di dalam jalan ceritanya, sebab akan lumayan banyak hehehehe. Saya rasa Sonic the Hedgehog (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonicthehedgehog.com

Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018)

Kafir (2002) adalah salah satu film horor Indonesia yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Film yang dibintangi oleh Sudjiwo Tedjo dan Meriam Bellina tersebut berbicara mengenai kisah perjalanan hidup seorang dukun santet. Ceritanya sih sebenanrnya mirip sekali dengan beberapa cerita di sinetron Hidayah yang pernah diputar di TV nasional heheheh. Pada awalnya, Kafir (2002) hendak diremake oleh pihak Starvison. Yah buat apa diremake, lha wong film aslinya saja tidak sampai dapat predikat film legenda kok. Beruntung akhirnya dibuat kisah yang berbeda melalui Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Film ini memang memiliki judul yang mirip dengan tema yang mirip, tapi ceritanya jauh berbeda loh.

Sudjiwo Tedjo kembali hadir sebagai dukun santet pada film Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Namun ia bukanlah fokus utama dari film ini. Kali ini dikisahkan bahwa terdapat 1 keluarga yang hidup harmonis dan penuh kebahagiaan. Semua nampak sempurnaΒ  sampai si bapak mendadak meninggal dunia dihadapan keluarganya.

Kini hanya ada Sri (Putri Ayudya) beserta kedua anaknya yaitu Dina (Nadya Arina) dan Andi (Rangga Azof). Sesekali kekasih Andi, Hanum (Indah Permatasari), datang ke rumah menemari keluarga yang sedang berduka. Sayang, tragedi belum selesai menghampiri keluarga Sri. Sejak kematian suaminya, keluarga Sri mendapatkan teror-teror dalam wujud yang menyeramkan. Semua terkait santet dan dunia supranatural yang ternyata sudah sejak lama melekat pada keluarga tersebut.

Di sini penonton dibawa ke dalam penyelidikan akan masa lalu keluarga Sri beserta penyebab teror yang mereka alami. Siapa penyebab dan biang keladi dari semua ini dibuat sebagai misteri yang membuat penonton terpaku di depan layar. Sayang sekali saya berhasil menebak siapa biang keladinya sejak pertangahan film, sangat mudah ditebak sih sebenarnya. Namun jalan cerita yang alurnya runtun dan menyenangkan, membuat saya tetap nyaman menonton Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sampai tuntas.

Nuansa misteri film ini sangat kental melebihi kadar horornya. Praktis tak ada sosok horor utama yang menjadi icon pada film ini. Jangan harap pula terdapat jump scare yang mengagetkan pada film ini. Horor klasik sudah cukup terasa di sana, meski memang tidak terlalu banyak. Latar belakang rumah tua di perkampungan di era tahun 80-an mengingatkan saya kepada Pengabdi Setan (2017). Apalagi terdapat pemutara piringan hitam lagu lawasnya Tetty Kadi yang berjudul Mawar Berduri. Ok, itu memang lagu lawas, tapi tidak semenakutkan lagu lawas yang juga diputarkan pada piringan hitam di Pengabdi Setan (2017).

Yaah, saya pribadi memandang Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sebagai film detektif di tengah-tengah dunia santet dan perdukunan Indonesia. Saya rasa film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Inilah film Indonesia terbaik yang diputar pada tahun 2018.

Sumber: klikstarvision.com/page/movie_detail/180/sinopsis/KAFIR

Birds of Prey (2020)

Ibarat meraup serpihan DCEU (DC Extended Universe) yang kegagalannya terlihat di depan mata, DC Comics kembali mengumpulkan sekelompok karakter yang tidak terlalu terkenal ke dalam sebuah film layar lebar Birds of Prey (2020). Salah satu tokoh utama film tersebut adalah Harley Quinn (Margot Robbie) yang sebelumnya sudah diperkenalkan pada Suicide Squad (2016), salah satu film DC Comics yang dengan tegas menyatakan bahwa mereka berada di dalam DCEU. Sangat berbeda dengan, Suicide Squad (2016), Birds of Prey (2020) sama sekali tidak mengkaitkan waktu dan kejadian dengan film-film lain yang termasuk ke dalam DCEU. Benang merahnya hanya tokoh Harley Quinn saja.

