Thor: Love and Thunder (2022)

Thor: Love and Thunder (2022) adalah film solo ketiga dari Thor Odison (Chris Hemsworth), sang dewa petir. Tentunya film ini adalah bagian dari MCU (Marvel Cinematic Universe) sehingga ada sedikit kesinambungan dengan film-film MCU sebelumnya. Sebagai pengantar, Thor telah menjadi superhero yang memenangkan berbagai perang besar. Beberapa diantaranya membuat Thor harus kehilangan Mjolnir, palu kesayangan Thor. Setelah Mjolnir hancur, Thor memperoleh senjata baru yang disebut Stormbreaker. Sekilas memang mirip dengan Mjolnir, namun bedanya, Stormbreaker mampu memanggil bifrost. Bifrost merupakan kekuatan untuk berkelana ke berbagai tempat dan dimensi dalam waktu singkat. Bagaimana nasib pecahan Mjolnir? Menjadi salah satu objek wisata di Bumi.

Tanpa Thor sadari, sebuah permintaan tulus darinya telah membuahkan jembatan hubungan antara Mjolnir dengan Jane Foster (Natalie Portman). Ketika Jane datang untuk melihat pecahan Mjolnir, seketika itu pula Mjolnir menyatu dan mengubah Jane menjadi Thor. Seketika Jane dapat memiliki kostum dan semua kekuatan Thor. Hanya saja, dibalik semua itu, Jane sebenarnya sekarat.

Dimana Thor? Setelah memenangkan peperangan besar melawan Hela dan Thanos, ia berkelana bersama The Guardians of the Galaxy. Namun beberapa peristiwa genting membuat Thor untuk kembali ke Bumi dan pada akhirnya bertemu dengan Jane.

Mereka harus berhadapan dengan Gorr (Christian Bale), sang penjagal dewa. Satu per satu dewa-dewi yang ada di semesta, berhasil Gorr bunuh. Berawal dari sebuah kekecewaan dan kebencian terhadap dewa, Gorr berhasil mengangkat necrosword. Dengan senjata tersebut, Gorr memiliki kekuatan besar yang mempu membunuh para dewa.

Awalnya saya pikir, Thor: Love and Thunder (2022) merupakan peralihan karakter Thor menjadi Jane. Saat ini MCU sedang melakukan penyegaran dengan mengganti dan menambah deretan superhero-nya. Hampir semua superhero MCU lawas sudah memiliki film “peralihan”. Saya pikir, inilah saatnya Thor memiliki pengganti. Aahhh ternyata dugaan saya kurang tepat.

Agak ambigu apakah Jane menjadi karakter pangganti Thor pada film-film MCU berikutnya. Pada film ini, Jane memang memiliki porsi yang cukup besar. Namun ternyata terdapat karakter lain yang muncul dan mendampingi Thor pada bagian akhirnya. Kata-kata Love pada judul Thor: Love and Thunder (2022) ternyata memiliki arti tersendiri. Wah keren juga, ini adalah hal yang tidak saya duga.

Selain itu, adegan pertarungannya terbilang seru. Memainkan kombinasi dengan warna hitam putih membuat Thor: Love and Thunder (2022) terlihat semakin menarik. Warna-warni nuansa 80-an pun terlihat sangat dominan di mana-mana. Mirip seperti Thor: Ragnarok (2017), film ketiga Thor ini menggunakan atribut dan lagu yang berhubungan dengan budaya 80-an. Semua terlihat bagus, jadi saya pribadi tidak ada masalah dengan ini.

Gorr berhasil tampil sebagai tokoh antagonis yang ganas. Temanya agak horor tapi agak tanggung. Karakter yang satu ini memiliki potensi untuk tampil lebih ganas lagi. Namun yaaah mungkin pihak produser melarang ini. Kalau terlalu menyeramkan, nanti Thor: Love and Thunder (2022) gagal masuk ketegori film PG13. Kalau sampai masuk ke kategori R atau NC-17, otomatis jumlah penontonnya lebih dibatasi lagi. Sayang sekali kalau kualitas sebuah film dibatasi oleh faktor komersil seperti ini.

