Serial Moon Knight

Pada awal tahun ini, Marvel memperkenalkan satu karakter superhero lagi melalui serial Moon Knight. Dewa-dewi Mesir kuno menjadi bagian yang tak terpisahkan dari serial ini. Moon Knight sendiri pada dasarnya adalah avatar dari Khonsu, salah satu dewa Mesir kuno. Khonsu memiliki ambisi untuk menumpas segala kejahatan yang ada. Ia hanya dapat melakukan aksinya melalui seorang avatar. Pada serial ini, dewa-dewi Mesir kuno memiliki avatar. Melalui avatar inilah mereka dapat mengamati, terkadang bahkan dapat ikut campur dalam urusan duniawi. Melalui avatar ini pulalah, para dewa-dewi dapat saling baku hantam ketika terdapat perseteruan diantara mereka.

Yang paling menarik dari serial ini adalah tokoh utamanya mengalami Dissociative Identity Disorder (DID). Ini adalah penyakit mental yang menyebabkan seseorang memiliki kepribadian lebih dari 1. Dalam hal ini, kita memiliki Marc Spector (Óscar Isaac Hernández Estrada) sebagai avatar Khonsu. Pada dasarnya, tubuhnyalah yang menjadi avatar khonsu. Maka, tubuh tersebut dapat memperoleh seperangkat kostum lengkap dengan berbagai kekuatan super dari Khonsu.

Marc bukanlah satu-satunya kepribadian yang ada di dalam tubuh tersebut. Terdapat pula kepribadian-kepribadian lain di sana. Setiap kepribadian memiliki kelebihan dan kekurangan yang mampu saling melengkapi. Kepribadian Marc-lah yang ketika menggunakan kekuatan Khonsu, ia akan berubah menjadi Moon Knight. Sementara itu kepribadian lainnya seperti Steven Grant akan berubah menjadi Mr. Knight. Belum lagi kepribadian lainnya yang akan muncul seiring dengan berjalannya waktu. Sebab di versi komiknya, karakter ini memiliki banyak sekali kepribadian.

Saya sangat terhibur ketika melihat Marc berkomunikasi dengan Khonsu dan kepribadian lainnya. Memang sih seperti melihat orang kurang waras berbicara sendiri. Namun serial ini berhasil membuatnya menjadi sesuatu yang menarik.

Pengambilalihan tubuh oleh kepribadian yang berbeda pun sangat seru untuk diikuti. Adegan aksi nampak keren dengan kostum-kostum superhero yang bukan kaleng-kaleng. Ada tuuuh serial superhero ternama yang tokoh-tokohnya menggunakan kostum dengan topeng-topengan yang …. kurang ok untuk serial keluaran 2021.

Saya rasa Moon Knight sudah pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Setahu saya, Moon Knight merupakan bagian dari MCU (Marvel Cinematic Universe) fase 4. Mungkin di masa depan, karakter ini akan bertemu dengan superhero-superhero Marvel lainnya.

Sumber: http://www.marvel.com

The Batman (2022)

Batman merupakan tokoh superhero yang sangat populer sejak saya kecil. Tak terhitung sudah ada berapa aktor yang memerankan Batman pada film layar lebarnya. Christian Bale adalah salah satu yang terbaik melalui trilogi Batman-nya Christopher Nolan. Kemudian Ben Afflect mengambil alih peran Batman pada proyek DCEU (DC Extended Universe) yang sudah jelas kalah telak melawan MCU (Marvel Cinamatic Universe).

Sepertinya film layar lebar para superhero adan supervillain DC relatif lebih sukses pada film solonya. Apakah The Batman (2022) akan sesukses trilogi Batman-nya Nolan? Kali ini Batman atau Bruce Wayne diperankan oleh Robert Pattinson. Kebetulan film yang mempopulerkan nama Pattinson adalah kelima film Twilight. Oooucch, itu adalah 5 film populer yang kurang saya sukai. Hhhmmmm, inilah yang pada awalnya membuat saya agak ragu dengan The Batman (2022) :(.

Latar belakang The Batman (2022) adalah sekitar 2 tahun setelah Bruce Wayne pertama kali menjadi Batman. Kota Gotham masih dikuasai oleh para penjahat. Seorang Batman terasa kurang banyak untuk membasmi semua ini.

Biasanya, seorang superhero sebesar Batman harus berhadapan dengan penjahat super dengan rencana maha dahsyat. Pada DCEU bahkan sebuah rencana yang dapat menghacurkan dunia. The Batman (2022) lebih memilih kembali ke dasar. Batman yang masih hijau, berhadapan dengan lawan-lawan yang masih baru juga. Tidak ada senjata super canggih di sana. Tidak ada pula kekuatan super yang maha dahsyat di sana. Kostumnya pun relatif sederhana tapi tidak murahan.

Diantara berbagai penjahat kecil yang Batman hadapi, terdapat seorang penjahat yang berani membunuh para pejabat kota. Satu per satu pejabat Gotham dibantai dengan berbagai cara yang unik. Pelaku selalu meninggalkan teka-teki yang harus Batman pecahkan. Semakin lama, Batman semakin dihadapkan kepada berbagai rahasia kotor yang dimiliki berbagai orang berpengaruh di Gotham, … termasuk rahasia keluarga Wayne sendiri.