Sesuai judulnya, Harley Quinn tidak sendirian. Ia harus bekerja sama dengan Dinah Lance / Black Canary (Jurnee Smollett-Bell), Helene Bertinelli / The Huntress (Mary Elizabeth Winstead), Renee Montoya (Rosie Perez) dan Cassandra Cain (Ella Jay Basco). Kelima wanita inilah yang … sepenglihatan saya hanya menjelang akhir film saja bekerjasama dan menyebut diri mereka sebagai Birds of Prey :’D. Sejak awal, Birds of Prey (2020) seolah seperi film solonya Harley Quinn. Harley sangat dominan di sini.

Mungkin semua ini akan berubah bila tokoh DC Comics yang lebih populer, ditampilkan pada Birds of Prey (2020). Kalau di versi buku komiknya, anggota tetap dan awal dari kelompok wanita pemberantas kejaahatan ini adalah Black Canary, The Huntress, Lady Blackhawk dan … Batgirl. Kemana Batgirl? Terdapat lebih dari satu tokoh wanita yang menggunakan kostum Batgirl dan salah satunya adalah Cassandra Cain. Tapi kali ini, Cain hanya tampil sebagai … Cassandra Cain, anak kecil yang berprofesi sebagai pencopet. Tidak ada Batgirl muncul di sana. Poison Ivy dan Cat Women yang kalau di komik sempat bergabung dengan Birds of Prey saja tidak ada di sana. Yang ada hanya Harley Quinn beserta kegilaannya.

Birds of Prey (2020) nampak seperti mengandalkan sekali aksi campur komedi yang Quinn hadirkan. Adegan aksinya sih memang terlihat rapi dan bagus. Tapi lelucon Quinn hanya dapat membuat saya tersenyum saja, tidak tertawa. Sementara tokoh lain seakan hanya menumpang setor muka lalu melakukan adegan aksi dengan serius.

DC Comics adalah penerbit buku komik dan film superhero dan filmnya kali ini praktis hanya menggunakan 1 tokoh saja yang benar-benar memiliki kekuatan super yaitu Black Canary. Sisanya yaaa hanya ahli berkelahi atau menggunakan senjata saja. Tak terkecuali tokoh antagonisnya yaitu Black Mask / Roman Sionis (Ewan McGregor). Saya sendiri bingung untuk apa Mas Sionis menggunakan Black Mask, supaya dibilinag trendi gitu? πŸ˜› Toh identitas dia sebagai Black Mask sudah diumbar-umbar sejak awal film. Topeng tersebut pun tidak memberikan kekuatan apapun.

Terlepas dari beberapa hal di atas, kemasan dan penceritaan dari Birds of Prey (2020) terbilang cukup baik, rapi dan menghibur. Visualnya pun nampak bagus dan keren. Semuan nampak nyaman di mata saya. Quinn yang menjadi fokus utama film ini pun nampak berhasil menarasikan berbagai peristiwa yang ada sehingga penonton dapat mengikuti cerita dengan baik.

Dengan begitu, Birds of Prey (2020) masih dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya tak tahu DC Comics akan memasukkan Quinn ke dalam kelompok super apalagi. Suicide Squad sudah, Birds of Prey sudah, next …?

Sumber: http://www.birdsofpreymovie.com

Baahubali: The Beginning (2015) & Baahubali 2: The Conclusion (2017)

Kali ini saya akan membahas salah satu film India dengan biaya termahal sepanjang sejarah India yaitu Baahubali: The Beginning (2015) & Baahubali 2: The Conclusion (2017). Konon kedua film ini menggunakan special effect dan kostum yang terbaik pada masanya.

Kedua film Baahubali karya sutradara S. S. Rajamouli ini mengisahkan bagaimana 2 Baahubali menghadapi persaingan dan perebutan tahta Kerajaan Mahespati. Di dunia nyata, Kerajaan Mahespati memang benar-benara ada, namun lokasi dan sejarah konkretnya masih agak kabur. Nah kedua film ini mengisahkan versi imajinatif dari Mahespati. Maka otomatis semua kisah di dalamnya merupakan fantasi belaka. Di sana terdapat Mahendra Baahubali dan Amarendra Baahubali yang sama-sama diperankan oleh Prabhas. Inilah tokoh utama dari film garapan S. S. Rajamouli tersebut.

Sebagai salah satu calon pewaris tahta Kerajaan Mahespati, Amarendra Baahubali harus menghadapi berbagai taktik licik yang dilancarkan oleh sepupunya sendiri, Bhallaladeva (Rana Daggubati). Tahta sebuah kerajaan bukan hanya singgasana dan gelar saja. Baahubali berhasil menjadi raja di hati sebagian besar rakyat Mahespati, walaupun ia belum diangkat menjadi raja.

