The Bad Guys (2022)

The Bad Guys (2022) merupakan film animasi terbaru dari DreamWorks. Sesuai judulnya, film ini mengisahkan sekelompok penjahat profesional yang bernama The Bad Guys. Masing-masing anggota memiliki kelebihan dan peranan tertentu dalam melancarkan aksinya.

Semua terasa mudah sampai The Bad Guys berusaha mencuri piala Golden Dolphin Awards. Beberapa penjahat ternama sudah merasakan pahitnya kegagalan ketika berusaha mencuri piala ini. Satu diantaranya bahkan sampai menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.

Rintangan The Bad Boys kali ini bukan hanya jeruji besi. Melainkan perubahan hati para anggotanya. Kawanan penjahat ini berpura-pura menjadi penjahat yang insyaf demi mencuri piala Golden Dolphin Awards. Lama kelamaan tanpa mereka sadari, berbuat baik itu ternyata menyenangkan.

Perubahan sosok jahat menjadi sosok baik memang sudah banyak sekali diangkat oleh film-film lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa pesan moral The Bad Guys (2022) memang berhubungan dengan itu. Seorang penjahat kelas dapat berubah menjadi menjadi seseorang yang baik dan berhenti melakukan kejahatan.

Hanya saja, The Bad Guys (2022) menyampaikan pesan moral tersebut dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Jalan ceritanya penuh lika-liku, namun tidak membingungkan. Akhir ceritanya yah memang jelas bisa ditebak. Tapi pertengahan ceritanya benar-benar penuh kejutan.

Ditambah dengan gaya animasi yang halus dan unik, The Bad Guys (2022) semakin nyaman untuk ditonton. Grafik 2D dengan gaya tulisan tangan di mana-mana memang menjadi trend baru bagi berbagai film animasi berbudget besar.

Saya suka dengan visual, pesan moral dan kisah dari The Bad Guys (2022). Film ini sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Kisah yang diadaptasi dari buka anak-anak karangan Aaron Blabey ini, kemungkinan akan menelurkan sekuel. Kita tunggu sajaaa ;).

Sumber: http://www.thebadguysmovie.ca

Turning Red (2022)

Pada awal tahun 2022, Walt Disney kembali menelurkan sebuah film animasi. Apakah akan ada putri baru kali ini? Jawabnya antara ya dan tidak. Turning Red (2022) mengambil latar belakang kota Toronto di Kanada pada tahun 2002. Bukan di zaman kerajaan yaaa.

Tokoh utamanya adalah Meilin “Mei” Lee (Rosalie Chiang), seorang remaja keturunan Tionghoa yang tinggal di Kanada. Mei memiliki banyak sahabat. Ia memiliki kepribadian yang supel dan mudah berteman. Yang Mei tidak sadari adalah ternyata ia adalah keturunan dari seorang bangsawan Tiongkok.

Hal ini memberikan Mei sebuah kekuatan sekaligus kutukan. Tergantung bagaimana kita memandangnya. Pada kondisi tertentu semua wanita yang berada di satu garis keturunan dengan Mei, dapat berubah menjadi seekor panda merah raksasa.

Perubahan wujud inilah yang menjadi topik utama Turning Red (2022). Mei harus belajar untuk beradaptasi dengan kondisinya. Tidak hanya Mei, ternyata ibu Mei pun ternyata masih menghadapi masalah kurang lebih sama. Dalam perjalanannya permasalahn terkait hubungan ibu dan anak pun ikut terpecahkan.

Terdapat bagian mengharukan pada bagian akhir film. Sayang alur ceritanya agak membosankan dan klise. Kelebihan dari Turning Red (2022) adalah pada karakter Mei yang energik. Tanpanya, film ini akan sangat hambar. Secara keseluruhan, Turning Red (2022) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: movies.disney.com

Serial The Invincible

The Invincible? Superhero dari universe mana lagi itu? Bukan DC Comics atau Marvel yang menjadi asal The Invincible. Superhero yang satu ini diterbitkan oleh Image Comics, penerbit komik terbesar ketiga di dunia setelah DC dan Marvel. The Walking Dead, Spawn, Kick-Ass dan Jupiter’s Legacy merupakan komik-komik Image Comics yang sudah dari di TV atau Bioskop.