Selain unsur horor, kali ini unsur komedinya banyak sekali. Semuanya bertebaran dimana-mana. Komedinya bukan komedi yang membuat penonton terawa terpingkal-pingkal ya, cukup senyum-senyum saja. Sayangnya otomatis Thor: Love and Thunder (2022) terlihat menjadi film yang tidak terlalu serius.

Dengan demikian, Thor: Love and Thunder (2022) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kabarnya Thor masih akan memiliki lagi setelah Thor: Love and Thunder (2022). Jadi dari beberapa deretan superhero lawas MCU, sementara ini hanya Thor masih akan terus hadir, entah sampai kapan. Semoga film keempatnya bisa lebih bagus lagi.

Ehem ehemmm …. Sedikit tambahan, Marvel dan Disney seperti biasa tak henti-hentinya berusaha untuk memasukkan unsur LGBT ke dalam film-filmnya. Tak terkecuali untuk Thor: Love and Thunder (2022). Film ini mengisahkan percintaan Thor dan Jane. Kemudian ada pula hubungan antara Thor dengan Mjolnir dan Stormbreaker yang sudah seperti mahluk hidup saja, bagian ini tergolong lucu yaaa. Di antara hubungan-hubungan tersebut, disisipikan hubungan LGBT yang dibawakan oleh 2 karakter lain. 2 karakter yang rasa sih kalaupun tidak ada, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita utama. Saya jadi merasa, fungsi keberadaan mereka yah hanya sebagai bahan untuk menyisipkan pesan LGBT. Kali ini pesannya cukup terlihat jelas, bukan hanya sekilas hehehe. Yah walaupun film ini termasuk PG13 yang artinya anak umur 13 tahun ke atas boleh menonton. Saya pribadi tidak menyarankan untuk membawa anak-anak untuk menonton film ini. Biarlah orang yang sudah cukup umur dan matang untuk dapat mengambil sikap mengenai pesan LGBT yang muncul. Jangan anak-anak di bawah umur yang masih polos. Sekian terimakasih, hohohoho.

Sumber: http://www.marvel.com

Serial Only Murders in The Building

Serial Only Murders in The Building merupakan serial komedi misteri yang pertama kali hadir pada akhir 2021 lalu. Semua diawali dengan kasus pembunuhan di dalam Apartemen Arconia yang luas dan megah. Beberapa penghuni pun melakukan penyelidikan mandiri dan berhasil menemukan berbagai fakta yang belum pihak kepolisian ungkap.

Tanpa disadari, beberapa penghuni apartemen sebenarnya memiliki petunjuk akan kasus tersebut. Beberapa diantaranya justru memiliki rahasia yang mengaitkan kasus pembunuhan ini dengan kasus-kasus lain di masa lalu. Pengungkapan berbagai fakta, justru membuat lebih banyak orang terlibat dan terkait. Bahkan pada akhirnya menghasilkan kasus-kasus kriminal lain di gedung tersebut.

Walaupun setiap episodenya bersambung, serial ini berhasil menampilkan aksi penyelidikan yang menyenangkan untuk ditonton. Beberapa humor ringan yang diselipkan pun, mampu membuat Only Murders in The Building semakin menarik untuk diikuti.

Terlebih lagi karakter-karakternya terbilang menarik dan berhasil membuat saya peduli. Paling tidak pada musim perdananya terdapat 3 tokoh utama yang diperankan oleh Steve Martin, Steve Short dan Selena Gomez. Ketiganya berhasil menampilkan pertunjukan yang sangat bagus. Chemistry trio ini menjadi salah satu kelebihan dari serial ini. Ternyata Selena Gomez jago berakting juga.

