The Super Mario Bros. Movie (2023)

Super Mario Bros. merupakan video game yang mulai hadir pada tahun 1983 dan 1985. Sampai pada awal tahun 90-an pun video game ini masih terbilang populer. Pada era tersebut, Super Mario Bros. lazim dimainkan pada console 8 bit Nintendo Entertainment System (NES). Status sebagai video game paling populernya Nintendo, Super Mario Bros. terus hadir pada berbagai judul-judul video game lain yang eksklusif hanya dapat dimainkan pada console-console keluaran Nintendo.

Kehadiran The Super Mario Bros. Movie seakan menjadi ajang nostalgia bagi teman-teman yang besar di era 80-an dan 90-an. Apalagi, film ini kurang lebih mengambil alur cerita permainan Super Mario Bros. yang hadir di tahun 1985. Beberapa karakter video game yang populer pada NES pun ikut hadir pada film ini. Tidak hanya itu, unsur video game Super Mario Bros. yang hadir belakangan pun ikut hadir. Penonton dapat menyaksikan aksi ala Mario Kart pada film ini.

Semua karakter-karakter tersebut dapat menyatu dengan baik di dalam sebuah kisah petualangan dari si tukang ledeng, Mario Mario (Chris Prat). Bersama dengan Luigi Mario (Charlie Day), Mario Mario membuka usaha pipa air di kota Broklyn. Pada suatu malam, Mario dan Luigi tidak sengaja masuk ke dalam sebuah pipa air yang membawa mereka menuju dunia lain. Keduanya kemudian terjebak di tengah-tengah konflik antara Kerajaan Koopa dengan kerajaan-kerajaan lainnya.

Kerajaan Koopa yang dipimpin oleh Raja Browser (Jack Black) terus menerus menginvasi kerajaan-kerajaan tetangganya. Raja yang satu ini pun berniat menikahi Putri Peach (Anya Taylor-Joy), pemimpin Kerajaan Jamur. Sangat mirip dengan versi video game tahun 1985, Mario pun berniat membantu Putri Peach mengalahkan Raja Browser.

Semua unsur-unsur game Super Mario Bros. benar-benar muncul dan menonjol di sini. Bagaimana dunia yang Mario kunjungi bekerja, benar-benar seperti dunia yang ada pada video game. Sesuatu yang menyenangkan bagi teman-teman yang sering bermain Super Mario Bros. sewaktu kecil. Saya pribadi belum pernah memiliki console Nintendo. Saya hanya memainkan permainan Super Mario Bros. di rumah saudara saja hehehehe. Jadi hampir tidak ada kesan nostalgia ketika menonton film ini.

Rasanya, nostalgia saja kurang cukup. Karena kisah pada film ini terbilang datar-datar saja. Beruntung terdapat beberapa adegan lucu sehingga film ini tidak membosankan :).

Bagi saya yang bukan fans atau pemain video game Super Mario Bros. merasa bahwa film ini hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Lumayan”. Masih cocok untuk dijadikan tontonan bersama keluarga. Yaaahh paling tidak film ini 100% aman dari agenda cuci otak yang aneh-aneh :).

Sumber: http://www.thesupermariobros.movie

Avatar: The Way of Water (2022)

Avatar (2009) sempat menjadi film dengan special effect terbaik pada masanya. Bahkan kalau kita menonton Avatar (2009) pada tahun 2023 ini, film ini tetap nampak indah dan tidak kalah dengan film-film keluaran terbaru. Mungkin itulah alasan mengapa beberapa bioskop sempat memutar ulang Avatar (2009) kembali sebelum sekuelnya dirilis. Selain itu, jeda sekitar 13 tahun bukanlah waktu yang singkat. Para penonton bisa saja sudah lupa mengenai apa saja yang pernah terjadi di Planet Pandora.

