Black Adam (2022)

Setelah superhero Shazam hadir pada Shazam! (2019), nama Black Adam semakin menggema. Pada dasarnya Shazam dan Black Adam memiliki sumber yang sama. Hanya saja, Black Adam agak berbeda dan lebih gelap. Pada buku komik DC, Black Adam adalah salah satu musuh utama Shazam. Namun pada perkembangannya, Black Adam menggunakan kekuatannya untuk tujuan yang baik dengan cara yang terkadang kejam. Yah Black Adam adalah karakter antihero, jadi dia memang berada di wilayah abu-abu antara malaikat dan iblis.

Hal ini pula yang nampak jelas pada Black Adam (2022). Karakter DC Comics yang satu ini tidak terlalu peduli terhadap nyawa lawan-lawannya. Siapapun yang menghalangi langsung dibunuh. Apalagi Black Adam atau Teth Adam (Dwayne Johnson) dibangkitkan di tengah-tengah sebuah konflik. Ia memang sudah terkubur selama ratusan tahun, sehingga agak sulit bagi Black Adam untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Kemarahan dan kebencian pun membuat Black Adam kesulitan untuk mengendalikan kekuatannya. Disinilah peranan beberapa karakter lain diperlukan. Perlahan, Black Adam perlu belajar mengenai kemanusiaan dan persahabatan. Karena sekuat apapun Black Adam, ia tetap memerlukan teman.

Black Adam hadir dengan kekuatan super yang bisa dibilang setara dengan Superman. Sumber kekuatan Black Adam memang sama dengan Shazam. Namun cara Black Adam memperoleh kekuatannya terbilang jauh lebih kelam dan gelap dibandingkan Shazam. Sesuatu yang membuatnya lebih menarik ketimbang Shazam. Tentunya, Black Adam (2022) otomatis memiliki beberapa adegan sadis yang tidak baik bagi anak-anak.

Bagi orang dewasa seperti saya, adegan perkelahiannya terbilang cukup megah dan seru. Apalagi ditambah dengan kehadiran Justice Society yang terdiri dari Doctor Fate (Pierce Brosnan), Hawkman (Aldis Hodge), Atom Smasher (Noah Centineo) dan Cyclone (Quintessa Swindell). Semua membuat adegan perkelahiannya semakin ramai. Tentunya semua adegan perkelahian ini tidak overdosis.

Tidak hanya saling serang saja, masing-masing karakter pada Black Adam (2022) masih memiliki cerita yang nyaman untuk diikuti. Terdapat sedikit kejutan pada kisah masa lalu Black Adam (2022). Namun plot utama film ini tetap mudah ditebak. Yaaah tipikal origin story superhero pada umumnyalah.

Secara keseluruhan, Black Adam (2022) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Setidaknya film ini mampu memberikan secercah harapan bagi DCEU yang seperti sedang sekarat.

Sumber: http://www.blackadammovie.net

Black Panther: Wakanda Forever (2022)

Karakter superhero Black Panther atau Raja T’Challa (Chadwick Boseman) sudah beberapa kali hadir pada film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) ia bahkan sudah memiliki film solonya yaitu Black Panther (2018). Di sana dikisahkan bagaimana terdapat negeri Wakanda yang kaya akan material Vibranium. Sebuah material yang menjadi rebutan berbagai pihak. Untuk melindungi negaranya, Wakanda memiliki Black Panther. Seorang superhero dengan kemampuan super dan kostum canggih berlapis Vibranium. Ketika seorang Black Panther menua atau meninggal atau pensiun, akan dilakukan pemilihan Black Panther baru. Hal inilah yang terpaksa dilakukan pada Black Panther: Wakanda Forever (2022).

Black Panther

Pihak produser tidak ada rencana untuk “mematikan” karakter Black Panther yang sudah ada. Naskah dari Black Panther: Wakanda Forever (2022) sudah siap ketika sang aktor, Chadwick Boseman, meninggal. Mau tak mau keseluruhan cerita Black Panther harus diubah. Salah satu katakter pendamping yang ada, harus menjadi Black Panther yang baru.

Setelah T’Challa wafat, Wakanda masih kokoh berdiri di bawah kepemimpinan Ratu Ramonda (Angela Bassett). Shuri (Letitia Wright) dan Jendral Okoye (Danai Gurira) pun masih aktif mendukung Wakanda dan menjaga Vibranium dari negara-negara lain. Gagal untuk mendapatkan Vibranium dari jalan kekerasan dan diplomasi, negara-negara lain berusahan melalukan eksplorasi di dasar laut. Dengan sebuah alat mutakhir besutan Riri Williams (Dominique Throne), pihak militer Amerika berhasil menemukan Vibranium di dasar laut.