Sudah lama saya tidak mengikuti film seri misteri komedi seperti Only Murders in The Building. Saya yang kurang suka dengan film seri bersambung, merasa tidak keberatan menonton serial bersambung yang satu ini. Setiap episodenya mampu memnghibur walaupun sopasti akan bersambung pada bagian akhirnya. Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Only Murders in The Building nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.hulu.com

Free Guy (2021)

Dunia video game terus berkembang hingga melahirkan berbagai fitur yang canggih. Permainan pun lama kelamaan semakin terlihat nyata bagi para pemainnya. Hal inilah yang terjadi pada permainan Free City pada film Free Guy (2021).

Free City digambarkan sebagai sebuah video game yang sangat populer. Di sana, semua pemain diperbolehkan melakukan apa saja. Pemain bahkan sampai diperbolehkan melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dunia nyata seperti merampok, membunuh, mencuri dan lain-lain. Singkat kata, Free City adalah sama persis dengan Grand Theft Auto hehehehe.

Dalam setiap petualangan, seorang pahlawan tentunya membutuhkan korban, penjahat atau figuran. Disinilah peran NPC (Non Playable Character) dibutuhkan. NPC merupakan karakter-karakter yang dikendalikan oleh komputer agar membuat permainan terasa lebih seru.

Sebut saja Guy (Ryan Reynolds) adalah salah satu NPC dari video game Free City. Setiap hari, setiap saat, Guy dan kawan-kawan NPC-nya melakukan rutinitas yang sama, berulang-ulang. Pada suatu waktu, Guy tiba-tiba memiliki keinginan untuk melakukan hal yang berbeda. Ia bahkan menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan misi-misi yang dilakukan oleh pemain. Seketika, Guy menjadi tokoh video game terpopuler di dunia nyata. Namun tak lama lagi, dunia Guy akan hancur dan ia harus menyelamatkannya.

Pada awalnya, ketika melihat trailer-nya, saya merasa bahwa Free Guy (2021) agak mengada-ada. Namun, ketika saya melihat filmnya secara keseluruhan, semua sangat masuk akal. Alasan mengapa dunia Guy akan hancur dan mengapa Guy seketika memiliki keinginan, sangat logis dan menarik untuk diikuti. Di dunia nyata, di luar Free City, ternyata memang ada perseteruan lain yang melibatkan keserakahan dan penghianatan.

Semuanya dibalut oleh komedi segar yang menghibur. Jadi, Free Guy (2021) tidak terasa terlalu serius dan membosankan. Saya suka dengan penempatan komedi yang tepat pada film ini.

Fakta bahwa Free City dibuat sangat mirip dengan Grand Theft Auto membuat saya dapat lebih relate dengan film ini. Kok bisa? Saya sering bermain video game Grand Theft Auto ketika masih kuliah dulu. Permaian tersebut memang sempat populer dahulu kala. Sampai sekarang pun masih banyak yang memainkan Grand Theft Auto.

Saya pribadi ikhlas memberikan Free Guy (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Konon film yang satu ini akan ada sekuelnya. Kita tunggu saja ;).

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com

The Suicide Squad (2021)

Masih ingat dengan Suicide Squad (2016)? Film superhero DC Comics yang tidak terlalu sukses, meskipun sudah ada aktor sekelas Will Smith di dalamnya. Saya sendiri tidak berharap banyak terhadap sekuelnya, yaitu The Suicide Squad (2021). Apalagi, sekilas kok sepertinya mirip yah. The Suicide Squad (2021) masih mengisahkan Task Force X yang dipimpin oleh Amanda Waller (Viola Davis). Amanda merekruit berbagai narapidana berkekuatan khusus untuk melaksanakan misi yang sangat berbahaya. Film ini kembali menampilkan berbagai karakter DC Comics yang tidak terlalu terkenal. Captain Boomerang (Jai Courtney), Kolonel Rick Flag (Joel Kinnaman) dan Harley Quinn (Margot Robbie) kembali hadir di sini. Sementara ini karakter Deadshot (Will Smith) pada Suicide Squad (2016), tidak hadir dan digantikan oleh Bloodsport (Idris Elba). Deadshot dan Bloodsport memiliki atribut, kisah dan kemampuan yang sangat mirip. Keduanya pun sama-sama menjadi figur pemimpin Task Force X, pada 2 film yang berbeda tentunya.