Pada Avatar (2009), manusia berusaha menginvasi Planet Pandora. Mereka datang dengan berbagai teknologi canggih, termasuk terknologi avatar. Dengan taknologi ini, manusia dapat terhubung ke dalam tubuh dari mahluk biru yang disebut Na’vi. Dengan tubuh ini, manusia diharapkan untuk mampu menyusup dan mempelajari Na’vi. Di antara berbagai spesies yang ada di Pandora, Na’vi dinilai sebagai calon ancaman. Selain ciri fisiknya menyerupai manusia, Na’vi memiliki fisik yang lebih besar dan kuat. Hanya saja, mereka masih menggunakan cara hidup dan teknologi yang sederhana. Semua masih mengacu dan berhubungan dengan alam. Alam Pandora pulalah yang berhasil mempermanenkan perpindahan jiwa dan kesadaran manusia ke dalam avatar Na’vi mereka.

Ehwa adalah pohon kehidupan di Pandora yang memiliki kekuatan apiritual yang besar. Dengan bantuan Ehwa, Kopral Jake Sully (Sam Worthington) berhasil menjadi Na’vi seutuhnya. Usaha yang sama pun telah dilakukan kepada Dr. Grace Augustine (Sigourney Weaver), namun usaha ini dianggap gagal. Sebelum upacara pemindahan dilalukan, Grace sudah terlebih dahulu terluka akibat konfrontasi dengan Kolonel Miles Quaritch (Stephen Lang), sang komandan invasi manusia.

Pada akhirnya, Quaritch gugur dan Jake Sully berhasil memimpin Na’vi meraih kemenangan. Sebuah kemenangan legendaris yang dikenang oleh seluruh suku-suku Na’vi. Paling tidak ini adalah latar belakang yang tidak terlalu dijelaskan dengan lengkap pada Avatar: The Way of Water (2022).

Film ini dimulai dengan perdamaian di Planet Na’vi. Jake pun menikah dan dikaruniai 3 anak. Perpindahan avatar Dr. Grace memang dianggap gagal, namun di dalam tubuh Na’vi Dr. Grace, ditemukan bayi Na’vi kecil. Bayi ini diangkat anak sebagai bagian dari keluarga Sully. Ketika Quaritch gugur, beberapa anggotanya ada yang memutuskan untuk pulang ke Bumi. Sebagian lagi ada yang memutuskan untuk tinggal di Pandora, hidup damai bersama Na’vi. Anak kandung Quaritch sendiri, termasuk yang tinggal dan bermain bersama para Na’vi sejak kecil.

Bencana datang ketika manusia kembali datang dan menginvasi Pandora. Kali ini mereka tidak membawa teknologi Avatar. Mereka datang dengan kloning Na’vi. Jadi, manusia berhasil mengkloning kesadaran beberapa tentara handal ke dalam tubuh Na’vi. Kloning Quaritch ada di antaranya.

Pertempuran sengit pun terjadi dan manusia kali ini datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Jake dan keluarganya sampai harus mundur keluar dari hutan. Mereka harus mengungsi ke wilayah kepulauan yang dihuni oleh suku Metkayina.

Di sana, kita dibawa ke dalam dunia Pandora yang lebih luas dan beranekaragam. Ternyata di dalam Pandora terdapat berbagai spesies lain yang tak kalah kuatnya dengan Na’vi. Spesies Na’vi pun terdiri dari berbagai suku dengan adat dan budaya yang berbeda-beda.

Sang sutradara seolah tidak segan-segan untuk membeberkan ini semua dalam waktu yang cukup lama. Jangan kaget kalau Avatar: The Way of Water (2022) memakan waktu hingga 3 jam-an hohohoho. Masuk bioskop siang, keluar bioskop sudah sore, ganasss :’D. Dengan visual yang cantik, saya tetap betah menonton film ini meskipun kadang agak terasa lambat yaa. Bagusnya film ini adalah bagaimana menampilkan alam bawah laut Pandora yang nampak indah. Tidak rugi deh kalau menonton Avatar: The Way of Water (2022) di bioskop atau layar lebar, kereeennnn.

Tapi jangan berharap untuk menyaksikan adegan peperangan yang spektakuler. Adegan aksinya memang ok, tapi memang terasa sedikit dan relatif biasa-biasa saja. Film ini lebih fokus untuk memperkenalkan alam Pandora beserta ada para suku Metkayina yang hidup di kepulauan.