Hal ini menimbulkan masalah baru sebab ternyata selama ini terdapat sebuah peradaban di bawah laut yang memiliki Vibranium seperti Wakanda. Selama ini peradaban Talokan hidup damai tersembunyi di dasar laut. Mereka hanya hadir melalui dongeng atau mitos. Mayoritas penduduknya adalah warga keturunan Indian yang telah terpengaruh oleh kekuatan Vibranium biru.

Sedikit berbeda dengan Wakanda, Talokan dipimpin oleh seorang raja merangkap dewa, yaitu K’uk’ulkan atau Namor (Tenoch Huerta). Bisa dikatakan, Namor ini seperti Aquaman di DC Comics. Hanya saja, sebenarnya Namor sudah hadir lebih dahulu daripada Aquaman. Posisi Namor yang lebih sering hadir sebagai antagonis, membuatnya kalah populer dibandingkan Aquaman. Pada perkembangannya, Namor justru menjadi seorang antihero. Ia bahkan menjadi karakter antihero pertama di buku komik. Sepertinya, Namor akan menjadi antihero di MCU. Kemunculan Namor dan warga Talokan pun memang bukan karena alasan yang jahat. Mereka hanya ingin melindungi diri dengan cara yang berbeda dengan cara yang Wakanda tempuh. Perseteruan dan pertumpahan darah antara Talokan dan Wakanda seharusnya tidak perlu terjadi. Sayangnya hal ini membuat saya tidak terlalu puas ketika melihat Talokan atau Wakanda kalah. Keduanya sama-sama baik, bangsa hebat yang berbeda pendapat saja.

Di sini, saya justru melihat bahwa pihak pemerintah negara-negara adikuasa seperti Amerika Serikat dan Eropa, sebagai pihak yang sebenarnya memiliki itikad kurang baik. Wakanda dan Talokan pada dasarnya khawatir akan penyalahgunaan Vibranium di tangan penguasa yang salah. Sejarah membuktikan apa yang telah penguasa lakukan dengan nuklir. Apa yang terjadi apabila mereka memiliki Vibranium?

Beruntung adegan aksinya terbilang seru. Sayang penampilan Black Panther yang baru tidak sespektakuler Black Panther yang lama. Paling tidak penampilan Ratu Ramona terbilang menonjol. Tanpa saya duga sebelumnya, Sang Ratu nampak tegas dan kuat meskipun ia tidak memiliki kekuatan Black Panther sekalipun.

Kesedihan akan kehilangan Raja T’Challa memang mendominasi film ini. Mencari pengganti sosok T’Challa bukanlah hal yang mudah. Kalau biasanya karakter-katakter lawas dari MCU seperti memperoleh pengganti yang lebih muda. Nah kalau Black Panther justru memperoleh pengganti sekaligus sebuah reset. Sesuatu yang akan membuat MCU semakin menarik kedepannya.

Black Panther: Wakanda Forever (2022) bukanlah film MCU favorit saya. Namun film ini seperti jembatan menuju sesuatu yang bagus kedepannya. Masa depan MCU masih terlihat cerah. Saya rasa Black Panther: Wakanda Forever (2022) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Serial I Am Groot

Groot adalah anggota sekelompok superhero yang disebut Guardian of the Galaxy. Pada saat pertama kali diperkenalkan di layar lebar, Groot bertubuh tinggi besar. Ia merupakan ras alien flora colossi dari Planet X. Memiliki wujud fisik menyerupai tumbuhan raksasa yang hidup, Groot ternyata memiliki berbagai sifat mulia. Bahkan pada Guardians of the Galaxy (2014), Groot mengorbankan dirinya demi menyelamatkan teman-temannya.

Dari abu sisa-sisa tubuh Groot, lahirlah mahluk kecil yang dipanggil Baby Groot. Sebagai mahluk dari ras flora colossi, perkataan Baby Groot agak sulit dipahami. Satu-satunya kalimat Baby Groot yang mudah dipahami adalah I am Groot. Yaahhh, kalimat inilah yang menjadi judul serial mengenai Baby Groot. Sehari-harinya, Baby Groot tinggal di pesawat luar angkasa bersama Guardian of the Galaxy. Sesekali ia ikut mendarat di planet asing dan bertualang bersama mereka.

Bertarung dan bertualang bukanlah inti cerita dari I Am Groot. Kelucuan-kelucuan dari tingkah Baby Groot adalah topik utama daru serial ini. Groot kecil selalu menemukan mesalah baru yang harus ia selesaikan dengan caranya sendiri.

Penampilan Baby Groot yang polos dan imut sangat mendukung jalan cerita I Am Groot. Siapapun yang melihat Baby Groot, pastilah langsung jatuh hati. Ia adalah bintang utama pada serial ini. Semua yang ia lakukan berhasil membuat saya dan anak-anak saya tersenyum atau tertawa.