Alur penyelidikan pada The Batman (2022) terbilang sangat menyenangkan untuk diikuti. Di sini Batman kembali kepada jati dirinya seperti pada awal mula tokoh ini hadir di DC Comics, Batman sebagai detektif. Pada awalnya kisah-kisah pada komik Batman memang memiliki unsur-unsur penyelidikan ala detektif. Hal ini yang terkadang seolah terlupakan dari film-filmnya Batman terdahulu, kecuali trilogi Batman-nya Nolan tentunya.

Kehadiran Pattinson sebagai Batman pun sangat bagus sekali. Bagaimana Batman muncul dan berkelahi, semuanya terlihat keren dan seru. Batman di sini terlihat sangat manusiawi, Pattinson berhasil menunjukkan bahwa Batman juga manusia. Batman bisa merasakan sakit, marah dan ketakutan.

Sedikit kekuarangan dari The Batman (2022) adalah akhirnya ada agak antiklimaks. Namun kalau digali lebih dalam lagi, bagian akhir The Batman (2022) memiliki makna yang dalam. Semua saling berkaitan dan mampu menjadi pembelajaran bagi Batman yang masih hijau.

Saya rasa The Batman (2022) sukses besar menyaingi trilogi Batman-nya Nolan. The Batman (2022) sopasti pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Dengan kualitas sebagus ini, kemungkinan besar film ini akan menelurkan beberapa sekuel lagi. Oh ya, film ini bukan film anak-anak. Adegan sadisnya sih tidak terlalu parah. Hanya saja ceritanya memang lebih pantas ditonton oleh orang dewasa.

Sumber: http://www.thebatman.com

Spider-Man: No Way Home (2021)

Sejak awal abad 21 sampai sekarang, sudah ada 3 versi Spider-Man live action di layar lebar. Spider-Man versi Tobey Maguire, Spider-Man versi Andrew Garfield dan terakhir Spider-Man versi Tom Holland. Terus terang saya kurang suka dengan Spider-Man versi Tobey Maguire sebab di sana terdapat karakter Marry Jane yang menyebalkan. Selain itu kriminalisasi Spider-Man sangat dominan di sana. Sang superhero harus menyelamatkan publik yang membencinya. Yah lebih dramatis sih. Yah memang lebih menggemaskan sih. Tapi lama-lama lelah juga melihatnya. Beruntung kemudian hadir Spider-Man versi Andrew Garfield yang memiliki tokoh kekasih yang lebih baik, serta topik kriminalisasi Spider-Man yang tidak terlalu disorot.

Kemudian, hadir Spider-Man versi Tom Holland yang pada kedua film pertamanya sama sekali tidak membahas kriminalisasi Spider-Man dan memiliki tokoh Marry Jane yang jauh lebih ok. Pada film ketiga Spider-Man versi Tom Holland ini, unsur kriminalisasi Spider-Man mulai dihadirkan kembali.

Ya, Spider-Man: No Way Home (2021) diawali dengan terkuaknya identitas Spider-Man atau Peter Parker (Tom Holland), beserta berbagai fitnah yang tiba-tiba dihembuskan oleh J. Jonah Jameson (J.K. Simmons). Wah dia lagi dia lagi. Ini dia biang keladi kriminalisasi di Spider-Man versi Tobey Maguire. Sekarang tokoh yang sama, diperankan orang yang sama, hadir di Spider-Man versi Tom Holland @_@. Si J. Jonah Jameson ini sering kali berkata, dimana Spider-Man muncul, pasti ada bencana. Well, kalau bagi saya pribadi. Dimana J. Jonah Jameson muncul, pasti saya mulai ragu untuk lanjut menonton atau tidak hehehehe. Pasti akan ada fitnah yang menggemaskan di sana. Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan itu. Pada berbagai film, sudah biasa si tokoh utama terkena fitnah. Hanya saya, saya belum pernah melihat karakter J. Jonah Jameson terkena akibat dari perilakunya. Yah, seperti tidak adil saja. Inipun agaknya sedikit terbukti pada Spider-Man: No Way Home (2021). Yang benar dan yang berhati mulia, belum tentu dihargai.

Akibat berbagai tekanan, Peter Parker atau Spider-Man (Tom Holland) meminta pertolongan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch). Dengan kemampuan sihir tingkat tinggi, Strange berusaha menolong Peter. Namun kegugupan dan keraguan Peter, sukses besar mengacaukan mantra Strange hingga terbukalah pintu menuju dimensi lain. Disinilah semua kekacauan yabg sudah ada, justru semakin kacau.