Selain itu, ceritanya sendiri memang panjang. Banyak permasalahan yang muncul di sana. Mulai dari masalah invasi, adaptasi keluarga Sully di tempat baru, misteri bagaimana Dr. Grace memiliki anak, hubungan antara anak Quaritch dengan kloningan Quaritch, dan lain-lain. Sebagian terjawab, sebagian masih menyisakan misteri hingga akhir film.

Sepertinya Avatar: The Way of Water (2022) dijadikan pembuka bagi sebuah franchise baru. Sudah hampir dipastikan film ini akan ada kelanjutannya. Saya pun kemungkinan besar akan menontonnya bila tak ada halangan.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Avatar: The Way of Water (2022) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebenarnya ini merupakan sebuah penurunan bila dibandingkan dengan Avatar (2009). Banyak misteri yang tidak jelas akhirnya, kemudian ada beberapa bagian film yang terasa lambat sekali. Tapi secara keseluruhan, yaaa masih baguslah :).

Sumber: http://www.avatar.com

Puus in Boots: The Last Wish (2022)

Puus in boots atau kucing bersepatu boot sebenarnya merupakan salah satu karakter dongeng sewaktu saya masih kecil. Karakter ini muncul pada film-film Shrek. Namun saya pribadi kurang suka dengan film-film Shrek. Meskipun patut diakui bahwa film-film tersebut memiliki pesan moral yang baik.

Puus in Boots (2011) hadir sebagai spin-off dari film-film Shrek. Sayang film tersebut agak kurang lucu dan membosankan bagi saya pribadi. Maka saya agak skeptis ketika Si Kucing hadir kembali pada pergantian tahun ini. Saya pun menonton Puus in Boots: The Last Wish (2022) karena ini adalah satu-satunya film yang masuk kategori Semua Umur. Saya sekeluarga bisa masuk bioskop menontonnya.

Antonio Banderas masih menjadi pengisi suara Puus. Sebagai pemeran Zorro pada The Mask of Zorro (1998) & The Legend of Zorro (2005), Antonio memang menjadi pilihan yang paling pas bagi Puus. Karakter Puus memang sangat mirip dengan Zorro. Mulai dari cara berkelahi sampai cara berkelakar, Puus merupakan versi animasi dari Zorro. Dengan penuh rasa percaya diri, Puus berani menentang penguasa dan mengalahkan segalanya.

Namun belakangan terdapat sebuah peristiwa yang membuat Puus kehilangan kepercayaan dirinya. Ia pun memutuskan untuk pensiun dan hidup sebagai kucing biasa. Hadirnya sebuah kabar mengenai bintang jatuh yang dapat mengabulkan permintaan, berhasil membuat Puus bangkit. Ia kembali untuk meramaikan arena perebutan bintang jatuh.

Agak klise, terjadi perebutan dimana-mana. Semua karakter berburu bintang jatuh untuk memperoleh keinginan masing-masing. Sudah dapat ditebak bahwa memperoleh keingingan dari bintang jatuh, bukanlah segala-galanya. Masing-masing karakter dalam perjalannya menyadari bahwa apa yang dicari sebenarnya sudah ada di depan mana … yah keculi satu karakter yang memang didesain untuk menjadi mahluk serakah. Sekali lagi, sebuah franchise dari Shrek mampu memberikan pesan moral yang sangat baik. Namun kalau dari segi hiburan, terkadang agak membosankan. Leluconnya pun tidak terlalu lucu, hanya mampu membuat saya tersenyum tipis.

Beruntung animasi yang ditampilkan merupakan sebuah keunggulan yang tidak dapat dipungkiri. Film ini memberikan visual yang memukau untuk film animasi keluaran tahun 2022 akhir. Adegan aksinya otomatis nampak seru dan enak ditonton oleh anak-anak dan orang dewasa.