Bagaimana dengan lawan dari Task Force X kali ini? Agak standard siy, sebuah monster super besar & super kuat yang dapat menghancurkan dunia. Bagaimana pertemmpuran terjadi pun sebenarnya agak mudah ditebak. Sudah banyak sekali film-film superhero yang mengambil topik seperti ini. Apakah The Suicide Squad (2021) akan sedatar Suicide Squad (2016)?

Kali ini pihak DC Comics melakukan sesuatu yang berbeda. Kursi sutradara The Suicide Squad (2021) kali ini diduduki oleh James Gunn yang sukses menggarap film superhero Marvel seperti Guardians of the Galaxy (2014). Dengan demikian, The Suicide Squad (2021) hadir dengan nuansa komedi yang lebih kental. film ini pun tidak segelap atau sekelam film-film DC Comics sebelumnya. Jalan ceritanya memang sangat mudah ditebak, namun eksekusinya terbilang unik.

James Gunn tidak segan-segan mematikan berbagai karakter DC Comics pada film ini. Semua dilakukan tanpa melihat apakah karakter tersebut diperankan oleh aktor/aktris ternama atau tidak. Sepanjang film, saya merasa bahwa siapapun bisa saja tiba-tiba tewas. Toh mereka semua memang ibaratnya hanya karakter kelas B, bukan kelas premium seperti Superman atau Batman hehehehe.

Saya suka dengan komedi dan berbagai hal unik yang James Gunn bawa ke dalam The Suicide Squad (2021). Tapi film ini tetap saja menghadirkan adegan aksi yang tidak spesial dan jalan cerita yang tetap begitu-begitu saja. Maka, The Suicide Squad (2021) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kali ini DC Comics menghadirkan film komedi superhero yang tidak terlalu serius, sesuatu yang layak untuk ditonton sedari menunggu film Batman terbaru dirilis ;).

Sumber: http://www.thesuicidesquad.net

The Mitchells vs. the Machines (2021)

Masih ingat dengan Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)? Film kartun keluaran Sony tersebut menggunakan animasi yang unik dan bagus sekali. Pada tahun 2021 ini, Sony melakukannya lagi melalui The Mitchells vs. the Machines (2021). Gaya animasinya sangat mirip dan jauh dari kata membosankan. Dari segi kualitas animasi, Mitchells vs. the Machines (2021) merupakan salah satu film animasi terbaik di tahun 2021.

Bagaimana dengan ceritanya? Film yang pada awalnya akan dirilis dengan judul Connected pada 2020 ini, berbicara mengenai hubungan sebuah keluarga. Karena pandemi Corona dan alasan lainnya, akhirnya film inu baru dirilis pada akhir April 2021 dengan judul yang berbeda, Mitchells vs. the Machines (2021).

Mitchell adalah keluarga yang menjadi sentral film ini. Seperti keluarga Amerika lain pada umumnya, keluarga ini terdiri dari ayah, ibu dan 2 orang anak, … dan seekor anjing. Hubungan mereka tidak terlalu erat terutama antara si ayah dan anak perempuan sulungnya. Keduanya terus berselisih hampir di setiap kesempatan.

Untuk mempererat hubungan di dalam keluarga Mitchell, si ayah memutuskan untuk mengadakan perjalanan darat bersama-sama. Tujuan akhir mereka adalah mengatarkan si sulung ke kota California untuk melanjutkan pendidikan di sana.