Film-film MCU seperti Spider-Man: No Way Home (2021) menganut paham multi dimensi. Jadi dunia terbagi ke dalam banyak dimensi dimana pada setiap dimensi bisa saja terdapat Peter Parker lain. Sebagaimana kita ketahui, ada 3 versi film Spider-Man. Nah sekarang ini, Spider-Man (Tobey Maguire) dan Spider-Man (Andrew Garfield) tersedot masuk ke dalam dimensi Spider-Man (Tom Holland). Beberapa lawan utama pada Spider-Man (Tobey Maguire) dan Spider-Man (Andrew Garfield), ikut masuk juga ke dalam dimensinya Spider-Man (Tom Holland). Ini adalah kejutan yang sangat keren. Ada 3 versi Spider-Man yang pada awalnya memiliki film masing-masing. Reboot sudah sering dilakukan oleh film-film Hollywood. Namun baru kali inilah reboot memiliki makna yang sangat besar. Bukan tidak mungkin Marvel Comic akan melakukan ini lagi pada film-film superhero yang pernah mereka reboot.

Kehadiran tokoh-tokoh dari film Spider-Man lain, benar-benar sesuatu hal yang menakjubkan. Ini adalah nilai plus terbesar dari Spider-Man: No Way Home (2021). Saya rasa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skalam maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.spidermannowayhome.movie

Serial The Invincible

The Invincible? Superhero dari universe mana lagi itu? Bukan DC Comics atau Marvel yang menjadi asal The Invincible. Superhero yang satu ini diterbitkan oleh Image Comics, penerbit komik terbesar ketiga di dunia setelah DC dan Marvel. The Walking Dead, Spawn, Kick-Ass dan Jupiter’s Legacy merupakan komik-komik Image Comics yang sudah dari di TV atau Bioskop.

Kali ini The Invincible hadir dalam bentuk serial animasi. Para superhero di sana menggunakan berbagai kostum yang warna-warni. Modelnya pun mengimpilkasikan seolah-olah The Invincible merupakan film anak-anak. Gara animasi yang klasik namun tetap modern, cukup bagus, namun tidak akan menarik bagi anak-anak kecil jaman sekarang. Serial ini memang 100% tidak layak untuk ditonton oleh anak-anak. Dibalik warnaq2 warni kostum superhero-nya, terdapat banyak sekali adegan sadis pada serial ini. Beberapa diantaranya bahkan terlalu menjijikan untuk disaksikan andaikan serial ini bukan serial animasi. Tampil sebagai serial animasi merupakan kelebihan. Dengan demikian, The Invinsible dapat tetap tampil apa adanya tanpa membuat saya jijik.

Sebenarnya bercerita tentang apa The Invincible? Kok bisa sadis? Apa sama dengan Serial The Boys ya? Agak berbeda dengan Serial The Boys. The Invincible sebenarnya tidak sesuram dan segelap Serial The Boys. Masih banyak orang biasa dan superhero baik pada The Invincible. Penonton dibawa mengikuti perjalan sang Invincible atau Mark Grayson (Steven Yeun) dari awalnya belum memiliki kekuatan, sampai pada akhirnya menjadi tumpuan harapan planet Bumi. Kebaikan melawan kejahatan, keluarga dan kemanusiaan menjadi topik yang mendominasi serial ini.

Mark lahir dari rahim seorang manusia biasa. Ibu Mark memang penduduk asli Bumi. Namun ayah Mark berasal dari planet Viltrumite. Ayah Mark menggunakan identitas sebagai Omni-Man (J.K. Simmons) ketika sedang beraksi. Yaaah, Omni-Man ini seperti Superman atau Captain Marvel. Mahluk terkuat di Bumi.

Sebagai separuh keturunan Viltrumite, pada akhirnya Mark pun memiliki kekuatan yang mirip dengan kekuatan ayahnya. Seketika itulah Mark memutuskan untuk menggunakan semua kekuatannya demi kemanusiaan dan kebenaran. Ia menggunakan nama Invincible sebagai nama superhero-nya. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan berbagai superhero dan supervillain. Dunia pada serial ini memang dipenuhi oleh berbagai manusia super dan mahluk mistis, beserta organisasi super misterius. Semua hal yang sudah lazim ada pada komik superhero.

Walaupun agak sadis dan mengangkat topik yang sangat dewasa, saya suka dengan jalan cerita The Invincible. Masalah yang muncul sebenarnya bukan masalah khas superhero yang baru. Hanya saja cara penyampaiannya berhasil dibuat menarik. Gaya animasi yang cenderung lawas, tidak 3D atau modern, tetap mampu menampilkan adegan pertarungan yang seru …. dan tentunya … agak sadis tanpa membuat saya mual :’D. Dengan demikian, The Invincible sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: imagecomics.com

Serial Reacher

Jack Reacher adalah karakter paling terkenal dari novel-novel karya Lee Child. Karakter ini sudah 2 kali hadir di layar lebar melalui Jack Reacher (2012) dan Jack Reacher: Never Go Back (2016). Pada kedua film tersebut, Reacher diperankan oleh Tom Cruise. Reacher selalu dihadapkan oleh kasus yang pada awalnya terlihat menarik. Namun agak hambar dipertengahan. Saya mulai berfikir, apa istimewanya karakter Reacher ini?