Film kedua Puus ini memang lebih baik daripada film pertamanya. Secara keseluruhan, Puus in Boots: The Last Wish (2022) layak untuk meperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sementara ini, inilah nilai maksimum yang bisa saya berikan kepada film-film di semesta Shrek. Mungkin saya pribadi saja yang tidak terlalu cocok dengan Shrek dan kawan-kawan :).

Sumber: http://www.dreamworks.com

Serial I Am Groot

Groot adalah anggota sekelompok superhero yang disebut Guardian of the Galaxy. Pada saat pertama kali diperkenalkan di layar lebar, Groot bertubuh tinggi besar. Ia merupakan ras alien flora colossi dari Planet X. Memiliki wujud fisik menyerupai tumbuhan raksasa yang hidup, Groot ternyata memiliki berbagai sifat mulia. Bahkan pada Guardians of the Galaxy (2014), Groot mengorbankan dirinya demi menyelamatkan teman-temannya.

Dari abu sisa-sisa tubuh Groot, lahirlah mahluk kecil yang dipanggil Baby Groot. Sebagai mahluk dari ras flora colossi, perkataan Baby Groot agak sulit dipahami. Satu-satunya kalimat Baby Groot yang mudah dipahami adalah I am Groot. Yaahhh, kalimat inilah yang menjadi judul serial mengenai Baby Groot. Sehari-harinya, Baby Groot tinggal di pesawat luar angkasa bersama Guardian of the Galaxy. Sesekali ia ikut mendarat di planet asing dan bertualang bersama mereka.

Bertarung dan bertualang bukanlah inti cerita dari I Am Groot. Kelucuan-kelucuan dari tingkah Baby Groot adalah topik utama daru serial ini. Groot kecil selalu menemukan mesalah baru yang harus ia selesaikan dengan caranya sendiri.

Penampilan Baby Groot yang polos dan imut sangat mendukung jalan cerita I Am Groot. Siapapun yang melihat Baby Groot, pastilah langsung jatuh hati. Ia adalah bintang utama pada serial ini. Semua yang ia lakukan berhasil membuat saya dan anak-anak saya tersenyum atau tertawa.

Serial ini terbilang komplit untuk dijadikan sebagai tontonan keluarga. Semua dapat menonton I Am Groot dengan aman. Tidak ada selipan isu-isu dewasa di sana. Saya ikhlas untuk memberukan I Am Groot nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com

Ghostbusters: Afterlife (2021)

Ghostbusters mengisahkan sekelompok ilmuwan yang menggunakan sains untuk menangkap hantu. Saya pernah membaca komik Ghosbusters dan film layar lebarnya. Pada 2016, franchise ini mengalami reboot melalui Ghostbusters: Answer the Call (2016). Tokoh imuwan yang pada awalnya laki-laki semua, berubah menjadi wanita. Saya sebenarnya suka dengan reboot ini. Namun sepertinya film Ghostbusters selanjutnya bukan lagi mengenai mereka. Sebagai film terbaru Ghostbusters, Ghostbusters: Afterlife (2021) sangat berkaitan dengan kisah awal franchise ini, keempat ilmuwan pria pendiri Ghostbusters.

Pada tahun 80-an, keempat ilmuwan pria beberapa kali menyelamatkan dunia dari ancaman hantu-hantu. Puncaknya adalah ketika New York mengahadapi serangan besar dari Vigo dan Gozer The Gozerian Sang Dewa Kehancuran Sumeria. Dengan menggunakan nama Ghostbusters, para ilmuwan tersebut berhasil menangkap para hantu. Mereka melakukan tugasnya dengan sangat baik sampai-sampai, keluhan akan gangguan hantu semakin menurun. Terus menurun sampai akhirnya Ghostbusters pun hanyalah sebuah sejarah.

Bertahun-tahun kemudian, sebuah keluarga datang ke kota kecil di Oklahoma. Mereka menerima warisan berupa sebuah tanah yang luas beserta sebuah gudang dan sebuah rumah tua. Keluarga tersebut terdiri dari si ibu yaitu Callie (Carrie Coon), dan kedua anaknya yaitu Trevor (Finn Wolfhard) dan Phoebe (Mackenna Grace). Ketiganya mengalami berbagai kejadian aneh ketika tinggal di kota tersebut. Perlahan, mereka baru menyadari bahwa aset yang mereka dapatkan bukanlah tanah biasa atau rumah tua biasa. Di sana terdapat berbagai perlengkapan Ghostbusters lengkap dengan mobilnya.