Amarendra tewas melalui sebuah penghianatan dari orang terdekatnya. Hal inilah yang seolah dijadikan sebuah misteri. Siapa dan kenapa? Bukankah Amarendra Baahubali sudah berbuat baik kepada semua orang?

Anak dari Amarendra Baahubali, yaitu Mahendra Baahubali berhasil lolos dari rencana pembunuhan. Ia kemudian dibesarkan di sebuah desa kecil tak jauh dari ibukota Mahespati. Ketika sudah beranjak dewasa, takdir membawa Mahendra Baahubali menuju ibukota Mahespati untuk membalas dendam dan merebut tahta dari keluarga Bhallaladeva yang sudah puluhan tahun menawan ibu dari Mahendra Baahubali di istana.

Aaahhh, sebuah kisah zero to hero yang sudah berkali-kali dikisahkan di film lain. Hanya saja yaaa film ini menggunakan latar belakang keraajan India dan kisahnya dilakukan secara flashback. Apakah cara penceritaan flashback ini merupakan sebuah masalah? Tidak. Tapi hal ini bukan pula merupakan kelebihan.

Terlalu banyak titik lemah pada cerita di kedua film ini. Sejak awal cerita, penonton tentunya sudah mengetahui bahwa Amarendra Baahubali telah gugur. Bagaimana ia gugur digunakan sebagai cara untuk memikat penonton agar terus menonton cerita Baahubalu yang sangat panjang sampai-sampai dipecah menjadi 2 film. Sayang alasan dan bagaimana Amarendar gugur, terasa kurang kuat dan yaaah hanya begitu saja, tidak spesial atau fenomenal.

Kemudian alasan kenapa kok ibunda Mahendra Baahubali sampai dirantai puluhan tahun di pelataran istana, terlalu dibuat-buat. Saya tidak melihat alasan yang kuat bagi Bhallaladeva sampai menyiksa seorang wanita seperti itu. Toh wanita tersebut pernah Bhallaladeva jadikan sebagai alat untuk mencurangi Amarendra Baahubali.

Taktik licik yang Bhallaladeva dan keluarganya lancarkan kok ya mengingatkan saya akan taktik licik ala opera sabun yah. Saya teringat akan kelicikan-kelicikan tokoh antagonis pada beberapa sinetron dan telenovela yang pernah saya tonton ketika saya masih kecil :’D.

Kemudian cara Mahendra membalas dendam pun sangat dapat ditebak. Taktik perang yang dijalankan terbilang absurd dan jauh dari akal sehat. Kalaupun saya menganggap bahwa Baahubali di sini adalah manusia super sakti, yaah taktik pada bagian akhir tersebut tetap saja terasa aneh.

Syukur adegan perang besar antara Kerajaan Mahesapati melawan Kerajaan Kalakeya terbilang sangat menghibur. Adegan tersebut menampilkan sebuah perang kolosal dengan special effect yang baik. Sayang penggunaan special effect pada beberapa bagian perkelahian lainnya, terasa kurang pas dan terlalu mengada-ada. Sementara penggunaan special effect untuk memvisualisasikan Mahespati, sudah nampak halus dan bagus.

Kedua film inipun memiliki lagu dan adegan joget-joget ala India. Bagian inilah yang selalu saya lewatkan ketika sedang menonton film India hehehehe, bukan hanya ketika menonton film ini. Yaaah, adegan musikalnya terbilang biasa saja, jadi yaaa saya skip :’D. Kalau joget dan nyanyiannya seperti The Greatest Showman (2017) sih sopasti saya tonton dan tidak akan saya skip atau lewati.

Baahubali: The Beginning (2015) & Baahubali 2: The Conclusion (2017) berada di bawah ekspektasi saya. Saya yang sebenarnya suka dengan film-film kerajaan dengan tema zero to hero, kali ini hanya dapat memberikan kedua film Baahubali tesebut 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: baahubali.com

Doctor Sleep (2019)

Pada tahun 2013 lalu, Stephen King merilis Doctor Sleep sebagai novel terbarunya. Novel ini ternyata merupakan sekuel dari novel The Shining yang ia rilis pada 1977 lalu. Waaah, setelah lebih dari 30 tahun, baru ada sekuelnya. Nah, bagaimana dengan versi film layar lebarnya The Shining. Seperti pernah saya bahas sebelumnya, The Shining (1980) yang disutradarai Stanley Kubric dinilai kurang baik oleh Stephen King. Kubric dan King seolah berseteru akan 2 karya mereka yang sama-sama terbilang populer. Wah kalau begitu bagaimana dengan versi film layar lebarnya Doctor Sleep?