Saya tidak mengatakan bahwa Tom Cruise adalah aktor yang buruk. Hanya saja, karakter Reacher versi Tom Cruise jadi agak mirip dengan karakter protagonis di film lain, yang diperankan oleh Tom Cuise. Sebut saja Ethan Hunt pada film-film Mission Imposible. Konon, Reacher di novel agak berbeda dengan Reacher versi Tom Cruise. Ternyata, Reacher di novel, memiliki badan yang tinggi besar. Hal itu pun sangat memungkinkan bagi Reacher untuk melalukan intimidasi terhadap lawan bicaranya. Wah jauh sekali ya dengan Tom Cruise.

Saya rasa, itulah alasan utama mengapa, serial Reacher yang baru tayang, agak berbeda dengan Jack Reacher versi Tom Cruise. Reacher kali ini diperankan oleh Alan Ritchson yang memiliki badan tinggi besar seperti raksasa. Ia pun berhasil membuat karakter Jack Reacher menjadi spesial. Reacher di sini mampu melaluka intimidasi tanpa banyak berbicara. Yah, Reacher di sini memang agak pendiam dan cuek. Namun dibalik semua itu ia memiliki hati yang baik. Serta kepintaran seperti seorang detektif handal.

Kasus yang ditampilkan pada serial Reacher memang nampak klise. Tetap diambil dari novel Lee Child, tapi bukan kisah yang awal ceritanya nampak unik. Yaah seperti cerita pada film-film lain yang pernah saya tonton. Namun, kisah klise ini berhasil menjadi magnet bagi saya. Semakin lama, kisah Reacher semakin menarik dan tidak dapat terlalu ditebak ke mana arahnya. Penampilan Alan Ritchson sebagai Reacher benar-benar menakjubkan. Paling tidak sekarang saya faham, mengapa novel-novel Jack Reacher menjadi andalan sang pengarang.

Selain itu, serial ini memiliki antagonis yang cukup menyebalkan. Jadi, akan sangat memuaskan melihat Reacher mengalahkannya. Penonton dibuat gemas akan sesuatu, dan kegemasan itu terbayarkan pada akhirnya.

Dibandingkan versi layar lebarnya, saya jauh lebih suka dengan Jack Reacher pada serial Reacher. Tentu saja saya ikhlas untuk memberikan Reacher nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.jackreacher.com

Serial Hawkeye

Tahun 2012 ada tahun yang cukup menyenangkan karena pada tahun itulah hadir The Avenger (2012). Beberapa superhero komik Marvel yang terkenal, hadir dalam 1 film. Black Widow (Scarlett Johansson), Hawkeye (Jeremy Renner), Thor (Chris Hemsworth), Iron Man (Robert Downey Jr), Captain America (Chris Evans) & Hulk (Mark Ruffalo) bergabung dan menamakan mereka sebagai Avengers. Mereka bertarung menyelamatkan New York dari serangan mahluk asing.

Bertahun-tahun kemudian, dilakukan peremajaan terhadap superhero-superhero Marvel. Beberapa superhero dikisahkan sudah memiliki semacam pengganti. Sebut saja Captain America melalui The Falcon and the Winter Soldier & Black Widow melalui Black Widow (2021). Kali ini tibalah giliran Hawkeye, anggota Avengers terlemah, menurut saya. Hehehe.

Serial Hawkeye mengambil latar belakang setelah Avengers: Endgame (2019). Semua anggota Avengers awal yang dulu menyelamatkan New York pada 2012 lalu, sudah terpecah. Iron Man dikabarkan gugur mengorbankan dirinya. Captain America memilih untuk pergi ke masa lalu atau dimensi lain untuk hidup damai bersama pujaan hatinya. Hulk mengalami luka yang parah setelah pertarungan sengit melawan Thanos. Thor sibuk berkelana ke galaksi lain bersama Guardians of the Galaxy. Black Widow gugur berkorban demi keselamatan umat manusia.

Natasha atau Black Widow adalah sahabat Hawkeye. Jadi, Hawkeye praktis mengalami trauma setelah Black Widow gugur di depan matanya. Pada saat itu terdapat pilihan antara apakah Black Widow atau Hawkeye yang harus berkorban. Black Widow berkeras agar ia yang berkorban agar Hawkeye dapat kembali berkumpul dengan anak dan istrinya kembali.

Akibat ulah Thanos, Hawkeye memang sempat kehilangan beberapa anggota keluarganya. Hawkeye yang pada saat itu sudah mulai menepi dari kehidupan superhero, kembali lagi namun dalam bentuk yang berbeda. Hawkeye menggunakan kostum lain yang lebih tertutup dan berubah menjadi Ronin. Ronin adalah sisi gelap Hawkeye yang langsung membasmi para penjahat di luar hukum. Yaah, Ronin ini semacam Arrow kalau di DC Comics. Namun saya lebih suka dengan Ronin. Karakter ini nampak lebih keren, gelap dan kuat. Tapi serial Hawkeye tidak akan mengisahkan aksi Hawkeye sebagai Ronin. Melainkan diantaranya mengisahkan konsekuensi dari tindakan ia ketika dulu menjadi Ronin.

Clint atau Hawkeye berusaha menutup semua hal yang dapat mengaitkan dirinya dan keluarganya kepada Ronin. Ia sekarang sudah hidup damai bersama keluarganya. Publik masih mengenali Clint sebagai Hawkeye, anggota Avengers yang sudah berkali-kali menyelamatkan Bumi. Sementara itu Publik termasuk beberapa bos mafia masih bertanya-tanya, siapa dan kemana Ronin menghilang.