Entah apa yang terjadi di sana. Namun kota kecil tersebut ternyata tidak aman. Bencana yang puluhan tahun lalu terjadi di New York, bisa saja terjadi di Oklahoma. Phoebe yang sangat cerdas berhasil menemukan cara untuk mengoperasikan senjata dan perangkap Ghostbusters. Pada awalnya saya pikir karakter Trevor akan dominan pada film ini. Ternyata saya salah besar. Karakter Phoebe berhasil tampil menonjol. Kerja yang sangat bagus dari Mackenna Grace sebagai pemeran Phoebe.

Phoebe, Trevor dan ditambah oleh teman sekolah mereka, jadilah semacam Ghostbusters baru. Pemburu hantu baru yang masih belia dan harus banyak belajar. Saya tidak menyangka bahwa Ghostbusters yang diisi oleh sekelompok remaja, bisa menghasilkan sebuah cerita yang menarik. Unsur misteri dan penyelidikan dari film ini berhasil menjadi sesuatu hal menyenangkan untuk diikuti. Tak lupa terdapat pula beberapa humor ringan yang dapat menyegarkan suasana :).

Bagian akhirnya pun terbilang mengharukan bagi para pecinta Ghostbusters original. Ghostbusters: Afterlife (2021) memang banyak mengandung nostalgia dan bagian akhir film ini adalah puncaknya.

Saya sendiri terlalu kecil untuk mengikuti kisah Ghostbusters ketika komik dan filmnya baru hadir. Tanpa aroma nostalgia pun, saya tetap menyukai Ghostbusters: Afterlife (2021). Film ini layak untuk memperoleh bilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.ghostbusters.com

The Bad Guys (2022)

The Bad Guys (2022) merupakan film animasi terbaru dari DreamWorks. Sesuai judulnya, film ini mengisahkan sekelompok penjahat profesional yang bernama The Bad Guys. Masing-masing anggota memiliki kelebihan dan peranan tertentu dalam melancarkan aksinya.

Semua terasa mudah sampai The Bad Guys berusaha mencuri piala Golden Dolphin Awards. Beberapa penjahat ternama sudah merasakan pahitnya kegagalan ketika berusaha mencuri piala ini. Satu diantaranya bahkan sampai menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.

Rintangan The Bad Boys kali ini bukan hanya jeruji besi. Melainkan perubahan hati para anggotanya. Kawanan penjahat ini berpura-pura menjadi penjahat yang insyaf demi mencuri piala Golden Dolphin Awards. Lama kelamaan tanpa mereka sadari, berbuat baik itu ternyata menyenangkan.

Perubahan sosok jahat menjadi sosok baik memang sudah banyak sekali diangkat oleh film-film lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa pesan moral The Bad Guys (2022) memang berhubungan dengan itu. Seorang penjahat kelas dapat berubah menjadi menjadi seseorang yang baik dan berhenti melakukan kejahatan.

Hanya saja, The Bad Guys (2022) menyampaikan pesan moral tersebut dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Jalan ceritanya penuh lika-liku, namun tidak membingungkan. Akhir ceritanya yah memang jelas bisa ditebak. Tapi pertengahan ceritanya benar-benar penuh kejutan.

Ditambah dengan gaya animasi yang halus dan unik, The Bad Guys (2022) semakin nyaman untuk ditonton. Grafik 2D dengan gaya tulisan tangan di mana-mana memang menjadi trend baru bagi berbagai film animasi berbudget besar.

Saya suka dengan visual, pesan moral dan kisah dari The Bad Guys (2022). Film ini sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Kisah yang diadaptasi dari buka anak-anak karangan Aaron Blabey ini, kemungkinan akan menelurkan sekuel. Kita tunggu sajaaa ;).