Kali ini The Invincible hadir dalam bentuk serial animasi. Para superhero di sana menggunakan berbagai kostum yang warna-warni. Modelnya pun mengimpilkasikan seolah-olah The Invincible merupakan film anak-anak. Gara animasi yang klasik namun tetap modern, cukup bagus, namun tidak akan menarik bagi anak-anak kecil jaman sekarang. Serial ini memang 100% tidak layak untuk ditonton oleh anak-anak. Dibalik warnaq2 warni kostum superhero-nya, terdapat banyak sekali adegan sadis pada serial ini. Beberapa diantaranya bahkan terlalu menjijikan untuk disaksikan andaikan serial ini bukan serial animasi. Tampil sebagai serial animasi merupakan kelebihan. Dengan demikian, The Invinsible dapat tetap tampil apa adanya tanpa membuat saya jijik.

Sebenarnya bercerita tentang apa The Invincible? Kok bisa sadis? Apa sama dengan Serial The Boys ya? Agak berbeda dengan Serial The Boys. The Invincible sebenarnya tidak sesuram dan segelap Serial The Boys. Masih banyak orang biasa dan superhero baik pada The Invincible. Penonton dibawa mengikuti perjalan sang Invincible atau Mark Grayson (Steven Yeun) dari awalnya belum memiliki kekuatan, sampai pada akhirnya menjadi tumpuan harapan planet Bumi. Kebaikan melawan kejahatan, keluarga dan kemanusiaan menjadi topik yang mendominasi serial ini.

Mark lahir dari rahim seorang manusia biasa. Ibu Mark memang penduduk asli Bumi. Namun ayah Mark berasal dari planet Viltrumite. Ayah Mark menggunakan identitas sebagai Omni-Man (J.K. Simmons) ketika sedang beraksi. Yaaah, Omni-Man ini seperti Superman atau Captain Marvel. Mahluk terkuat di Bumi.

Sebagai separuh keturunan Viltrumite, pada akhirnya Mark pun memiliki kekuatan yang mirip dengan kekuatan ayahnya. Seketika itulah Mark memutuskan untuk menggunakan semua kekuatannya demi kemanusiaan dan kebenaran. Ia menggunakan nama Invincible sebagai nama superhero-nya. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan berbagai superhero dan supervillain. Dunia pada serial ini memang dipenuhi oleh berbagai manusia super dan mahluk mistis, beserta organisasi super misterius. Semua hal yang sudah lazim ada pada komik superhero.

Walaupun agak sadis dan mengangkat topik yang sangat dewasa, saya suka dengan jalan cerita The Invincible. Masalah yang muncul sebenarnya bukan masalah khas superhero yang baru. Hanya saja cara penyampaiannya berhasil dibuat menarik. Gaya animasi yang cenderung lawas, tidak 3D atau modern, tetap mampu menampilkan adegan pertarungan yang seru …. dan tentunya … agak sadis tanpa membuat saya mual :’D. Dengan demikian, The Invincible sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: imagecomics.com

The Croods: A New Age (2020)

The Croods (2013) mengisahkan keluarga Crood yang hidup di jaman prasejarah. Keluarga ini hidup di dalam gua dengan menggunakan cara-cara lama. Cara ini dianggap ampuh mempertahankan kehidupan mereka di tengah-tengah berbagai bencana alam. Paling tidak, itulah keyakinan Grug Crood (Nicholas Cage) sebagai kepala keluarga.

Kemudian hadir seorang remaja pria bernama Guy (Ryan Reynolds). Guy tampil dengan wujud menyerupai manusia modern. Ia hadir dengan berbagai ide baru. Ia bahkan mengatakan bahwa ada sebuah tempat di luar sana yang seperti surga bagi manusia. Sebuah tempat yang lebih aman dan lebih baik daripada gua yang keluarga Croods tempati. Melalui serangkaian konflik dan bencana alam maha dahsyat. Keluarga Croods akhirnya keluar dari gua mereka dan hidup berpindah-pindah dengan hewan piaraan mereka.