Serial ini terbilang komplit untuk dijadikan sebagai tontonan keluarga. Semua dapat menonton I Am Groot dengan aman. Tidak ada selipan isu-isu dewasa di sana. Saya ikhlas untuk memberukan I Am Groot nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com

Injustice (2021)

Ada masanya dimana DCEU (DC Extended Universe) digadang-gadang akan menyaingi MCU (Marvel Cinematic Universe). Pata superhero DC Comics akan hadir pada berbagai filn yg berbeda namun saling berkesinambungan. Melihat dari beberapa pengantar yang diselipkan pada film-film tersebut, besar kemungkinan awal dari DCEU akan menggunakan material dari seri komik Injustice: God Among Us. Saya sendiri sering bermain versi video game dari Injustice. Saya pun antusias melihat perkembangan DCEU.

Sayangnya visi DCEU (DC Extended Universe) dari Zack Snyder sudah runtuh dengan pendapatan dan penilaian yang di bawah ekspektasi terhadap film-film DCEU. Otomatis sepertinya kita tidak akan menyaksikan alur cerita Injustice pada DCEU. Yah paling tidak pada 2021 lalu, DC Comics merilis versi animasi dari Injustice.

Injustice (2021) mengambil latar belakang pada salah satu dunia alternatif atau paralel yang di sebut Bumi 22. Di sini, Superman (Justin Hartley) kehilangan anak dan istrinya dengan cara yang tragis. Mereka menjadi salah satu korban Joker (Kevin Pollak). Selama ini Joker memang menjadi musuh utama Batman (Anson Mount) bukan karena kekuatannya. Namun karena taktiknya dalam melakukan kejahatan. Dengan melakukan hal kejam seperti ini, Joker berhasil mengubah Superman. Pada Bumi 22, Superman versi ini, memiliki cara tersendiri untuk berduka.

Superman ingin mewujudkan Bumi yang bebas dari kejahatan. Ia mulai bertindak lebih keras terhadap berbagai bentuk kejahatan. Perlahan Superman menolak untuk memberikan kesempatan kedua bagi pelaku kejahatan. Ia bahkan ikut campur dalam urusan politik berbagai negara. Batman sangat tidak suka dengan perilaku Superman. Batman dan Superman sangat bersahabat, namun kali ini mereka terpaksa berseteru. Para superhero pun terbelah dua, apakah ikut Batman atau ikut Superman. Perseteruan ini menyebabkan tewasnya beberapa karakter DC Comics ternama.

Film tak ragu untuk mematikan banyak tokoh superhero dan supervilain. Kita akan dengan mudahnya melihat berbagai tokoh DC Comics berguguran di sini. Sesuatu yang jarang terjadi. Sebab banyak dari mereka memiliki film solo atau komik solo sendiri. Yah jagoan dan penjahat utama kok tewas? Justru inilah yang menjadi kelebihan Injustice (2021). Kita tidak akan mengetahui siapa saja yang selamat.

Sayangnya, durasi film yang singkat, gagal memberikan latar belakang yang jelas bagi berbagai karakter yang hadir. Kenapa mereka memilih sisi Batman atau Superman. Semua mengandalkan pengetahuan penonton atas karakter-karakter tersebut. Saya pun tudak terlalu peduli atau terharu ketika melihat beberapa karakter gugur. Saya pribadi lebih suka cerita pada versi video game.

Kalau di komik dan video game, perseteruan ini memakan waktu sekitar 6 tahun. Batman pun sampai memiliki aliansi yang disebut Insurgent. Yaaah agak susah memang merangkum semuanya dalam 1 film animasi. Mungkin akan lebih baik kalau dibuat dalam bentuk mini seri.

Dengan demikian, Injustice (2021) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini banyak adegan sadisnya yaa, jadi jangan ajak anak-anak untuk menonton Injustice (2021).

Sumber: http://www.dc.com

Thor: Love and Thunder (2022)

Thor: Love and Thunder (2022) adalah film solo ketiga dari Thor Odison (Chris Hemsworth), sang dewa petir. Tentunya film ini adalah bagian dari MCU (Marvel Cinematic Universe) sehingga ada sedikit kesinambungan dengan film-film MCU sebelumnya. Sebagai pengantar, Thor telah menjadi superhero yang memenangkan berbagai perang besar. Beberapa diantaranya membuat Thor harus kehilangan Mjolnir, palu kesayangan Thor. Setelah Mjolnir hancur, Thor memperoleh senjata baru yang disebut Stormbreaker. Sekilas memang mirip dengan Mjolnir, namun bedanya, Stormbreaker mampu memanggil bifrost. Bifrost merupakan kekuatan untuk berkelana ke berbagai tempat dan dimensi dalam waktu singkat. Bagaimana nasib pecahan Mjolnir? Menjadi salah satu objek wisata di Bumi.