Sudah pasti Doctor Sleep (2019) tidak akan disutradarai oleh Kubric. Film tersebut disutradarai oleh Mike Flanagan yang sudah berpengalaman menggarap beberapa film horor dan misteri sebelumnya. Saya pribadi bukan fans berat dari karya-karya Flanagan, Kubric ataupun King. The Shining (1980) pun bukan film horor favorit saya hehehe. Jadi wajar saja kalau saya tidak berharap banyak kepada Doctor Sleep (2019). Saya baru menonton film ini beberapa bulan setelah film tersebut dirilis hohohoho.

Pada The Shining (1980) dikisahkan bahwa Danny Torrance kecil bersama keluarganya, mengalami teror dari mahluk-mahluk penunggu Hotel Overlook. Mereka tertarik sesuatu yang ada di dalam diri Danny. Ia ternyata memiliki kemampuan memanfaatkan kekuatan supranatural yang disebut Danny sebut shining atau sinar sebab kekuatan ini membuat Danny unik dan bersinar bagi mahluk-mahluk tertentu.

Apa yang Danny sebut shining, ternyata memiliki istilah lain bagi orang lain. Steam atau uap adalah nama yang Kelompok True Knot berikan. Kelompok yang dipimpin oleh Rose (Rebecca Ferguson) ini mampu untuk hidup cukup lama dengan memakan uap orang lain. Rose dan kawan-kawan berkelana mencari individu-individu yang memiliki kemampuan supranatural untuk dijadikan makanan. Mereka dengan kejamnya tega memangsa uap dari anak-anak kecil tak berdosa. Menurut Rose, uap dari anak-anak lebih murni dan lezat untuk disantap, apalagi bila ditambahkan dengan bumbu rasa takut dan rasa sakit :'(.

Saya yang sedang memiliki anak-anak kecil di rumah, cukup geram melihat ulah Rose dan kawan-kawan. Jadi merupakan kenikmatan tersendiri bagi saya, melihat mereka “dikerjai” sepanjang Doctor Sleep (2019). Rose melakukan kesalahan besar ketika ia berusaha melacak dan memangsa Abra Stone (Kyliegh Curran), seorang anak dengan uap atau sinar yang sangat besar. Besarnya uap Abra menunjukkan betapa besarkan makanan bagi Rose, sekaligus betapa besarnya punya kekuatan Abra yang harus Rose taklukkan.

Rose pikir, ia dapat menang dengan batuan anggota kelompoknya yang cukup banyak. Namun, Abra yang dianggap masih kurang berpengalaman ternyata mendapatkan bantuan dari Danny Torrance (Ewan McGregor).

Danny sudah dewasa dan masih bergulat dengan trauma yang ia peroleh di Hotel Overlook pada The Shining (1980). Ia melakukan apapun untuk menyelamatkan Abra, bahkan ketika hal ini membuatnya kembali ke Hotel Overlook, sebuah tempat yang memberinya mimpi buruk selama ini.

Keberadaan Hotel Overlook beserta penguninya, memperkuat status Doctor Sleep (2019) sebagai sekuel dari The Shining (1980). Apalagi terdapat pula berbagai adegan populer dari The Shining (1980), dihadirkan kembali dengan cara yang sedikit berbeda. Kemudian beberapa efek dan lagu dari Doctor Sleep (2019), diambil dari The Shining (1980). Hal-hal ini berhasil membumbui Docter Sleep (2019) dengan sebuah nuansa nostalgia.

Horor dan misteri dari Doctor Sleep (2019) memang berada di bawah The Shining (1980). Doctor Sleep (2019) tetap kental akan dunia supranatural ala Stephen King, hanya saja penggarapannya membuat saya seolah seperti menonton film fiksi ilmiah. Apakah ini merupakan hal yang buruk? Tidak bagi saya pribadi. Saya justru senang dengan bagaimana cerita bergulir.

Saya rasa, Doctor Sleep (2019) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya yang bukan fans beratnya King atau Kubric merasa bahwa sekuel yang satu ini lebih menyenangkan dan menarik untuk ditonton ketimbang film pendahulunya :).