Di tengah-tengah perjalanan, terjadi sebuah insiden pengambilalihan kendali Bumi oleh sekelompok mesin super canggih. Uniknya, hanya keluarga Mitchell saja yang gagal ditawan oleh para mesin. Sekarang, nasib seluruh umat manusia berada di tangan keluarga Mitchell yang penuh konflik dan jauh dari kata sempurna.

Kalau dilihat dari logika, jelas banyak sekali plot hole dan hal-hal yang tidak masuk akal terjadi pada film ini. Tapi semua masih dalam batas wajar. Semua tertutupi dengan animasi yang keren dan cerita yang bagus.

Pesan moral yang Mitchells vs. the Machines (2021) berikan pun, terbilang baik dan cocok bagi keluarga. Topik utama film ini memang hubungan keluarga. Semua disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan tidak menggurui.

Dengan demikian, saya rasa Mitchells vs. the Machines (2021) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini merupakan film keluarga yang berbicara mengenai keluarga. Namun, bagi beberapa penonton, ada 1 dialog yang menunjukkan LGBTQ secara samar. Yah namanya juga samar, tidak akan terlihat jelas apalagi bagi penonton Indonesia. Kenapa? Karena penonton Indonesia selama ini memang tidak merayakan hari raya Thanksgiving. Selain itu, orang Indonesia memiliki struktur nama yang berbeda dengan nama-nama orang Amerika. Jadi, 1 dialog LGBTQ samar-samar terkait Thanksgiving dan sebuah nama orang Amerika, tidak akan penonton Indonesia sadari. Saya sendiri tidak menyadarinya ketika pertama kali menonton Mitchells vs. the Machines (2021).

Sumber: http://www.sonypicturesanimation.com

Serial DC Super Hero Girls

Melalui franchise DC Super Hero Girls, DC Comics berusaha mengumpulkan superhero dan supervillain wanita ke dalam 1 format franchise yang sama. Konsepnya mengikuti Monster High dimana semua karakternya belajar bersama di sebuah sekolah. Kali ini bukan sekolah khusus monster, melainkan sekolah biasa. Inilah konsep yang diangkat oleh serial DC Super Hero Girls versi Cartoon Network yang mulai tayang pada 2019.

Konsep sekolah biasa di Metropolis ini rasanya bisa lebih diterima dan terasa lebih natural. Sangat berbeda dengan DC Super Hero Girls versi webseries yang mulai tayang pada 2015. Wah ada berapa versi DC Super Hero Girls sih? Setahu saya ya hanya 2 itu saja sementara ini. Tapi yang versi tahun 2015 itu terlalu serius dan cerita kurang menarik.

Sementara itu yang versi tahun 2019 ini lebih banyak humornya dan kasusnya lebih banyak intriknya. Kemudian karakter utamanya dibuat sedikit berbeda dari biasanya. Pada DC Super Hero Girls versi 2019 ini kita akan bertemu dengan Wonder Woman (Grey Griffin), Batgirl (Tara Strong), Supergirl (Nicole Sullivan), Green Lantern (Myrna Velasco), Zatanna (Kari Wahlgren) dan Bumblebee (Kimberly Brooks). Wonder Woman hadir sebagai pemimpin yang tegas, namun kurang memiliki pengetahuan mengenai kehidupan manusia modern. Batgirl tampil sebagai tokoh yang super cerdas dan sangat bersemangat, namun sering kali bertingkah konyol seperti anak kecil. Supergirl ditampilkan seperti wanita kuat dari perkampungan di Amerika bagian tengah, ia sering berbuat gegabah dan kurang dapat mengendalikan kekuatan supernya. Zatanna adalah pesulap wanita yang elegan dan modis. Green Lantern kali ini adalah Green Lantern versi Jessica Cruz yang kurang suka akan kekerasan dan sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Terakhir, Bumblebee merupakan superhero yang rendah diri padahal kemampuannya tetap bermanfaat bagi teman-temannya.