Lawan Hawkeye memang bukanlah superhero maha dahsyat seperti Thanos, Loki, atau Ultron. Kelompok kriminal bersenjata menjadi menjadi penghalang Hawkeye pada serial ini. Semua disesuaikan dengan porsinya :’D. Untuk menghasilkan sebuah cerita yang seru, tidak harus menampilkan tokoh antagonis yang super kuat bukan?

Sepanjang film, Hawkeye memang nampak superior dari lawan-lawannya. Sesekali ia kerepotan tapi ini adalah film dimana sangat terlihat bahwa tokoh utamanya akan menang. Hal ini bukan masalah besar sebab, unsur misteri pada serial ini cukup menyenangkan untuk disimak. Jalan ceritanya pun tidak terlalu sederhana dan tidak terlalu kompleks. Tema dan topiknya yang diangkat memang tidak terlalu banyak tapi masih berkaitan dengan petualangan Hawkeye sebagai Avengers di masa lalu.

Praktis, pengorbanan Black Widow dan penghilangan bukti masa lalu Hawkeye sebagai Ronin, adalah bagian penting dari serial ini. Tidak hanya itu, dalam perjalannya, terdapat 2 karakter calon Avengers baru terlibat. Di sana akan hadir Kate Bishop (Hailee Steinfield) dan Yelena Belova (Florence Pugh). Kate adalah Hawkeye baru dan Yelena adalah Black Widow baru. Hawkeye dan Black Widow memang diplot sebagai sahabat, jadi tak heran kalau kisah keduanya akan berkaitan. Namun karena serial Hawkeye memang adalah bagian dari cara Marvel Comics untuk memperkenalkan Hawkeye baru, maka karakter Kate akan hadir sejak awal. Yelena akan muncul dipertengahan serial ini berjalan.

Serial ini adalah cara perkenalan yang sangat baik. Sepanjang serial, penonton semakin diperlihatkan bagaimana, secara tak langsung, Kate mempelajari semua kemampuan Clint. Awal pertemanan antara Hawkeye baru dan Black Widow baru-pun ditunjukkan pada serial ini. Setelah menonton serial Hawkeye, saya tidak lagi menganggap enteng, karakter Avengers yang hanya bersenjatakan panah saja hohoho. Serial Hawkeye sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com

Eternals (2021)

Walau dibintamgi oleh beberapa nama tenar, Eternals (2021) bukanlah film yang masuk ke dalam daftar tonton saya. Film ini merupakan bagian dari MCU (Marvel Cinematic Universe). Maka Eternals ini sebenarnya ada buku komiknya. Sayang saya belum pernah membacanya. Saya agak kurang berminat. Kisah-kisah Eternals ini lebih ke arah pertarungan yang melibatkan ras mahluk asing dan berbau-bau teori penciptaan alam semesta. Jadi para Eternals ini tidak akan bertarung melawan penjahat kelas teri seperti perampok atau pencopet. Mungkin penjahat kelas teroris pun lewat. Penjahat sekelas Thanos saja Eternals acuhkan :P.

Eternals merupakan sekelompok individu dengan kekuatan super yang masing-masing berbeda. Mereka sebenarnya sudah mendarat di Bumi sejak 5000 tahun sebelum masehi. Daerah Mesopotamia berhasil menjadi rumah pertama bagi Eternals. Bahkan konon Gilgamesh, raja legendaris Mesopotamia merupakan seorang Eternals. Sampai abad 21 pun Eternals masih ada di Bumi. Namun kemana saja Eternals selama ini?

Celestial Arishem adalah mahluk kosmik super kuat yang mengirim Eternals ke Bumi. Misi mereka adalah untuk membasmi Deviant, mahluk buas yang memangsa manusia. Mahluk seperti Thanos dan Black Order bukanlah Deviant. Maka Eternals selama ini memilih untuk diam dan membiarkan superhero baru untuk lahir dan berkembang.

Sudah ribuan tahun lamanya Eternals tinggal di Bumi. Belum ada perintah baru selain memburu Deviant. Padahal sudah ribuan tahun pula, tidak ada Deviant baru yang muncul di Bumi. Yang tidak Eternals ketahui adalah, apa rencana atau desain Celestial Arishem bagi Bumi. Sebuah rencana besar yang bukan misteri bagi saya pribadi. Plot seperti ini sudah sering saya saksikan pada film-film seperti ini. Tidak ada kejutan atau misteri lagi di sana.

Belum lagi banyaknya karakter Eternals, tidak menambah nilai plus. Semuanya asing dan gagal membuat saya peduli. Mungkin film sesingkat ini memang tidak akan sempat untuk memberikan latar belakamg yang lengkap bagi seluruh karakter yang ada. Latar belakang beberapa karakter memang ditampilkan melalui alur maju-mundur. Namun kisah ini difokuskan hanya kepada hal-hal yang berkaitan dengan misi utama Eternals dan perintah Celestial Arishem.