Sumber: http://www.doctorsleepmovie.com

Ratu Ilmu Hitam (2019)

Ketika masih kecil dulu, saya pernah menonton beberapa film Indonesia termasuk film-filmnya Suzzanna. Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah salah satu film Suzzana yang masih saya ingat sampai sekarang. Ceritanya cukup sederhana, Murni (Suzzanna) belajar ilmu hitam dan menjadi seorang ratu ilmu hitam setelah Murni kehilangan segalanya. Ia menggunakan ilmu hitam untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Film horor lawas tersebut memiliki jalan cerita dan plot yang lumayan menarik dan agak berbeda dengan film Suzzanna lainnya karena cara menceritakan yag lumayan bagus dan terdapat sedikit kejutan di dalamnya.

Lalu, apakah Ratu Ilmu Hitam (1981) sama dengan Ratu Ilmu Hitam (2019)? Sangat berbeda. Sudut pandang penonton pada Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah Si Ratu Ilmu Hitam yang diperankan oleh Suzzanna. Sementara itu, sudut pandang Ratu Ilmu Hitam (2019) dipandang dari kaca mata beberapa mantan anak panti asuhan, yang datang bersama keluarga mereka ke Panti Asuhan tempat mereka dulu dibesarkan.

Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) datang kembali ke Panti Asuhan setelah pemimpin Panti Asuhan tersebut sakit keras dan sepertinya tak lama lagi akan meninggal. Pada awal cerita mereka seolah khawatir akan nasib Panti Asuhan tersebut setelah pemimpinnya meninggal. Apalagi Panti tersebut terletak di tempat yang sangat terpencil. Bagaimana nanti nasib anak-anaknya nanti?

Dibalik semua itu, sebenarnya Hanif, Jefri dan Anton menyimpan sebuah rahasia kelam yang pernah terjadi di Panti tersebut. Sebuah rahasia yang tanpa mereka sadari, dapat mengancam keselamatan semua orang yang ada di sana. Padahal Hanif sendiri datang bersama istri dan ketiga anaknya. Jefri dan Anton pun datang bersama istri mereka masing-masing. Selain itu, Panti Asuhan tidaklah dalam keadaan kosong, terdapat 4 anak panti yang bertugas menyambut Anton dan kawan-kawan. Sementara anak-anak panti lainnya sedang Tamasya naik Bus ke luar daerah.

Teror datang silih berganti menghantui semua orang yang sedang ada di dalam Panti Asuhan tersebut. Semuanya terkait praktek ilmu hitam yang kejam. Siapa dan kenapa? Ok, sejauh ini kalau saya hitung terdapat 12 karakter yang keamanannya terancam. Pertanyaannya, apakah semua karakter-karakter tersebut cukup penting bagi cerita film ini? Sayangnya tidak. Saya rasa Ratu Ilmu Hitam (2019) seolah menampilkan banyak karakter untuk membuat penonton kesulitan menerka-nerka siapa biang keladi dari petaka yang terus berdatangan. Padahal banyak dari karakter-karakter tersebut yang saya sendiri tak ingat namanya. Kalaupun beberapa karakter tersebut tewas, yaaaa sudah tewas saja, kurang penting sih :’D.

Tetap patut saya akui, misteri yang dihadirkan memang membuat saya penasaran sampai akhir film. Meskipun jalan menuju akhir film ini penuh dengan adegan yang agak sadis dan menjijikan. Sisi positifnya, semua adegan sadis tersebut dihadirkan dengan sangat halus dan terlihat nyata. Sisi negatifnya, yaaa saya pribadi kurang suka dengan film-film horor yang menampilkan banyak adegan sadis nan menjijikkan atau sering disebut adegan gory.

Bisa dibilang film-film seperti ini memang menjadi ciri khas dari beberapa karya Kimo Stamboel sebagai sutradara film ini. Dipadukan dengan misteri ala Joko Anwar sebagai penulis Ratu Ilmu Hitam (2019), film ini cukup menghibur walaupun saya kurang suka dengan unsur gory pada film ini. Selain itu bagian akhirnya terasa terlalu cepat dan sederhana. Ratu Ilmu Hitam (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jelas Ratu Ilmu Hitam (2019) jauh lebih berkualitas dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang hadir hanya dengan memamerkan aurat wanita, efek murahan dan plot cerita yang berlubang dimana-mana x_x. Semoga perfilman Indonesia dapat terus maju dan menelurkan film-film berkualitas lainnya.