Kisah The Croods (2013) pun berlanjut pada The Croods: A New Age (2020). Walaupun agak berbeda, Guy sudah menjadi bagian dari keluarga Croods. Ia bahkan menjalin percintaan dengan Eep Crood (Emma Stone), putri sulung Grug Crood. Timbul ketakuan di dalam diri Grug. Ia khawatir kehilangan putri kesayangannya bila Eep dan Guy pergi membangun keluarga baru. Sejak dulu, Grug memang kurang suka dengan perubahan. Padahal dengan pola hidup yang terus berpindah-pindah, Grug tentunya akan menemukan berbagai hal baru.

Sebuah hal baru yang kemungkinan besar akan mengubah kondisi keluarga Croods, adalah ketika pada suatu hari mereka menemukan sebuah tembok. Dibalik tembok tersebut, mereka menemukan sebuah wilayah seperti yang Guy ceritakan pada saat ia pertama kali datang.

Di sana, tinggal keluarga Betterman yang memiliki ciri fisik seperti Guy. Keluarga ini berhasil mengembangkan berbagai teknologi untuk menciptakan kehidupan yang lebih nyaman. Wilayah yang keluarga Betterman kelola memang nampak seperti surga bagi manusia prasejarah.

Sayangnya, dibalik semua itu, keluarga Betterman memiliki niat buruk untuk mengambil Guy dari Croods. Mereka ingin mengusir Grug dan keluarganya, namun mereka ingin Guy tetap tinggal dan menikahi anak perempuan mereka. Saya pikir ini akan menjadi kisah cinta segitiga. Walaupun potensi itu ada, aaahhh ternyata tidak. Syukurlah cerita film ini tidak dibawa ke arah sana. Kisah cinta-cintaan bukanlah fokus utama The Croods: A New Age (2020).

Film ini lebih banyak menceritakan mengenai persatuan dan kekompakan sebuah keluarga. Ditengah-tengah lingkungan yang baru, apakah keluarga Croods tetap bersatu. Begitu pula dengan keluarga Betterman yang ternyata memiliki kekurangan juga.

Praktis tidak ada tokoh antagonis pada film ini. Keluarga Betterman pun tidak nampak jahat. Mekipun memiliki niat kurang baik, mereka tidak tampil sebagai tokoh jahat. Semua hanya karena perbedaan cara hidup dan pola pikir saja.

Sekilas, kisah The Croods ini agak mirip dengan serial The Flintstones ya. Ah itulah yang membuat saya agak telat menonton film ini. Pada dasarnya saya kurang suka dengan The Flintstones. Ternyata The Croods: A New Age (2020) mengambil tema yang lebih serius, namun tetap dengan selingan humor di tengah cerita. Sayangnya ada beberapa bagian cerita yang klise dan membosankan.

Secara keseluruhan, film ini mampu memberikan hiburan ringan dengan pesan moral yag baik. The Croods: A New Age (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sekuel ini tetap lebih menarik ketimbang pendahulunya, yaitu The Croods (2013).

Sumber: http://www.dreamworks.com

Serial Masters of the Universe: Revelation

He-Man adalah salah satu tokoh film yang saya ingat. Perawakannya yang seperti barbarian berotot masih ada di ingatan saya. Tapi semua hanya sebatas itu saja. Saya terlalu kecil ketika He-Man ditayangkan di TVRI. Paham ceritanya saja tidak, yah pokoknya nonton film kartun yang jagoannya pakai pedang hehehe.

Saya menonton He-Man di TVRI pada tahun 90-an. Padahal sebenarnya film seri animasi ini sudah populer sejak tahun 80-an. Kemudian judulnya bukan He-Man saja, melainkan He-Man and the Masters of Universe. Pada awalnya He-Man adalah action figure produksi Mattel. Desainnya diilhami oleh Conan the Barbarian karangan Robert E. Howard. Kemudian berbagai mahluk di sekitar He-Man diambil dari Trilogi Star Wars.