Tanpa Thor sadari, sebuah permintaan tulus darinya telah membuahkan jembatan hubungan antara Mjolnir dengan Jane Foster (Natalie Portman). Ketika Jane datang untuk melihat pecahan Mjolnir, seketika itu pula Mjolnir menyatu dan mengubah Jane menjadi Thor. Seketika Jane dapat memiliki kostum dan semua kekuatan Thor. Hanya saja, dibalik semua itu, Jane sebenarnya sekarat.

Dimana Thor? Setelah memenangkan peperangan besar melawan Hela dan Thanos, ia berkelana bersama The Guardians of the Galaxy. Namun beberapa peristiwa genting membuat Thor untuk kembali ke Bumi dan pada akhirnya bertemu dengan Jane.

Mereka harus berhadapan dengan Gorr (Christian Bale), sang penjagal dewa. Satu per satu dewa-dewi yang ada di semesta, berhasil Gorr bunuh. Berawal dari sebuah kekecewaan dan kebencian terhadap dewa, Gorr berhasil mengangkat necrosword. Dengan senjata tersebut, Gorr memiliki kekuatan besar yang mempu membunuh para dewa.

Awalnya saya pikir, Thor: Love and Thunder (2022) merupakan peralihan karakter Thor menjadi Jane. Saat ini MCU sedang melakukan penyegaran dengan mengganti dan menambah deretan superhero-nya. Hampir semua superhero MCU lawas sudah memiliki film “peralihan”. Saya pikir, inilah saatnya Thor memiliki pengganti. Aahhh ternyata dugaan saya kurang tepat.

Agak ambigu apakah Jane menjadi karakter pangganti Thor pada film-film MCU berikutnya. Pada film ini, Jane memang memiliki porsi yang cukup besar. Namun ternyata terdapat karakter lain yang muncul dan mendampingi Thor pada bagian akhirnya. Kata-kata Love pada judul Thor: Love and Thunder (2022) ternyata memiliki arti tersendiri. Wah keren juga, ini adalah hal yang tidak saya duga.

Selain itu, adegan pertarungannya terbilang seru. Memainkan kombinasi dengan warna hitam putih membuat Thor: Love and Thunder (2022) terlihat semakin menarik. Warna-warni nuansa 80-an pun terlihat sangat dominan di mana-mana. Mirip seperti Thor: Ragnarok (2017), film ketiga Thor ini menggunakan atribut dan lagu yang berhubungan dengan budaya 80-an. Semua terlihat bagus, jadi saya pribadi tidak ada masalah dengan ini.

Gorr berhasil tampil sebagai tokoh antagonis yang ganas. Temanya agak horor tapi agak tanggung. Karakter yang satu ini memiliki potensi untuk tampil lebih ganas lagi. Namun yaaah mungkin pihak produser melarang ini. Kalau terlalu menyeramkan, nanti Thor: Love and Thunder (2022) gagal masuk ketegori film PG13. Kalau sampai masuk ke kategori R atau NC-17, otomatis jumlah penontonnya lebih dibatasi lagi. Sayang sekali kalau kualitas sebuah film dibatasi oleh faktor komersil seperti ini.

Selain unsur horor, kali ini unsur komedinya banyak sekali. Semuanya bertebaran dimana-mana. Komedinya bukan komedi yang membuat penonton terawa terpingkal-pingkal ya, cukup senyum-senyum saja. Sayangnya otomatis Thor: Love and Thunder (2022) terlihat menjadi film yang tidak terlalu serius.

Dengan demikian, Thor: Love and Thunder (2022) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kabarnya Thor masih akan memiliki lagi setelah Thor: Love and Thunder (2022). Jadi dari beberapa deretan superhero lawas MCU, sementara ini hanya Thor masih akan terus hadir, entah sampai kapan. Semoga film keempatnya bisa lebih bagus lagi.

Ehem ehemmm …. Sedikit tambahan, Marvel dan Disney seperti biasa tak henti-hentinya berusaha untuk memasukkan unsur LGBT ke dalam film-filmnya. Tak terkecuali untuk Thor: Love and Thunder (2022). Film ini mengisahkan percintaan Thor dan Jane. Kemudian ada pula hubungan antara Thor dengan Mjolnir dan Stormbreaker yang sudah seperti mahluk hidup saja, bagian ini tergolong lucu yaaa. Di antara hubungan-hubungan tersebut, disisipikan hubungan LGBT yang dibawakan oleh 2 karakter lain. 2 karakter yang rasa sih kalaupun tidak ada, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita utama. Saya jadi merasa, fungsi keberadaan mereka yah hanya sebagai bahan untuk menyisipkan pesan LGBT. Kali ini pesannya cukup terlihat jelas, bukan hanya sekilas hehehe. Yah walaupun film ini termasuk PG13 yang artinya anak umur 13 tahun ke atas boleh menonton. Saya pribadi tidak menyarankan untuk membawa anak-anak untuk menonton film ini. Biarlah orang yang sudah cukup umur dan matang untuk dapat mengambil sikap mengenai pesan LGBT yang muncul. Jangan anak-anak di bawah umur yang masih polos. Sekian terimakasih, hohohoho.