Sumber: http://www.rapifilms.com/page/detail/425/ratu-ilmu-hitam

Joker (2019)

Mendengar nama Joker, tentunya saya langsung teringat akan tokoh supervillain yang sangat terkenal sebagai lawannya Batman. Joker sudah berkali-kali berganti wajah, mulai dari ketika diperankan oleh Cesar Romero, Mark Hamil, Zach Galifianakis, Jack Nicholson, Heath Ledger sampai Jared Leto. Pergantian ini mengikuti film layar lebar dan film seri Batman yang sudah beberapa kali di-reboot dan hadir dalam berbagai media. Jadi, sudah bertahun-tahun, kehadiran karakter Joker,, bergantung pada Batman. Baru pada tahun 2019-lah tokoh Joker memperoleh panggung yang lebih besar. Melalui Joker (2019), Joaquin Phoenix memperoleh kesempatan untuk memerankan seorang Arthur Fleck yang perlahan-lahan berubah menjadi Joker.

Arthur adalah seorang komedian dan badut yang kerap mendapatkan kemalangan di tengah-tengah kondisi Kota Gotham di era 80-an yang penuh ketidakadilan. Di mata Arthur, semua pejabat, politikus dan pengusaha di Gotham, sama sekali tidak mempedulikan kondisi sosial Gotham yang semakin terpuruk. Diperparah dengan gangguan kejiwaan yang Arthur alami, ia semakin hari semakin berani melakukan tindak kekerasan.

Tindakan kekerasan yang Arthur lalukan, selalu berawal dari perbuatan buruk orang-orang di sekitar Arthur. Saya pribadi merasa bahwa pembunuhan yang pertama kali Athur lakukan memang masih wajar. Namun yang kedua, ketiga dan seterusnya, tidak membuat Arthur nampak sebagai orang baik. Saya kurang setuju dengan ungkapan bahwa orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Setelah melihat Joker (2019), saya semakin yakin bahwa orang baik adalah orang yang mampu untuk tetap menjadi baik walaupun tersakiti.

Dari segi cerita, tema Joker (2019) terlalu berat bagi anak-anak. Tentunya ini bukanlah film superhero yang pantas ditonton oleh semua umur. Terdapat beberapa adegan kekerasan dan saya sama sekali tidak melihat kelucuan pada film ini meskipun tokoh utamanya adalah seorang badut. Singkat kata Joker (2019) merupakan film tentang orang gila yang berprofesi sebagai badut. Latar belakangnya adalah latar belakang Gotham ketika Bruce Wayne atau Batman masih kecil. Namun kali ini Bruce Wayne hanya mendapatkan porsi yang kecil sekali. Sekarang giliran Joker yang tampil di atas panggung :).

Pada film ini, penonton diajak menyelami pikiran Arthur yang sering mengalami delusi. Pikiran Arthur membuat ia mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi di dunia nyata. Hal inilah yang membuat Joker (2019) penuh dengan keambiguan. Penonton dibiarkan menerka-nerka kejadian manakah yang nyata, dan kejadian manakah yang hanya khayalan Arthur saja. Semua berhasil ditampilkan dengan sangat rapi dan memukau.

Joker (2019) memang mampu menampilkan sebuah tontonan yang memberikan berbagai hal yang menarik untuk dibahas. Tapi sayang, bagi saya pribadi, film ini kadang nampak terlalu bertele-tele dan sangat “drama”. Olehkarena itu saya pribadi memberikan Joker (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ingat, jangan bawa anak-anak untuk menonton Joker (2019), ini bukan film superhero! :).

Sumber: http://www.jokermovie.net

Bloodshot (2020)

Bloodshot adalah tokoh superhero pada buku komik keluaran Valiant Comics yang sudah hadir sejak 1992. Saya sendiri belum pernah membaca Valiant Comics, popularitas penerbit yang satu ini tentunya berada di bawah Marvel Comics dan DC Comics. Tapi Valiant Comics bersama dengan Bloodshoot memiliki komunitas penggemarnya sendiri yang agak kaget ketika mengetahui bahwa Bloodshot akan diangkat ke layar lebar.

Pada versi komiknya, Bloodshot dikisahkan sebagai tentara super dengan darah yang mengandung robot super kecil berukuran nano. Robot-robot tersebut membuat Bloodshot menjadi super kuat, mampu menyembuhkan diri sendiri, mampu berinteraksi langsung dengan berbagai super komputer dan lain sebagainya. Metode yang Bloodshot lakukan terbilang sadis dan penuh darah. Bagaimana mungkin karakter seperti ini masuk ke layar lebar?