Penerbitan komik dan film seri animasi He-Man and the Masters of Universe pada dasarnya dipergunakan untuk menunjang penjualan mainannya. Yaaah mirip seperti Barbie. Kepopuleran film animasinya membuahkan sebuah film layar lebar yang dibintangi Dolph Lundgren, yaitu Masters of the Universe (1987). Wah saya ingat sekali, saya pernah menonton film ini di rumah saudara saya. Maklum saya tidak pernah memiliki mesin pemutar video di rumah.

Tak hanya film latar lebar, He-Man and the Masters of Universe bahkan berhasil menelurkan spinoff seperti She-Ra: Princess of Power pada era tahun 80-an. Bertahun-tahun kemudian, saya justru menonton reboot dari She-Ra: Princess of Power yang hadir pada 2018, yaitu She-Ra and the Princess of Power. Hadir dengan grafik kekinian yang penuh warna, serial ini terbilang menarik untuk ditonton.

Agak berbeda dengan She-Ra, kisah He-Man justru hadir kembali pada He-Man and the Masters of Universe pada 2002 dan 2021. Keduanya belum saya tonton karena sepertinya akan mengisahkan perseteruan He-Man dan Skeletor saja. Agak bosan ya, tidak ada hal yang baru.

Serial Masters of the Universe: Revelation menjanjikan sesuatu yang berbeda. Dari judulnya saja tidak ada kata-kata He-Man. Latar belakang film seri ini memang sama persis dengan film-film sebelumnya. Pangeran Adam dari negeri Etheria dapat berubah menjadi He-Man (Chris Wood) untuk melawan Skeletor (Mark Hamill). He-Man dan kawan-kawan berusaha mempertahankan Kastil Greyskull dari serangan Skeletor. Siapa yang menguasai Kastil tersebut, mampu menguasai alam semesta. Konon seluruh alam semesta berpusat di dalam Kastil Greyskull. Perseteruan abadi inilah yang menjadi plot utama mayoritas film-film He-Man. Nah Masters of the Universe: Revelation mengisahkan kematian He-Man dan Skeletor pada episode pertamanya. Beda sekali bukan? Hohohoho.

Beberapa fans fanatik He-Man akan membenci film seri ini. Bisa jadi alasannya karena konflik He-Man dan Skeletor tidak lagi menjadi menu utama. Jangan salah. He-Man dan Skeletor tetap menjadi bagian penting pada Masters of the Universe: Revelation. Hanya saja kali ini keduanya harus berbagi spotlight dengan karakter-karakter lainnya. Karakter wanita seperti Teela (Sarah Michelle Gellar) dan Evil-Lyn (Lena Headley), kali ini memiliki peranan yang relatif lebih banyak dibandingan ketika keduanya ada di He-Man and the Masters of Universe.

Rahasia-rahasia yang sebenarnya sudah disampaikan pada film seri versi tahun 80-an kembali disampaikan dengan dengan cara yang sedikit berbeda. Walaupun He-Man praktis tidak dominan pada film seri ini, saya tetap suka dengan jalan ceritanya. Semua diberbeda sehingga masih ada rasa penasaran ketika menonton Masters of the Universe: Revelation.

Dari segi gambar, Masters of the Universe: Revelation mengambil jalan yang jauh berbeda dibandingkan serial terbaru She-Ra. Masters of the Universe: Revelation justru tampil dengan gaya kartun klasik. Namun, serial ini tetap menampilkan kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan kartun-kartun lawas. Terutama adegan perkelahiannya. Didukung pula oleh lagu dan suara yang keren, adegan perkelahian serial ini terbilang seru.

Sejauh ini Masters of the Universe: Revelation berhasil membuat saya untuk terus mengikuti ceritanya. Semoga akhir dari serial ini tidak menggantung seperti film seri tahun 80-annya. Saya rasa Masters of the Universe: Revelation layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: creations.mattel.com/pages/masters-of-the-universe