Sumber: http://www.marvel.com

Serial Ms. Marvel

Sepertinya MCU (Marvel Cinematic Universe) terus menerus melakukan peremajaan terhadap berbagai superhero-nya. MCU mulai memperkenalkan berbagai karakter superhero baru yang digadang-gadang akan menggantikan peran superhero yang lama. Biasanya kemampuan keduanya agak mirip. Kali ini, tibalah giliran Captain Marvel. Umur Captain Marcel di MCU sepertinya masih panjang. Toh belum ada sekuelnya. Namun MCU sudah menghadirkan Serial Ms. Marvel. Di versi komik, Ms. Marvel memiliki hubungan yang erat dengan Captain Marvel.

Di dalam komik, terdapat berbagai karakter yang hadir sebagai Captain Marvel dan Ms. Marvel. MCU mengambil Carol Danvers (Brie Larson) sebagai Captain Marvel dengan cerita origin yang sangat berbeda dengan versi komiknya. Kalau di komik, karakter Carol Denvers adalah karakter pertama yang menggunakan nama Ms. Marvel. Kemudian Denvers mulai menggunakan Captain Marvel menggantikan Captain Marvel sebelumnya yang gugur. Wah wah wah, lalu bagaimana dengan MCU?

Captain Marvel mengambil jalur cerita yang berbeda melalui Captain Marvel (2019). Kemudian ia pun berperan dalam peperangan besar melawan Thanos pada Avengers: Endgame (2019). Setelah kemenangan Captain Marvel bersama superhero pembela Bumi lainnya, nama mereka semakin harum. Banyak sekali remaja-remaja yang mengidolakan mereka. Tak terkecuali Kamala Khan (Iman Velanni). Inilah awal dari film seri Ms. Marvel.

Kamala sangat mengidola Captain Marvel. Ia bahkan datang ke acara cosplay dengan menggunakan kostum Captain Marvel kreasinya sendiri. Tak disangka, salah satu asesoris yang ia gunakan ternyata membangkitkan sesuatu yang terkubur di dalam diri Kamala. Gelang warisan turun temurun keluarga Kamala ternyata mampu membangkitkan kekuatan super milik Kamala yang selama ini terpendam. Pada awalnya, kekuatan Kamala berkisar pada membuat proyeksi berbagai benda … yaaah jadinya mirip Green Lantern sih jatuhnya. Agak jauh di bawah Captain Marvel yang kekuatannya terlihat sangat superior. Namun, seiring dengan berkembangnya waktu, Kamala berhasil mengembangkan kekuatan baru. Karena hadir dalam bentuk film seri, kemungkinan kekuatan Kamala diperlihatkan berkembang dengan pelan-pelan. Tidak secepat Captain Marvel yang dibatasi durasi film layar lebar :’D.

Kamala hadir menggunakan kostum Ms. Marvel yang menurut saya pribadi sih keren. Ditambah bumbu-bumbu visual di mana-mana, serial ini memang terlihat cantik sekali. Coretan-coretan yang muncul pada serial ini sedikit banyak mengingatkan saya kepada The Mitchells vs. the Machines (2021). Nuansa remaja mewarnai serial MCU yang satu ini.

Permasalahan yang dihadirkan tentunya berkaitan dengan dunia remaja. Plus ditambah bumbu lingkungan masyarakat Islam di Amerika. Kamala di sini adalah seorang muslim yang hidup di tengah-tengah komunitas muslim di Amerika. Ms. Marvel adalah superhero muslim pertamanya MCU.

Sayangnya plot yang dihadirkan kadang terbilang basi. Saya sudah menyaksikan yang seperti itu pada film-film lain. Ms. Marvel seolah ingin membuat penonton penasaran, namun penasarannya kepada hal yang mudah ditebak. Masalah yang muncul seringkali agak sepele dan kurang spesial.