Sumber: http://www.thebadguysmovie.ca

Turning Red (2022)

Pada awal tahun 2022, Walt Disney kembali menelurkan sebuah film animasi. Apakah akan ada putri baru kali ini? Jawabnya antara ya dan tidak. Turning Red (2022) mengambil latar belakang kota Toronto di Kanada pada tahun 2002. Bukan di zaman kerajaan yaaa.

Tokoh utamanya adalah Meilin “Mei” Lee (Rosalie Chiang), seorang remaja keturunan Tionghoa yang tinggal di Kanada. Mei memiliki banyak sahabat. Ia memiliki kepribadian yang supel dan mudah berteman. Yang Mei tidak sadari adalah ternyata ia adalah keturunan dari seorang bangsawan Tiongkok.

Hal ini memberikan Mei sebuah kekuatan sekaligus kutukan. Tergantung bagaimana kita memandangnya. Pada kondisi tertentu semua wanita yang berada di satu garis keturunan dengan Mei, dapat berubah menjadi seekor panda merah raksasa.

Perubahan wujud inilah yang menjadi topik utama Turning Red (2022). Mei harus belajar untuk beradaptasi dengan kondisinya. Tidak hanya Mei, ternyata ibu Mei pun ternyata masih menghadapi masalah kurang lebih sama. Dalam perjalanannya permasalahn terkait hubungan ibu dan anak pun ikut terpecahkan.

Terdapat bagian mengharukan pada bagian akhir film. Sayang alur ceritanya agak membosankan dan klise. Kelebihan dari Turning Red (2022) adalah pada karakter Mei yang energik. Tanpanya, film ini akan sangat hambar. Secara keseluruhan, Turning Red (2022) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: movies.disney.com

The Croods: A New Age (2020)

The Croods (2013) mengisahkan keluarga Crood yang hidup di jaman prasejarah. Keluarga ini hidup di dalam gua dengan menggunakan cara-cara lama. Cara ini dianggap ampuh mempertahankan kehidupan mereka di tengah-tengah berbagai bencana alam. Paling tidak, itulah keyakinan Grug Crood (Nicholas Cage) sebagai kepala keluarga.

Kemudian hadir seorang remaja pria bernama Guy (Ryan Reynolds). Guy tampil dengan wujud menyerupai manusia modern. Ia hadir dengan berbagai ide baru. Ia bahkan mengatakan bahwa ada sebuah tempat di luar sana yang seperti surga bagi manusia. Sebuah tempat yang lebih aman dan lebih baik daripada gua yang keluarga Croods tempati. Melalui serangkaian konflik dan bencana alam maha dahsyat. Keluarga Croods akhirnya keluar dari gua mereka dan hidup berpindah-pindah dengan hewan piaraan mereka.

Kisah The Croods (2013) pun berlanjut pada The Croods: A New Age (2020). Walaupun agak berbeda, Guy sudah menjadi bagian dari keluarga Croods. Ia bahkan menjalin percintaan dengan Eep Crood (Emma Stone), putri sulung Grug Crood. Timbul ketakuan di dalam diri Grug. Ia khawatir kehilangan putri kesayangannya bila Eep dan Guy pergi membangun keluarga baru. Sejak dulu, Grug memang kurang suka dengan perubahan. Padahal dengan pola hidup yang terus berpindah-pindah, Grug tentunya akan menemukan berbagai hal baru.

Sebuah hal baru yang kemungkinan besar akan mengubah kondisi keluarga Croods, adalah ketika pada suatu hari mereka menemukan sebuah tembok. Dibalik tembok tersebut, mereka menemukan sebuah wilayah seperti yang Guy ceritakan pada saat ia pertama kali datang.

Di sana, tinggal keluarga Betterman yang memiliki ciri fisik seperti Guy. Keluarga ini berhasil mengembangkan berbagai teknologi untuk menciptakan kehidupan yang lebih nyaman. Wilayah yang keluarga Betterman kelola memang nampak seperti surga bagi manusia prasejarah.