Serial Miculous: Les Aventures de Ladybug et Cat Noir

Miculous: Les Aventures de Ladybug et Cat Noir merupakan film seri animasi asal Prancis dengan mengambil tema superhero. Latar belakang film seri ini adalah Paris jaman sekarang. Di sana hidup Marienette Dupain-Cheng (Anouck Hautbois) dan Adrien Agreste (Benjamin Bollen). Diam-diam keduanya memiliki identitas rahasia. Ketika terdapat tindak kejahatan, Marienette berubah menjadi Ladybug. Sementara itu Adrien berubah menjadi Cat Noir. Kedua superhero Prancis ini sama-sama memiliki kecepatan, kelincahan, kecekatan dan kekuatan di atas rata-rata. Hanya saja, Ladybug memiliki senjata yo-yo yang dapat berfungsi sebagai alat komunikasi, alat menyelam, dan senjata. Dengan yo-yo ini pulalah, Ladybug mampu menciptakan objek yang dapat membantunya. Penciptaan objek inilah yang membuat film seri ini menarik dan mencerdaskan. Jadi bukan hanya superhero baik berjuang melawan kejahatan saja.

Semakin lama, lawan Ladybug semakin beranekaragam. Lama kelamaan hampir semua karakter Miculous: Les Aventures de Ladybug et Cat Noir dapat berubah menjadi superhero dengan kekuatan dan keunikan mereka masing-masing. Mereka dapat berubah karena dibantu oleh mahluk mungil yang disebut Miraculous atau Miculous. Pada awalnya hanya ada 2 Miraculous yaitu miliki Ladybug dan Cat Noir. Lamakelamaan jadi kemana-mana x_x.

Superhero dan tokoh antagonisnya boleh bertambah banyak. Namun tokoh antagonis utamanya ya tetap ayahnya Adrien atau Cat Noir. Ayah Adrien tidak mengetahui bahwa Adrien adalah Cat Noir. Begitu pula sebaliknya Adrien sendiri tidak mengetahui bahwa ayahnya adalah biang keladi dibalik semua kekacauan yang muncul. Tidak hanya itu, Adrien tidak mengetahui bahwa Marienette adalah Ladybug. Yah, demikian pula Marienette, ia tidak mengetahui bahwa Adrien adalah Cat Noir. Padahal diam-diam Marienette menyukai Adrien. Adrien sendiri menolak Marienette karena Adrien menyukai Ladybug. Wah berputar-putar yah. Awalnya sih ini seru. Tapi lamakelamaan kok ya aneh. Kok bisa, tokoh-tokoh utama ini tidak pernah menyadari semua rahasia tersebut.

Film seri ini memang ada unsur percintaan remajanya, namun masih aman ditonton anak-anak asalkan orang tua tetap mendampingi. Tokoh-tokoh protagonisnya pun dapat dijadikan contoh yang baik. Nilai pendidikan otomatis hampir tidak ada karena fokus film seri ini adalah hiburan.

Saya rasa film seri Miculous: Les Aventures de Ladybug et Cat Noir masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Dulu, film seri ini sempat ada di Channel Nickelodeon, lalu Channel Disney, lalu Netflix. Terakhir sepertinya sudah pindah ke Disney+.

Sumber: http://www.miraculousladybug.com

Rumble (2021)

Dahulu kala ada masanya saya gemar menonton pertandingan WCW dan WWE. Pertandingan gulat yang dibumbui berbagai drama. Maklum, baik WCW maupun WWE sama-sama menampilkan pertarungan gulat dengan hiburan sebagai tujuan utamanya. Bagaimana kalau WWE bekerjasama dengan perusahaan film untuk membuat sebuah animasi? Lahirlah Rumble (2021) yang temanya memang tidak jauh dari pertandingan di dalam ring.

Hanya saja, yang bertarung di dalam ring bukanlah The Rock atau Hulk Hogan. Melainkan berbagai monster yang muncul di Bumi. Dikisahkan bahwa berbagai monster datang ke Bumi dan berhasil berbaur dengan manusia. Para monster hadir dengan wujud yang unik beserta berbagai kelebihan lainnya. Mereka pun meraih popularitas ketika bertarung di dalam ring. Penampilan para monster ini sangat menarik bagi penduduk Bumi lainnya.