Beruntung visual Ms. Marvel terbilang bagus dan mampu menutupi jalan cerita yang tidak terlalu spesial. Saya pribadi hanya dapat memberikan film seri ini nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.marvel.com

Serial Moon Knight

Pada awal tahun ini, Marvel memperkenalkan satu karakter superhero lagi melalui serial Moon Knight. Dewa-dewi Mesir kuno menjadi bagian yang tak terpisahkan dari serial ini. Moon Knight sendiri pada dasarnya adalah avatar dari Khonsu, salah satu dewa Mesir kuno. Khonsu memiliki ambisi untuk menumpas segala kejahatan yang ada. Ia hanya dapat melakukan aksinya melalui seorang avatar. Pada serial ini, dewa-dewi Mesir kuno memiliki avatar. Melalui avatar inilah mereka dapat mengamati, terkadang bahkan dapat ikut campur dalam urusan duniawi. Melalui avatar ini pulalah, para dewa-dewi dapat saling baku hantam ketika terdapat perseteruan diantara mereka.

Yang paling menarik dari serial ini adalah tokoh utamanya mengalami Dissociative Identity Disorder (DID). Ini adalah penyakit mental yang menyebabkan seseorang memiliki kepribadian lebih dari 1. Dalam hal ini, kita memiliki Marc Spector (Óscar Isaac Hernández Estrada) sebagai avatar Khonsu. Pada dasarnya, tubuhnyalah yang menjadi avatar khonsu. Maka, tubuh tersebut dapat memperoleh seperangkat kostum lengkap dengan berbagai kekuatan super dari Khonsu.

Marc bukanlah satu-satunya kepribadian yang ada di dalam tubuh tersebut. Terdapat pula kepribadian-kepribadian lain di sana. Setiap kepribadian memiliki kelebihan dan kekurangan yang mampu saling melengkapi. Kepribadian Marc-lah yang ketika menggunakan kekuatan Khonsu, ia akan berubah menjadi Moon Knight. Sementara itu kepribadian lainnya seperti Steven Grant akan berubah menjadi Mr. Knight. Belum lagi kepribadian lainnya yang akan muncul seiring dengan berjalannya waktu. Sebab di versi komiknya, karakter ini memiliki banyak sekali kepribadian.

Saya sangat terhibur ketika melihat Marc berkomunikasi dengan Khonsu dan kepribadian lainnya. Memang sih seperti melihat orang kurang waras berbicara sendiri. Namun serial ini berhasil membuatnya menjadi sesuatu yang menarik.

Pengambilalihan tubuh oleh kepribadian yang berbeda pun sangat seru untuk diikuti. Adegan aksi nampak keren dengan kostum-kostum superhero yang bukan kaleng-kaleng. Ada tuuuh serial superhero ternama yang tokoh-tokohnya menggunakan kostum dengan topeng-topengan yang …. kurang ok untuk serial keluaran 2021.

Saya rasa Moon Knight sudah pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Setahu saya, Moon Knight merupakan bagian dari MCU (Marvel Cinematic Universe) fase 4. Mungkin di masa depan, karakter ini akan bertemu dengan superhero-superhero Marvel lainnya.

Sumber: http://www.marvel.com

Serial Masters of the Universe: Revelation

He-Man adalah salah satu tokoh film yang saya ingat. Perawakannya yang seperti barbarian berotot masih ada di ingatan saya. Tapi semua hanya sebatas itu saja. Saya terlalu kecil ketika He-Man ditayangkan di TVRI. Paham ceritanya saja tidak, yah pokoknya nonton film kartun yang jagoannya pakai pedang hehehe.

Saya menonton He-Man di TVRI pada tahun 90-an. Padahal sebenarnya film seri animasi ini sudah populer sejak tahun 80-an. Kemudian judulnya bukan He-Man saja, melainkan He-Man and the Masters of Universe. Pada awalnya He-Man adalah action figure produksi Mattel. Desainnya diilhami oleh Conan the Barbarian karangan Robert E. Howard. Kemudian berbagai mahluk di sekitar He-Man diambil dari Trilogi Star Wars.

Penerbitan komik dan film seri animasi He-Man and the Masters of Universe pada dasarnya dipergunakan untuk menunjang penjualan mainannya. Yaaah mirip seperti Barbie. Kepopuleran film animasinya membuahkan sebuah film layar lebar yang dibintangi Dolph Lundgren, yaitu Masters of the Universe (1987). Wah saya ingat sekali, saya pernah menonton film ini di rumah saudara saya. Maklum saya tidak pernah memiliki mesin pemutar video di rumah.

Tak hanya film latar lebar, He-Man and the Masters of Universe bahkan berhasil menelurkan spinoff seperti She-Ra: Princess of Power pada era tahun 80-an. Bertahun-tahun kemudian, saya justru menonton reboot dari She-Ra: Princess of Power yang hadir pada 2018, yaitu She-Ra and the Princess of Power. Hadir dengan grafik kekinian yang penuh warna, serial ini terbilang menarik untuk ditonton.