Seperti film tim superhero pada umumnya, DC Super Hero Girls selalu berbicara mengenai kerjasama dan persahabatan dalam menuntaskan berbagai kasus kejahatan. Karena sebagian besar karakternya wanita, maka otomatis serial inipun berbicara mengenai pemberdayaan wanita.

Kemudian, pembawaan karakter yang unik dan lucu membuat serial ini dapat menghibur penonton anak dan dewasa. Saya pribadi tidak merasa bosan ketika menemani anak saya menonton episode-episodenya.

Dari segi pendidikan, serial ini memang tidak terlalu istiimewa. Tapi dari segi hiburan, serial ini cukup istimewa. Saya ikhlas untuk memberikan DC Super Hero Girls nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.dckids.com/super-hero-girls

Serial Teen Titans Go!

Ketika superhero-superhero beken DC Comics berkolaborasi, mereka membentuk Justice League. Bagaimana dengan sidekick mereka? Bagaimana dengan superhero yang masih baru dan lebih muda? Beberapa berkumpul di Teen Titans. Semua anggotanya merupakan sidekick atau superhero muda yang sudah punya nama tapi tidak terlalu terkenal.

Hadir sudah sejak lama sekali melalui buku komik di tahun 1964, kelompok superhero remaja inipun akhirnya memiliki film serinya sendiri. Dari berbagai versi Teen Titans, kali ini saya akan membahas versi yang paling jenaka, Teen Titans Go!.

Serial yang satu ini lebih menitik beratkan unsur komedinya. Semua tokoh utama Teen Titans Go! tetaplah superhero. Hanya saja, peperangan mereka dalam melawan kejahatan, tidaklah terlalu serius. Mereka lebih senang bergurau dan mengadakan berbagai acara yang lucu. Saya suka dengan bagaimana serial ini melawak. Penonton dewasa dan anak tetap dapat tertawa melihat tingkah kelima tokoh utamanya.

Wah ada siapa saja di Teen Titans Go! ya? Ada Robin (Scott Menville), Cyborg (Khary Payton), Raven (Tara Strong), Starfire (Hynden Walch) dan Beast Boy (Greg Cipes). Terus terang, pada awalnya saya hanya kenal Robin dan Cyborg saja hehehe. Lama kelamaan ternyata tokoh lainnya berhasil memikat hati saya dengan berbagai kelucuan mereka.

Saya rasa serial animasi yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pantaslah kalau 2018 lalu, Teen Titans Go! sudah memiliki film layar lebar yang selucu versi serialnya :D.

Sumber: http://www.cartoonnetworkasia.com/show/teen-titans-go

Bad Boys for Life (2020)

Bad boys, bad boys
Whatcha gonna do, whatcha gonna do
When they come for you

Ahhh, potongan syair lagu di atas adalah soundtrack dari Bad Boys (1995) yang masih saya ingat sampai sekarang :). Film tersebut merupakan film aksi komedi yang cukup populer di masanya. Namun baru pada tahun 2003-lah hadir sekuelnya, yaitu Bad Boys II (2003). Kemudian saya berfikir bahwa Bad Boys II (2003) adalah yang terakhir. Ternyata saya salah besar. 17 tahun setelah Bad Boys II (2003), ternyata Bad Boys for Life (2020) hadir. Aaaww lama sekali yah :P.

Sama seperti kedua film pendahulunya, Bad Boys for Life (2020) mengisahkan penyelidikan oleh 2 detektif narkoba dari kepolisian Miami, yaitu Marcus Burnett (Martin Lawrence) & Michael Eugene “Mike” Lowrey (Will Smith). Tentunya mereka terus berhadapan dengan kartel narkoba yang berasal dari Amerika Latin. Ledakan dan kerusakan sudah pasti mengikuti Mike dan Marcus. Berbagai aksi heboh yang nyaris mustahil selalu ada pada ketiga film Bad Boys. Saya rasa hal ini bukanlah keunggulan ya. Ledakan demi ledakan yang ditampilkan lama kelamaan terasa agak membosankan. Kehadiran polisi-polisi muda yang sok “bad ass” sama sekali tidak menolong dan hanya seperti hiasan semata hehehehe.