Setiap monster yang bertarung di liga profesional, bertarung mewakili sebuah kota. Kota tersebut tentunya meraih keuntungan dari penjualan tiket, baju dan lain-lain. Stoker adalah kota kecil yang sangat terkenal karena pertarungan monster ini. Kota ini telah memiliki monster dan pelatih yang legendaris. Ketika sedang ada di puncak, monster yang mewakili Stoker mendadak membelot dan pergi untuk mewakili kota lain. Sebuah kota yang ditopang oleh anak dari seorang pengusaha ternama.

Tanpa monster andalannya, keuangan Stoker sangat terancam. Tanpa monster yang memegang sabuk juara, pendapatn Stoker tentunya menukik turun. Stadium dan tempat latihan mosnter miliki kota tersebutkan terpaksa dijual.

Winnie Coyle (Geraldine Vuswanathan) adalah anak dari pelatih legendaris yang dulu pernah membuat Stoker berjaya. Ia pun tidak rela kejayaan Stoker hancur di depan matanya. Sejak kecil, Winnie dibesarkan di lingkungan arena para monster. Maka ia pun sebenarnya memiliki keahlian untuk melatih monster. Winnie pun pergi untuk mencarikan monster baru bagi Stoker.

Di kota seberang, Winnie menemukan Steve (Will Arnett), seorang monster yang selalu kalah di dalam ring. Winnie melihat bakat terpendam Steve. Itulah mengapa Winnie bersikeras untuk membawa Steve mewakili Stoker. Steve yang seperti bukan siapa-siapa, diharapkan untuk dapat menyelamatkan Stoker dari kebangkrutan.

Kisah from hero to zero pada Rumble (2021) memang mudah ditebak. Namun pembawaannya sangat menghibur dan jauh dari kata bosan. Saya suka dengan bagaimana masa lalu Steve terkuak. Kemudian masalah yang dihadapi Steve dan Winnie pun terasa nyaman ditonton. Tidak terlalu menyebalkan dan tidak terlalu lambat.

Tetdapat beberapa hal yang mengingatkan saya akan WWE pada film ini. Mulai dari ringnya, sampai komentatornya. Saya pun melihat ada beberapa drama ala WWE yang muncul di sana. Menonton Rumble (2021) seperti membangkitkan nostalgia masa lalu. Saya memang sudah tidak pernah menonton WWE lagi.

Saya ikhlas untuk memberikan Rumble (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Bagi yang dahula kala sempat menonton SmackDown di TV Nasional, mungkin akan sedikit teringat aka beberapa hal ketika menonton Rumble (2021)

Sumber: http://www.paramountplus.com

Luca (2021)

Luca (2021) adalah film animasi jebolan Walt Disnet & Pixar yang mengisahkan petualangan si monster laut cilik, Luca Paguro (Jacob Tremblay). Ia dan keluarganya tinggal jauh di dasar laut. Uniknya, bangsa monster laut pada Luca (2021) dapat berubah menjadi manusia biasa ketika berada di darat dan tidak terkena air.

Selama ini, manusia dan monster air memang bermusuhan. Manusia akan menangkap atau menyerang monster air ketika mereka melihatnya. Itulah mengapa para monster air memilih untuk hidup damai di dasar laut, jauh dari jangkauan manusia. Perbedaan membuat kedua jenis mahluk ini saling menjauh dan tidak bersahabat.

Berbeda dengan monster air lain, Luca justru tertarik dengan dunia manusia. Setelah berkenalan dengan Alberto Scarfano (Jack Dylan Grazer), Luca memilih untuk diam-diam pergi ke darat dan berbaur dengan manusia. Alberto sendiri merupakan monster laut yang sering pergi ke daratan. Kedua sahabat baru ini pergi ke sebuah kota nelayan kecil di Italia. Selama Luca dan Alberto tidak basah, tidak akan ada yang mengetahui bahwa keduanya bukan manusia.

Dalam perjalanannya, Luca dan Alberto menjadi terobsesi dengan Vespa. Untuk memperoleh Vespa idamannya, mereka akhirnya menjalin persahabatan dengan beberapa penduduk kota. Apakah tali persahabatan tersebut akan terceraiberai bila semuanya mengetahui bahwa Luca dan Alberto merupakan monster air?