Agak berbeda dengan She-Ra, kisah He-Man justru hadir kembali pada He-Man and the Masters of Universe pada 2002 dan 2021. Keduanya belum saya tonton karena sepertinya akan mengisahkan perseteruan He-Man dan Skeletor saja. Agak bosan ya, tidak ada hal yang baru.

Serial Masters of the Universe: Revelation menjanjikan sesuatu yang berbeda. Dari judulnya saja tidak ada kata-kata He-Man. Latar belakang film seri ini memang sama persis dengan film-film sebelumnya. Pangeran Adam dari negeri Etheria dapat berubah menjadi He-Man (Chris Wood) untuk melawan Skeletor (Mark Hamill). He-Man dan kawan-kawan berusaha mempertahankan Kastil Greyskull dari serangan Skeletor. Siapa yang menguasai Kastil tersebut, mampu menguasai alam semesta. Konon seluruh alam semesta berpusat di dalam Kastil Greyskull. Perseteruan abadi inilah yang menjadi plot utama mayoritas film-film He-Man. Nah Masters of the Universe: Revelation mengisahkan kematian He-Man dan Skeletor pada episode pertamanya. Beda sekali bukan? Hohohoho.

Beberapa fans fanatik He-Man akan membenci film seri ini. Bisa jadi alasannya karena konflik He-Man dan Skeletor tidak lagi menjadi menu utama. Jangan salah. He-Man dan Skeletor tetap menjadi bagian penting pada Masters of the Universe: Revelation. Hanya saja kali ini keduanya harus berbagi spotlight dengan karakter-karakter lainnya. Karakter wanita seperti Teela (Sarah Michelle Gellar) dan Evil-Lyn (Lena Headley), kali ini memiliki peranan yang relatif lebih banyak dibandingan ketika keduanya ada di He-Man and the Masters of Universe.

Rahasia-rahasia yang sebenarnya sudah disampaikan pada film seri versi tahun 80-an kembali disampaikan dengan dengan cara yang sedikit berbeda. Walaupun He-Man praktis tidak dominan pada film seri ini, saya tetap suka dengan jalan ceritanya. Semua diberbeda sehingga masih ada rasa penasaran ketika menonton Masters of the Universe: Revelation.

Dari segi gambar, Masters of the Universe: Revelation mengambil jalan yang jauh berbeda dibandingkan serial terbaru She-Ra. Masters of the Universe: Revelation justru tampil dengan gaya kartun klasik. Namun, serial ini tetap menampilkan kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan kartun-kartun lawas. Terutama adegan perkelahiannya. Didukung pula oleh lagu dan suara yang keren, adegan perkelahian serial ini terbilang seru.

Sejauh ini Masters of the Universe: Revelation berhasil membuat saya untuk terus mengikuti ceritanya. Semoga akhir dari serial ini tidak menggantung seperti film seri tahun 80-annya. Saya rasa Masters of the Universe: Revelation layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: creations.mattel.com/pages/masters-of-the-universe

Eternals (2021)

Walau dibintamgi oleh beberapa nama tenar, Eternals (2021) bukanlah film yang masuk ke dalam daftar tonton saya. Film ini merupakan bagian dari MCU (Marvel Cinematic Universe). Maka Eternals ini sebenarnya ada buku komiknya. Sayang saya belum pernah membacanya. Saya agak kurang berminat. Kisah-kisah Eternals ini lebih ke arah pertarungan yang melibatkan ras mahluk asing dan berbau-bau teori penciptaan alam semesta. Jadi para Eternals ini tidak akan bertarung melawan penjahat kelas teri seperti perampok atau pencopet. Mungkin penjahat kelas teroris pun lewat. Penjahat sekelas Thanos saja Eternals acuhkan :P.

Eternals merupakan sekelompok individu dengan kekuatan super yang masing-masing berbeda. Mereka sebenarnya sudah mendarat di Bumi sejak 5000 tahun sebelum masehi. Daerah Mesopotamia berhasil menjadi rumah pertama bagi Eternals. Bahkan konon Gilgamesh, raja legendaris Mesopotamia merupakan seorang Eternals. Sampai abad 21 pun Eternals masih ada di Bumi. Namun kemana saja Eternals selama ini?

Celestial Arishem adalah mahluk kosmik super kuat yang mengirim Eternals ke Bumi. Misi mereka adalah untuk membasmi Deviant, mahluk buas yang memangsa manusia. Mahluk seperti Thanos dan Black Order bukanlah Deviant. Maka Eternals selama ini memilih untuk diam dan membiarkan superhero baru untuk lahir dan berkembang.

Sudah ribuan tahun lamanya Eternals tinggal di Bumi. Belum ada perintah baru selain memburu Deviant. Padahal sudah ribuan tahun pula, tidak ada Deviant baru yang muncul di Bumi. Yang tidak Eternals ketahui adalah, apa rencana atau desain Celestial Arishem bagi Bumi. Sebuah rencana besar yang bukan misteri bagi saya pribadi. Plot seperti ini sudah sering saya saksikan pada film-film seperti ini. Tidak ada kejutan atau misteri lagi di sana.