Kisah pada Eternals (2021) memang menggunakan alur maju-mundur yang tidak linier. Tapi semuanya diramu dengan sangat baik sehingga tidak membingungkan. Kalaupun ada beberapa bagiam dari Eternals (2021) yang agak membosankan, saya rasa ini bukan karena alur maju-mundur. Film ini memang sangat mudah ditebak dan sangat klise. Biasanya MCU mampu menampilkan sebuah tontonan yang kisahnya atraktif. Kali ini tidak, Eternals (2021) bisa jadi merupakan salah satu film MCU terburuk yang pernah saya tonton.

Humor pada film ini pun terbilang garing kecuali sentilan-sentilan kecil dari Karun Patel (Harish Patel) dan Kingo Sunen (Kumail Najiani). Hanya special effect nya saja yang lumayan ok. Itupun tidak terlalu banyak karena sepanjang film, Eternals (2021) berusaha memberikan alur mengenai kenapa Deviant semakin kuat, dan pertanyaan besar mengenai kepatuhan para Eternals kepada perintah Celestial Arishem. Yah itu-itu saja sih isinya.

Hal yang bagus dari Eternals (2021) adalah film ini tidak segan-segan membunuh beberapa karakter utama mereka yang banyak. Jadi, tidak semua Eternals bertahan hidup sampai akhir film. Paling tidak, pada film ini tidak ada istilah jagoan selalu menang ;).

Saya rasa Eternals (2021) hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Oh iya film ini dengan sangat terbuka menggambarkan percintaan gay. Jadi, ada baiknya penonton dewasa mendampingi penonton cilik atau remaja ketika menonton film ini.

Sumber: http://www.marvel.com

The Matrix Resurrection (2021)

Sebagai penggemar The Matrix (1999), saya tentunya langsung memasukan The Matrix Resurrection (2021) ke dalam daftar tonton saya. Setelah The Matrix Reloaded (2003) & The Matrix Revolutions (2003), praktis tidak ada lagi sekuel film layar lebar The Matrix (1999) yang hadir. Saya sendiri sebenarnya sedikit kecewa dengan The Matrix Reloaded (2003) & The Matrix Revolutions (2003) yang tidak sebagus The Matrix (1999). Jadi, saya tidak terlalu berharap banyak dengan The Matrix Resurrection (2021). Toh kedua sekuel The Matrix (1999) memang tidak terlalu istimewa. Tapi yaaa tetap penasaran seperti apa yaaaa Matrix Resurrection (2021)?

Film ini masih mengambil latar belakang dunia digital dimana manusia dijadikan baterai bagi mesin. Para manusia dimasukkan ke dalam kapsul, dibiarkan hidup agar energinya dapat dipanen oleh bangsa mesin untuk terus beroperasi. Selama tertidur, para manusia hidup di dunia digital yang pada awalnya dikendalikan oleh mesin. Manusia seolah dijajah dan dijadikan sapi perah bangsa mesin. Semua berubah ketika Neo (Keanu Reeves) dan Trinity (Carrie-Anne Moss) berhasil menerobos pusat kota bangsa mesin dan membuat perubahan. Mereka tidak ingin membinasakan bangsa mesin. Perdamaian adalah yang berhasil Neo dan Trinity capai kala itu. Paling tidak ini adalah kisah dari The Matrix (1999), The Matrix Reloaded (2003) & The Matrix Revolutions (2003). Bagaimana dengan The Matrix Resurrection (2021) sebagai film keempatnya?

Tanpa diketahui sedang berada di timeline mana atau dunia mana, Neo merupakan seorang pembuat game terkemuka. Karyanya yang terbesar adalah The Matrix. Cepat atau lambat, game besutan Neo akan diangkat ke layar lebar. Neo benar-benar sukses besar sebagai pembuat game. Sementara itu Trinity hidup bersama suami dan anak-anaknya.

Baik Neo maupun Trinity merasakan ada yang kurang dalam hidup mereka. Trinity terus dihantui oleh mimpi-mimpi aneh. Sedangkan Neo mengalami depresi hingga ia pernah mencoba untuk bunuh diri.

Semua nampak janggal hingga pada suatu hari, Morpheus (Yahya Abdul-Mateen II) hadir dan mewarkan Neo untuk bangun dan meninggalkan dunia The Matrix. Ini agak aneh karena pemeran Morpheous kok bukan Laurence Fishburne? Ini bukan karena Fishburne menolak tampil. Tapi karena tuntunan ceritanya, memang penampilan Morpheus harus berbeda. Bagian awal The Matrix Resurrection (2021) memang terbilang menarik. Penonton dibuat bertanya-tanya mengenai keberadaam Neo.

Berikutnya, akan semakin banyak adegan dan latar belakang yang sangat mirip dengan ketiga film Matrix sebelumnya. The Matrix Resurrection (2021) memang benar-benar memberikan nuansa nostalgia bagi penonton ketiga film Matrix sebelumnya.

Sayangnya, Matrix Resurrection (2021) hanua mampu menawarkan nostalgia. Sisanya, praktis tidak ada yang baru dan mengesankan di sana. Ceritanya relatif biasa-biasa saja. Penampilan Keanu Reeves justu mengingatkan saya dengan John Wick dibandingkan Neo-nya The Matrix (1999).