Fokus utama kisah Luca (2021) adalah mengenai bagaimana perbedaan tidak seharusnya menghalangi persahabatan. Monster laut atau manusia, semuanya sebenarnya bisa hidup damai berdampingan. Sebuah pesan moral yang sangat baik bagi para penontonnya.

Sayangnya, dunia yang menjadi latar belakang Luca (2021), tidak terlalu dibahas dengan jelas. Kenapa kok monster laut kalau tidak terkena air, bisa berjalan layaknya manusia biasa? Memang mereka semua anak cucunya Ariel si Putri Duyung? Rasanya, masih banyak hal yang dapat memperkaya Luca (2021) tapi tidak dipergunakan. Bagi saya pribadi, kisah Luca (2021) agak terlalu sederhana dan mudah ditebak. Ditambah dengan humor yang agak tipis, Luca (2021) terkadang membosankan.

Dengan demikian Luca (2021) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jarang-jarang nih tokoh utama film Pixar dan Disney menggunakan anak laki-laki sebagai protagonis utamanya, biasanya perempuan.

Sumber: http://www.pixar.com

Encanto (2021)

Pada pergantian tahun 2021 menuju 2022 ini Disney dan Pixar melahirkan film animasi dengan judul Encanto (2021). Kali ini film animasinya tidak mengisahkan mengenai kerajaan atau putri-putrian. Dengan latar belakang daerah Kolombia pada era peperangan, Encanto (2021) mengisahkan keluarga Madrigal. Karena kerusuhan dan peperangan, keluarga Madrigal mengungsi ke sebuah wilayah terpencil di balik pegunungan. Melalui sebuah peristiwa menyedihkan, mereka menemukan sebuab rumah dan sebuah lilin ajaib.

Rumah baru keluarga Madrigal seolah hidup dan memiliki nyawa. Di dalamnya terdapat banyak kamar dengan pintu yang unik. Mayoritas pintu-pintu tersebut bercahaya dan menunjukkan kekuatan si pemilik kamar. Keluarga Madrigal memang memiliki kekuatan unik secara turun temurun. Ketika sudah mencapai umur tertentu, setiap anggota keluarga Madrigal menjalankan sebuah upacara. Upacara tersebut dilakukan di dalam rumah dan di depan lilin ajaib. Ini bukan upacara pesugihan atau babi ngepet yah :’D.

Setelah upacara selesai, anak-anak keluarga Madrigal memiliki kekuatan ajaib dan pintu kamar mereka pun akan bercahaya terang. Setiap keturunan keluarga Madrigal memiliki kekuatan yang berbeda. Ada yang super kuat, ada yang dapat menumbuhkan berbagai tanaman, ada yang mampu melihat masa depan, ada yang dapat mengendalikan cuaca, ada yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, ada yang dapat merubah wujud, ada yang memiliki pendengaran super, dan ada yang dapat berbicara dengan hewan. Mereka semua menggunakan keajaiban tersebut untuk membantu masyarakat sekitarnya.

Tak lama, lingkungan sekitar keluarga Madrigal dapat tumbuh dan berkembang. Keluarga Madrigal pun menjadi pilar penyangga kehidupan masyarakat. Seluruh penduduk menghormati keluarga Madrigal.

Tinggal di tengah-tengah keluarga terpandang yang memiliki kekuatan ajaib, akan menjadi beban bagi Mirabel Madrigal (Stephanie Beatriz). Ia adalah satu-satunya anggota keluarga Madrigal yang nampak tidak memiliki kekuatan ajaib. Tanpa Mirabel sadari, saudara-saudarinya pun memikul beban karena kekuatan ajaib yang mereka miliki. Memiliki kekuatan ajaib atau tidak, setiap individu mengalami tekanan tertentu dalam mengarungi badai kehidupan. Apakah mereka menjadi seseorang karena keajaiban mereka atau karena kualitas diri sendiri?

Tidak banyak yang tahu, tapi rumah keluarga Madrigal memiliki keretakan yang semakin hari semakin banyak. Kepala keluarga Madrigal sendiri diam-diam merasa bahwa keajaiban keluarga mereka sedang sekarat. Mirabel pun harus bertindak untuk menyelamatkan keajaiban keluarga Madrigal. Berdasarkan penglihatan pamannya Mirabel yang dapat meramal, kehancuran dan keberlangsungan keajaiban ini berkaitan erat dengan Mirabel. Sayangnya, sang paman menghilang tak lama setelah ia melihat masa depan Mirabel.