Belum lagi banyaknya karakter Eternals, tidak menambah nilai plus. Semuanya asing dan gagal membuat saya peduli. Mungkin film sesingkat ini memang tidak akan sempat untuk memberikan latar belakamg yang lengkap bagi seluruh karakter yang ada. Latar belakang beberapa karakter memang ditampilkan melalui alur maju-mundur. Namun kisah ini difokuskan hanya kepada hal-hal yang berkaitan dengan misi utama Eternals dan perintah Celestial Arishem.

Kisah pada Eternals (2021) memang menggunakan alur maju-mundur yang tidak linier. Tapi semuanya diramu dengan sangat baik sehingga tidak membingungkan. Kalaupun ada beberapa bagiam dari Eternals (2021) yang agak membosankan, saya rasa ini bukan karena alur maju-mundur. Film ini memang sangat mudah ditebak dan sangat klise. Biasanya MCU mampu menampilkan sebuah tontonan yang kisahnya atraktif. Kali ini tidak, Eternals (2021) bisa jadi merupakan salah satu film MCU terburuk yang pernah saya tonton.

Humor pada film ini pun terbilang garing kecuali sentilan-sentilan kecil dari Karun Patel (Harish Patel) dan Kingo Sunen (Kumail Najiani). Hanya special effect nya saja yang lumayan ok. Itupun tidak terlalu banyak karena sepanjang film, Eternals (2021) berusaha memberikan alur mengenai kenapa Deviant semakin kuat, dan pertanyaan besar mengenai kepatuhan para Eternals kepada perintah Celestial Arishem. Yah itu-itu saja sih isinya.

Hal yang bagus dari Eternals (2021) adalah film ini tidak segan-segan membunuh beberapa karakter utama mereka yang banyak. Jadi, tidak semua Eternals bertahan hidup sampai akhir film. Paling tidak, pada film ini tidak ada istilah jagoan selalu menang ;).

Saya rasa Eternals (2021) hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Oh iya film ini dengan sangat terbuka menggambarkan percintaan gay. Jadi, ada baiknya penonton dewasa mendampingi penonton cilik atau remaja ketika menonton film ini.

Sumber: http://www.marvel.com

Serial What If…?

Melalui Serial Loki, kita diperkenalkan lebih jauh mengenai multiverse-nya MCU (Marvel Cinematic Universe). Multiverse dapat diartikan bahwa setiap peristiwa dan segala hal memiliki alternatif lain di dunia lain yang berjalan bersamaan. Jadi, kisah para superhero Marvel Comics bisa saja memiliki alur yang berbeda di dunia paralel yang berbeda. Semua ini diawasi oleh karakter yang bernama The Watcher.

Melalui mata The Whatcher inilah Serial What If…? dikisahkan. Serial ini mengambil jalur alternatif dari potongan peristiwa pada berbagai film-film superhero Marvel Comics. Perbedaan sedikit saja, dapat membuat jalan hidup sebuah dunia berubah 180 derajat.

Tidak semua kisah pada What If…? berakhir bahagia. Beberapa berakhir tragis atau bahkan menggantung. Bagi penonton yang mengikuti setiap film layar lebarnya superhero Marvel, Serial What If…? memiliki daya tarik tersendiri. Melihat alternatif yang sangat berbeda dari sebuah kisah di 1 film Marvel, maka terbayang sudah perubahan yang terjadi pada kisah-kisah di film Marvel lainnya, kalau ada. Film-film superhero Marvel memang selalu saling berkaitan.

Sayang, kisahnya terkadang agak klise dan membosankan. What If…? kadang terkesan hanya menjual kisah alternatif dari berbagai tokoh Marvel Comics yang sudah difilmkan. Kisah alternatifnya sendiri ada yang terasa seperti pengulangan dan mudah ditebak. Penonton pun sering dibuat menebak sendiri akhir dari kisahnya. Yah syukur-syukur semua penonton hafal dengan cerita film MCU yang berkaitan dengan kisah tersebut. Kalau tidak, ketertaringan akan kisah alternatif tersebut bisa jadi berkurang.

Oh yaaa, serial ini merupakan film animasi yaaa. Animasinya sih terbilang bagus dan unik. Gayanya merupakan perpaduan anatar anime dengan kartun Amerika Klasik. Saya suka dengan bagaimana animasinya berjalan.

Dengan demikian, saya rasa Serial What If…? masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisalaaah dijadikan selingan sambil menunggu film MCU berikutnya.

Sumber: http://www.marvel.com