Adegan aksinya pun tidak sebagus film-film pendahulunya. Kombinasi antara ilmu beladiri dengan senjata api seolah hilang digantikan oleh aksi kejar-kejaran kendaraan bermotor yang agak klise.

Saya sangat suka dengan unsur nostalgianya tapu kurang berkesan dengan cerita, karakter dan adegan aksinya. Maka Matrix Resurrection (2021) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skalam maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sepertinya Matrix Resurrection (2021) ingin menjadi tonggak awal dari sebuah franchise. Dengan mencuatnya isu metaverse, sepertinya saat ini memang saat yang tepat untuk menghadirkan film keempat Matrix. Dunia Matrix kurang lebih memang menggambarkan kemungkinan yang mungkin terjadi bila metaverse memang akan berkembang. Tapi dengan awal yang biasa-biasa saja seperti ini, saya agak ragu apakah akan ada film layar lebat Matrix berikutnya.

Sumber: http://www.thematrix.com

No Time to Die (2021)

Terhitung sejak 2006 sampai 2015, sudah lebih dari 15 tahun Daniel Craig memerankan James Bond, agen mata-mata Inggris legendaris karangan Ian Fleming. Sudah banyak aktor-aktor terkenal silih berganti memerankan James Bond, mulai dari Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan dan lain-lain. Masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri. Namun sampai saat ini hanya film-film James Bond era Daniel Craig yang memiliki kesinambungan. Antara 1 film Bond dengan film Bond lainnya memiliki 1 benang merah yang sama.

Hanya saja hal ini terkadang membuat penonton agak kebingungan di awal film. Termasuk saya ketika menonton film terakhir dari James Bond era Daniel Craig, No Time to Die (2021). Padahal saya tidak pernah absen menonton film-filmnya James Bond loh.

Sebagai pengantar, James Bond (Daniel Craig) adalah agen rahasia IM6 dengan kode 007. Ia berkali-kali menyelamatkan dunia dari berbagai tokoh jahat. Ketika dirunut, ternyata semuanya bermuara pada Spectre, sebuah organisasi kriminal yang dipimpin oleh Ernst Stavro Bloveld (Christoph Waltz). Pada film James Bond sebelumnya, Bloveld berhasil ditangkap meskipun M harus gugur dan digantikan oleh M yang lain. M adalah sebutan atau kode bagi pimpinan James Bond di IM6. Setelah ini, Bond pun pensium meninggalkan IM6. Sedangkan Spectre masih tetap berdiri meskipun pimpinan mereka sudah dipenjara.

Untuk urusan asmara, Bond jatuh cinta kepada Vesper Lynd (Eva Green) yang Bond temui pada Casino Royale (2006), film pertamanya Bond versi Daniel Craig. Sayang Vesper tewas, dan hal-hal terkait Vesper selalu ada dalam setiap film Bond era Daniel Craig.

Dengan informasi di atas, maka semua karakter di awal No Time to Die (2021) adalah karakter yang baru diperkenalkan. Ketika saya menonton No Time to Die (2021), saya lupa dengan karakter-karakter pada film Bond sebelumnya. Maka, saya agak kebingungan melihat awal film yang menggunakan 2 kali flashback. Tanpa saya sadari kedua flashback tersebut ternyata merupakan perkenalan dari 2 karakter yang benar-benar baru.

Agak klise dengan berbagai film agen rahasia yang pernah saya tonton. Bond harus kembali menyelidiki sebuah kasus besar setelah sebelumnya ia pensiun dari IM6. Sebuah virus yang sangat berbahaya telah dicuri. Tentunya, di tangan yang salah, virus ini dapat membunuh ratusan atau bahkan ribuan umat manusia. Hilangnya virus ini terkait dengan Spectre, Bloveld dan Vesper. Maka Bond pun kembali beraksi menyelamatkan dunia dari seorang penjahat misterius.

Pada awalnya kelupaan saya mengenai kisah Bond sebelumnya dan hadirnya tokoh antagonis baru ini, berhasil membuat film ini seolah penuh misteri. Sebuah misteri yang membuat saya nyaman untuk mengikuti alur cerita sambil mengingat-ingat siapa saja karakter yang muncul. Entah siapa yang benar-benar berbahaya di sini. Apakah Spectre, IM6 atau sebuah organisasi kriminal baru. Saya akui penghianatan berlapis pada No Time to Die (2021) terbilang menghibur. Ini adalah nilai plus yang sangat besar. Saya suka dengan bagaimana berbagai kejutan hadir pada film ini.

Sayang di pertengahan film, semua terungkap dengan sangat jelas. Seorang tokoh antagonis kehilangan kemisteriusannya hehehehe. Tokoh antagonis yang pada awalnya menjanjikan, kemudian menjadi tokoh antagonis standard. Sekilas ia seolah seperti digambarkan seperti Dr. Julius No pada Dr. No (1962), tokoh antagonis pada film James Bond pertama. Lama kelamaan terlohat bahwa motif penjahat Bond kali ini agak absurd dan kurang menarik. Yaaah begitu-begitu saja.