Sayangnya, dibalik semua itu, keluarga Betterman memiliki niat buruk untuk mengambil Guy dari Croods. Mereka ingin mengusir Grug dan keluarganya, namun mereka ingin Guy tetap tinggal dan menikahi anak perempuan mereka. Saya pikir ini akan menjadi kisah cinta segitiga. Walaupun potensi itu ada, aaahhh ternyata tidak. Syukurlah cerita film ini tidak dibawa ke arah sana. Kisah cinta-cintaan bukanlah fokus utama The Croods: A New Age (2020).

Film ini lebih banyak menceritakan mengenai persatuan dan kekompakan sebuah keluarga. Ditengah-tengah lingkungan yang baru, apakah keluarga Croods tetap bersatu. Begitu pula dengan keluarga Betterman yang ternyata memiliki kekurangan juga.

Praktis tidak ada tokoh antagonis pada film ini. Keluarga Betterman pun tidak nampak jahat. Mekipun memiliki niat kurang baik, mereka tidak tampil sebagai tokoh jahat. Semua hanya karena perbedaan cara hidup dan pola pikir saja.

Sekilas, kisah The Croods ini agak mirip dengan serial The Flintstones ya. Ah itulah yang membuat saya agak telat menonton film ini. Pada dasarnya saya kurang suka dengan The Flintstones. Ternyata The Croods: A New Age (2020) mengambil tema yang lebih serius, namun tetap dengan selingan humor di tengah cerita. Sayangnya ada beberapa bagian cerita yang klise dan membosankan.

Secara keseluruhan, film ini mampu memberikan hiburan ringan dengan pesan moral yag baik. The Croods: A New Age (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sekuel ini tetap lebih menarik ketimbang pendahulunya, yaitu The Croods (2013).

Sumber: http://www.dreamworks.com

Rumble (2021)

Dahulu kala ada masanya saya gemar menonton pertandingan WCW dan WWE. Pertandingan gulat yang dibumbui berbagai drama. Maklum, baik WCW maupun WWE sama-sama menampilkan pertarungan gulat dengan hiburan sebagai tujuan utamanya. Bagaimana kalau WWE bekerjasama dengan perusahaan film untuk membuat sebuah animasi? Lahirlah Rumble (2021) yang temanya memang tidak jauh dari pertandingan di dalam ring.

Hanya saja, yang bertarung di dalam ring bukanlah The Rock atau Hulk Hogan. Melainkan berbagai monster yang muncul di Bumi. Dikisahkan bahwa berbagai monster datang ke Bumi dan berhasil berbaur dengan manusia. Para monster hadir dengan wujud yang unik beserta berbagai kelebihan lainnya. Mereka pun meraih popularitas ketika bertarung di dalam ring. Penampilan para monster ini sangat menarik bagi penduduk Bumi lainnya.

Setiap monster yang bertarung di liga profesional, bertarung mewakili sebuah kota. Kota tersebut tentunya meraih keuntungan dari penjualan tiket, baju dan lain-lain. Stoker adalah kota kecil yang sangat terkenal karena pertarungan monster ini. Kota ini telah memiliki monster dan pelatih yang legendaris. Ketika sedang ada di puncak, monster yang mewakili Stoker mendadak membelot dan pergi untuk mewakili kota lain. Sebuah kota yang ditopang oleh anak dari seorang pengusaha ternama.

Tanpa monster andalannya, keuangan Stoker sangat terancam. Tanpa monster yang memegang sabuk juara, pendapatn Stoker tentunya menukik turun. Stadium dan tempat latihan mosnter miliki kota tersebutkan terpaksa dijual.

Winnie Coyle (Geraldine Vuswanathan) adalah anak dari pelatih legendaris yang dulu pernah membuat Stoker berjaya. Ia pun tidak rela kejayaan Stoker hancur di depan matanya. Sejak kecil, Winnie dibesarkan di lingkungan arena para monster. Maka ia pun sebenarnya memiliki keahlian untuk melatih monster. Winnie pun pergi untuk mencarikan monster baru bagi Stoker.