Alur cerita Encanto (2021) berhasil membuat saya penasaran karena misteri bagaimana cara Mirabel menyelamatkan keajaiban keluarganya, kemudian mengapa paman Mirabel yang dapat meramal justru menghilang tanpa jejak, terakhir … sepanjang film saya ingin mengetahui apa sih kekuatan atau keistimewaan Mirabel. Lha masak tokoh utamanya malah tidak memiliki kekuatan apa-apa, hehehehehe. Pada akhirnya semua dapat terjawab dengan sederhana. Film ini memang mengandung misteri tapi misterinya tidak rumit kok. Semua sangat mudah dipahami dan agak mudah ditebak di pertengahan film.

Film ini didukung oleh aneka nyanyian yang bersahabat bagi kuping saya. Encanto (2021) memang terbilang film animasi yang banyak menggunakan nyanyian. Di tengah-tengah film akan banyak sekali nyanyian. Biasanya saya kurang suka dengan hal ini. Tapi spesial untuk Encanto (2021), nyanyian-nyanyian tersebut mampu menghibur dan enak di kuping saya :).

Ditambah dengan animasi yang cantik, Encanto (2021) semakin nyaman untuk dilihat. Kali ini Disney dan Pixar bermain dengan warna-warni yang cerah dan sangat halus. Film ini nampak dipersiapkan dengan sangat serius.

Saya sendiri ikhlas untuk memberikan Encanto (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Bagus”. Dengan pesan moral akan keluarga dan kemampuan diri sendiri, Encanto (2021) sangat layak untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga.

Sumber: http://www.encantoencines.com

Serial What If…?

Melalui Serial Loki, kita diperkenalkan lebih jauh mengenai multiverse-nya MCU (Marvel Cinematic Universe). Multiverse dapat diartikan bahwa setiap peristiwa dan segala hal memiliki alternatif lain di dunia lain yang berjalan bersamaan. Jadi, kisah para superhero Marvel Comics bisa saja memiliki alur yang berbeda di dunia paralel yang berbeda. Semua ini diawasi oleh karakter yang bernama The Watcher.

Melalui mata The Whatcher inilah Serial What If…? dikisahkan. Serial ini mengambil jalur alternatif dari potongan peristiwa pada berbagai film-film superhero Marvel Comics. Perbedaan sedikit saja, dapat membuat jalan hidup sebuah dunia berubah 180 derajat.

Tidak semua kisah pada What If…? berakhir bahagia. Beberapa berakhir tragis atau bahkan menggantung. Bagi penonton yang mengikuti setiap film layar lebarnya superhero Marvel, Serial What If…? memiliki daya tarik tersendiri. Melihat alternatif yang sangat berbeda dari sebuah kisah di 1 film Marvel, maka terbayang sudah perubahan yang terjadi pada kisah-kisah di film Marvel lainnya, kalau ada. Film-film superhero Marvel memang selalu saling berkaitan.

Sayang, kisahnya terkadang agak klise dan membosankan. What If…? kadang terkesan hanya menjual kisah alternatif dari berbagai tokoh Marvel Comics yang sudah difilmkan. Kisah alternatifnya sendiri ada yang terasa seperti pengulangan dan mudah ditebak. Penonton pun sering dibuat menebak sendiri akhir dari kisahnya. Yah syukur-syukur semua penonton hafal dengan cerita film MCU yang berkaitan dengan kisah tersebut. Kalau tidak, ketertaringan akan kisah alternatif tersebut bisa jadi berkurang.

Oh yaaa, serial ini merupakan film animasi yaaa. Animasinya sih terbilang bagus dan unik. Gayanya merupakan perpaduan anatar anime dengan kartun Amerika Klasik. Saya suka dengan bagaimana animasinya berjalan.

Dengan demikian, saya rasa Serial What If…? masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisalaaah dijadikan selingan sambil menunggu film MCU berikutnya.

Sumber: http://www.marvel.com