Tokoh jahat pada No Time to Die (2021) melakukan kesalahan-kesalahan klasik. Ia terlalu banyak berbicara ketika memiliki kesempatan untuk membunuh Bond. Kemudian beberapa adegan aksinya masih seperti film aksi tahun 90-an. Ketika lawan Bond menembak dengan jangkauan yang baik dan jelas, tembakannya meleset. Tapi kalau giliran Bond, …. yah begitulah.

Terlepas dari beberapa kelemahan No Time to Die (2021), saya tetap suka dengan plot yang penuh misteri dengan berbagai kejutan yang tidak saya duga. No Time to Die (2021) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ini merupakan film James Bond terakhir yang diperankan Daniel Craig. Tapi sayang ini bukanlah sebuah film penutup yang spektakuler. Kita tunggu saja, siapa yang akan memerankan James Bond berikutnya.

Sumber: http://www.mgm.com

Venom: Let There Be Carnage (2021)

Ketika masih kecil dulu, saya sering memainkan Spider-Man and Venom: Separation Anxiety di console Sega Mega Drive 2. Sebenarnya, permainan itulah yang memperkenalkan Venom kepada saya. Tak lupa, lawan terakhir permainan tersebut pun ikut memperkenalkan saya kepada Carnage. Begitu Venom: Let There Be Carnage (2021), tentunya film ini lanngsung masuk ke dalam daftar tonton saya.

Carnage sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat mirip dengan Venom. Hanya saja, kali ini Carnage bersimbiosis dengan Cletus Kasady (Woody Harrelson), seorang pembunuh berantai. Dengan demikian Carnage dan Cletus hidup di dalam 1 tubuh yang sama. Baik Carnage mapun Venom, memang merupakan mahluk luar angkasa yang membutuhkan inang atau tubuh manusia untuk hidup. Carnage sendiri lahir dari ketika bagian dari Venom tercampur dengan darah Cletus melalui gigitan. Terlahir dan hidup di dalam tubuh seorang pembunuh berantai melahirkan seorang Carnage yang kejam dan tega berbuat apa saja tanpa batasan apapun.

Sangat jauh berbeda dengan Venom yang hidup di dalam tubuh Eddie Brock (Tom Hardy). Eddie memang tidak ramah atau baik hati seperti Peter Parker. Namun, Eddie maih memiliki moral dan kebaikan jauh di dalam lubuk hatinya. Hal inilah yang membuat Venom terpengaruh untuk membatasi diri dari berbuat semena-mena. Venom selalu lapar dan haus akan daging dan darah manusia. Selama ini, Eddie selalu menahan Venom dari berbuat kejam. Ia bahkan berusaha mengganti hidangan makan malam Venom dari manusia menjadi ayam atau coklat.

Lama kelamaan Venom merasa bahwa Eddie membelenggunya. Bila terus menerus bersama dengan Eddie, Venom tidak dapat menjadi diri sendiri. Eddie sendiri sudah muak dengan berbagai kekacauan yang Venom lakukan. Padahal tanpa Venom dan Eddie sadari, mereka memang saling membutuhkan satu sama lain. Hubungan benci tapi sayang inilah yang menjadi inti dari Venom: Let There Be Carnage (2021).

Eddie dan Venom pun berusaha memperbaiki hubungan mereka ketika Cletus dan Carnage memburu Eddie. Ternyata Eddie adalah reporter yang bertanggung jawab dalam menyingkap lokasi para korban dari kekejaman Cletus. Tak lupa Cletus dan Carnage dibantu pula oleh Frances Barrison / Shriek (Naomie Harris). Walau nampak seperti 2 lawan 1, sebenarnya duo Venom dan Eddie jauh lebih kuat bila mereka bisa bersatu.

Komedi segar antara Eddie dan Venom, menghiasi jalannya film ini. Semua hadir disaat yang tepat sehingga Venom: Let There Be Carnage (2021) berhasil membuat saya tertawa beberapa kali. Akting Tom Hardy dalam memerankan Eddie yang praktis banyak berbicara sendiri, sunggu prima dan menonjol. Saya sadar betul bahwa formula ini sudah pernah dilakukan pada Venom (2018). Tapi saya masih tetap menikmatinya dan sama sekali tidak merasa bosan.

Jalan cerita yang mudah ditebal dan akhir yang sudah jelas terlihat pun, seolah tidak membuat film ini menjadi membosankan. Eddie pada semesta yang satu ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan Eddie pada semesta Trilogi Spider-Man versi Sam Raimi yang hadir pada tahun 2007 lalu.

Saya ikhlas untuk memberikan Venom: Let There Be Carnage (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Akibat film pertama dan kedua Venom sukses di pasaran, kabarnya akan ada film kerita Venom yang melibatkan Multiverse. Konon pada akhirnya Venom akan kembali bertemu dengan Spider-Man. Wah, kemungkinan saya akan menonton kerjasama Venom dan Spider-Man seperti permainan yang saya mainkan di console e Sega Mega Drive 2 dahulu kala ;).

Sumber: http://www.venom.movie