Penyesuaian tentunya dilakukan di mana-mana sehingga Bloodshot (2020) tidak menampilkan adegan yang sangat sadis apalagi gory. Kemampuan Bloodshot atau Ray Garrison (Vin Diesel) pada Bloodshot (2020) sebenarnya tak jauh berbeda dengan versi komiknya. Setelah disergap, disekap dan dibunuh oleh beberapa orang misterius, Ray kembali hidup dengan robot-robot nano di dalam darahnya. Seketika pula Ray dapat menyembuhkan dirinya sendiri, menjadi super kuat dan dapat langsung berinteraksi dengan satelit dan berbagai teknologi canggih lainnya. Nah, mirip sekali dengan komiknya bukan? Hanya sadisnya saja kok yang dikurangi :). Yah tapi para penggemar komik Bloodshot tetap kecewa karena perbedaan ini. Selain itu motivasi hidup Bloodshot pun dinilai agak melenceng.

Baik, kita masuk ke dalam tujuan hidup Bloodshot. Pada Bloodshot (2020) tujuan hidup Bloodshot nampaknya dipacu oleh tragedi yang dialami oleh istrinya. Padahal pada versi komiknya, ikatan atara Bloodshot dan anaknya nampak lebih penting ketimbang apapun. Yah memang sih, motivasi terkait anak tentunya akan lebih mengharukan dan memberikan warna di tengah-tengah ingatan Bloodshot yang agak kabur.

Bloodshot sendiri tidak tahu ingatan mana yang benar dan mana yang salah. Kekuatan Bloodshot memang besar, tapi ia mengalami lupa ingatan sehingga semuanya bisa saja salah atau benar. Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang cukup menghibur karena saya belum menonton trailer Bloodshot (2020) sebelum menonton filmnya :’D. Wow, kenapa trailernya? Trailer dari Bloodshot (2020) merupaka blunder karena trailer tersebut membocorkan inti cerita Bloodshot (2020) beserta semua adegan aksi terbaik pada Bloodshot (2020).

Memang apa sih adegan terbaik Bloodshot (2020)? Tentunya adegan dimana Bloodshot menunjukkan kemampuan robot nano di darahnya. Itu saja sudah dtampilkan pada trailernya. Sisanya hanya adegan aksi superhero yang terlihat standard untuk film keluaran 2020, agak mengecewakan. Apalagi Vin Diesel sepertinya gagal memberikan keunikan bagi karakter Bloodshot. Vin Diesel memerankan Bloodshot seperti ketika ia memerankan karakter Dominic Toretto pada franchise Fast & Furious.Bloodshot (2020) sudah seperti kisah ketika Dominic Toretto berhenti balapan liar dan berubah menjadi superhero :’D.

Ahhh, saya pribadi tidak terlalu masalah dengan perbedaan antara versi komik denga versi filmnya. Jalan cerita terkait ingatan Bloodshot, cukup menghibur bagi saya yang tidak menonton trailer Bloodshot (2020). Adegan aksi Bloodshot lumayan baguslah meski sebagian besar terlihat agak basi ya. Dengan demikian, Bloodshot (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya” Lumayan”. Jangan tonton spoiler Bloodshot (2020), spoiler alert. Nah kalau terlanjur menonton spoilernya bagaimana? Tontonlah film yang lain, dari trailerny saja sudah terlihat jalan ceritanya akan dibawa ke arah mana :(.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/bloodshot

 

1917 (2019)

Perang Dunia I yang terjadi antara 1914 sampai 1918 merupakan peristiwa besar yang sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Setelah beberapa kali membesut film James Bond, Sam Mendes kali ini berusaha mengakat sejarah kelam tersebut dalam 1917 (2019). Film ini mengambil latar belakang peperangan di wilayah Prancis pada bulan April 1917. Pada saat itu wilayah Utara Prancis sudah diduduki oleh pasukan Jerman. Pasukan Inggris datang ke dalam wilayah tersebut untuk membantu Prancis memukul mundul Jerman.

Pada suatu pagi yang cerah, Kopral William “Will” Schofield (George MacKay) & Kopral Thomas “Tom” Blake (Dean-Charles Chapman) dari Angkatan Darat Inggris, mendapat perintah penting dari Jendral mereka. Tom dan Will ditugaskan untuk menyampaikan sebuah pesan penting kepada 1 Batalion Inggris yang sedang memukul mundur pasukan Jerman masuk terus ke dalam wilayah Utara Prancis.

Berdasarkan pengamatan dari udara, pasukan Jerman sudah menyiapkan jebakan bagi Batalion Inggris tersebut. Pesan berupa perintah untuk mundur, harus cepat Will dan Tom sampaikan agar korban jiwa di pihak Inggris dapat dihindarkan.