Di kota seberang, Winnie menemukan Steve (Will Arnett), seorang monster yang selalu kalah di dalam ring. Winnie melihat bakat terpendam Steve. Itulah mengapa Winnie bersikeras untuk membawa Steve mewakili Stoker. Steve yang seperti bukan siapa-siapa, diharapkan untuk dapat menyelamatkan Stoker dari kebangkrutan.

Kisah from hero to zero pada Rumble (2021) memang mudah ditebak. Namun pembawaannya sangat menghibur dan jauh dari kata bosan. Saya suka dengan bagaimana masa lalu Steve terkuak. Kemudian masalah yang dihadapi Steve dan Winnie pun terasa nyaman ditonton. Tidak terlalu menyebalkan dan tidak terlalu lambat.

Tetdapat beberapa hal yang mengingatkan saya akan WWE pada film ini. Mulai dari ringnya, sampai komentatornya. Saya pun melihat ada beberapa drama ala WWE yang muncul di sana. Menonton Rumble (2021) seperti membangkitkan nostalgia masa lalu. Saya memang sudah tidak pernah menonton WWE lagi.

Saya ikhlas untuk memberikan Rumble (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Bagi yang dahula kala sempat menonton SmackDown di TV Nasional, mungkin akan sedikit teringat aka beberapa hal ketika menonton Rumble (2021)

Sumber: http://www.paramountplus.com

Luca (2021)

Luca (2021) adalah film animasi jebolan Walt Disnet & Pixar yang mengisahkan petualangan si monster laut cilik, Luca Paguro (Jacob Tremblay). Ia dan keluarganya tinggal jauh di dasar laut. Uniknya, bangsa monster laut pada Luca (2021) dapat berubah menjadi manusia biasa ketika berada di darat dan tidak terkena air.

Selama ini, manusia dan monster air memang bermusuhan. Manusia akan menangkap atau menyerang monster air ketika mereka melihatnya. Itulah mengapa para monster air memilih untuk hidup damai di dasar laut, jauh dari jangkauan manusia. Perbedaan membuat kedua jenis mahluk ini saling menjauh dan tidak bersahabat.

Berbeda dengan monster air lain, Luca justru tertarik dengan dunia manusia. Setelah berkenalan dengan Alberto Scarfano (Jack Dylan Grazer), Luca memilih untuk diam-diam pergi ke darat dan berbaur dengan manusia. Alberto sendiri merupakan monster laut yang sering pergi ke daratan. Kedua sahabat baru ini pergi ke sebuah kota nelayan kecil di Italia. Selama Luca dan Alberto tidak basah, tidak akan ada yang mengetahui bahwa keduanya bukan manusia.

Dalam perjalanannya, Luca dan Alberto menjadi terobsesi dengan Vespa. Untuk memperoleh Vespa idamannya, mereka akhirnya menjalin persahabatan dengan beberapa penduduk kota. Apakah tali persahabatan tersebut akan terceraiberai bila semuanya mengetahui bahwa Luca dan Alberto merupakan monster air?

Fokus utama kisah Luca (2021) adalah mengenai bagaimana perbedaan tidak seharusnya menghalangi persahabatan. Monster laut atau manusia, semuanya sebenarnya bisa hidup damai berdampingan. Sebuah pesan moral yang sangat baik bagi para penontonnya.

Sayangnya, dunia yang menjadi latar belakang Luca (2021), tidak terlalu dibahas dengan jelas. Kenapa kok monster laut kalau tidak terkena air, bisa berjalan layaknya manusia biasa? Memang mereka semua anak cucunya Ariel si Putri Duyung? Rasanya, masih banyak hal yang dapat memperkaya Luca (2021) tapi tidak dipergunakan. Bagi saya pribadi, kisah Luca (2021) agak terlalu sederhana dan mudah ditebak. Ditambah dengan humor yang agak tipis, Luca (2021) terkadang membosankan.

Dengan demikian Luca (2021) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jarang-jarang nih tokoh utama film Pixar dan Disney menggunakan anak laki-laki sebagai protagonis utamanya, biasanya perempuan.

Sumber: http://www.pixar.com