Perjalanan Tom dan Will tidaklah mudah karena mereka harus menyusup ke dalam medan perang hanya berdua saja. Tidak ada pasukan lain yang ditugaskan mengawal mereka. Di sana, Tom dan Will dihadapkan kepada realita kejamnya perang. Betapa banyaknya kehidupan yang dirusak oleh perang yang mereka hadapi. Perjalanan mereka pun menunjukkan bahwa tentara itu hanya manusia biasa yang punya rasa takut dan belas kasihan.

Sebenarnya hal di atas cukup klise dan sudah ditampilkan oleh berbagai film perang. Jalan ceritanya pun sebenarnya sangat sederhana. 2 prajurit pergi menembus medan perang untuk mengantarkan sebuah pesan. Tidak ada plot twist dan tidak ada pula tokoh antagonis utama pada 1917 (2019). Lalu apa yang membuat film ini berbeda?

1917 (2019) memiliki visual yang sangat indah karena ditampilkan dengan menggunakan 2 long continuous shot. Jadi penonton dibuat seolah terus mengikuti pergerakan tokoh utama tanpa terpotong. Melihat 1917 (2019) terkadang seperti melihat video game tipe FPS (First-Person Shooter) dengan gambar yang sangat nyata :D. Visual memang menjadi nilai plus film perang yang satu ini. Tapi bagaimana dengan ceritanya?

Terlepas dari visualnya yang keren, ada beberapa bagian dari 1917 (2019) yang terbilang menegangkan. Tapi ada pula bagian yang temponya terlampau lambat dan sedikit membosankan. Akibat penggunaan long continuous shot, maka kadang saya merasa bosan melihat film ini dari 1 sudut pandang saja. Bagi saya pribadi, jalan ceritanya tidak terlalu berhasil memikat penontonnya. Adegan aksinya pun terbilang biasa saja.

Maka, saya rasa 1917 (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. 1917 (2020) lebih menyenangkan bila ditonton di layar lebar dengan cahaya yang gelap. Sebaiknya jangan menonton film ini di smartphone yang berlayar kecil.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/1917

Serial Fancy Nancy Clancy

Film kartun yang hendak saya bahas kali ini adalah Fancy Nancy Clancy yang diproduksi oleh Disney berdasarkan buku anak-anak karangan Jane O’Connor. Tokoh utamanya adalah 2). Ia tinggal bersama ayah, ibu dan adiknya. Dari pakaian dan sifat, Nancy memang sangat berbeda, ia adalah anak paling centil dan tampil paling elegan di rumahnya. Bahkan ibu dan adiknya menggunakan baju yang sederhana dan itu-itu saja. Sementara Nancy selalu menggunakan berbagai atribut girly di mana-mana. Nancy pun selalu hadir dengan berbagai ungkapan berbahasa Prancis seperti merci, oui, uuh la la. Terkadang ia berbicara sambil menghadap ke arah penonton dengan centilnya.

Β 

Selain tampil elegan dan centil, Nancy memiliki kreatifitas yang tinggi, daya imajinasi yang tinggi dan semangat yang besar. Sifat-sifat Nancy inilah yang membuat setiap episode Fancy Nancy Clancy penuh warna. Kisah-kisahnya memberikan beberapa pelajaran tapi agak berbeda dengan beberapa serial anak lainnya dimana tokoh utama biasanya digambarkan sebagai tokoh yang relatif netral dan bijak. Nah, Nancy tampil lebih membumi dan realistis. Ia hadir dengan segala kelemahannya sebagai anak kecil pada umumnya. Sifat egois, sombong dan tak mau kalah kadang membuat Nancy terlibat dalam berbagai masalah. Masalah yang yang pada akhirnya dapat terselesaikan dengan berbagai kelebihan yang Nancy miliki. Di sini, Nancy pun nampak belajar dari berbagai kesalahan yang ia buat.Β 

Selain itu, Fancy Nancy Clancy tampil dengan animasi yang bagus dan tidak terlalu condong ke arah warna yang sangat pinky atau ungu. Jadi penampilan dan komposisi warna cukup halus, seimbang dan masih dapat ditonton oleh anak laki-laki.

Secara keseluruhan, Fancy Nacy Clancy layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya pribadi masih dapat menikmati film seri anak yang satu ini. Ceritanya tidak membosankan bagi orang dewasa, dan tetap dapat memberikan nilai positif bagi anak-anak.

Sumber: http://www.fancynancyworld.com