Beruntung adegan aksi mereka diselingi oleh berbagai kelucuan. Gaya Mike yang playboy, flamboyan dan nekat, bertemu dengan Marcus yang lebih senang bermain aman dan sangat family man. Interaksi keduanyalah yang membuat Bad Boys for Life (2020) mampu membuat saya tersenyum seperti ketika saya menonton Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003). Hhhhmmmm, kok hanya tersenyum? Yaah, era 90-an ada era dimana muncul berbagai pasangan detektif jenaka hadir ke layar lebar. Maaf sekali tapi Mike dan Marcus masih tidak selucu Carter dan Lee pada Trilogi Rush Hour hehehehe.

Agak sedikit berbeda dengan Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003), ternyata film ketiga Bad Boys kali ini berusaha menampilkan sebuah misteri. Tidak hanya menampilkan prosedur penyelidikan sebuah kasus narkoba, namun ternyata kasus yang Marcus dan Mike hadapi kali ini berhubungan dengan masa lalu Mike. Sebuah usaha yang bagus sekali, sebab misteri yang disuguhkan sebenarnya memiliki unsur kejutan yang tidak saya duga. Sayangnya, kejutan tersebut dibuat berdasarkan masa lalu yang baru dihadirkan pada Bad Boys for Life (2020), melalui adegan flashback. Bukan melalui sesuatu yang “ditanamkan” pada Bad Boys (1995) atau Bad Boys II (2003).

Bad Boys for Life (2020) cukup menghibur melalui berbagai adegan aksi dan kelucuan yang Mike dan Marcus hadirkan. Oleh karena itu film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Mengikuti trend yang ada, Bad Boys akan dibuat sebagai franchise film sehingga jangan kaget kalau akan ada film keempat Bad Boys :). 

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/badboysforlife

Serial Larva

Kali ini saya akan membahas salah satu film seri animasi asal Korea Selatan yang saat ini sedang banyak diputar di TV lokal kita yaitu Larva. Tokoh utama film ini ada 2 ekor ulat mungil yang pada awalnya hidup di tengah kota New York. Kesuksesan serial ini menarik perhatian Netflix sehingga mereka mereka “mengambil” Larva dan mengubah latar belakang serial ini menjadi sebuah pulau.

Keunikan dari serial ini tentunya adalah bagaimana kedua tokoh utama berinteraksi di tengah-tengah lingkungan yang seolah-olah besar, padahal aslinya kecil. Red dan Yellow adalah 2 ulat yang menjadi tokoh utama pada serial ini. Red yang berbadan mungil, bersifat pemarah dan serakah. Sedangkan Yellow adalah ulat yang selalu bahagia dan cuek, tapi agak jorok. Nah kejorokan Yellow-lah yang sering membuat saya tertawa. Yellow sering munggunakan kentut dan ingus untuk hal yang aneh-aneh :’D. Selain itu, Larva sering kali mengambil latar belakang yang memang kotor sifatnya, seperti tong sampah, kotak bekas makanan dan lain-lain. Hal inilah yang membuat Larva, relatif kurang cocok ditonton sendirian oleh anak kecil. Sebaiknya ada orang dewasa yang mendampingi dan memberi bimbingan.

Humor gelap dan slapstick pada serial ini tentunya tidak baik apabila mentah-mentah ditiru oleh anak-anak. Tapi sejujurnya, humor gelap dan slapstick yang dihadirkan Larva sukses menghibur saya. Biasanya saya kurang suka dengan slapstick, tapi slapstick yang ditampilkan Larva, memang terbilang lucu. Larva sukses besar kalau dilihat dari sisi hiburan. Tapi pesan moral yang ditampilkan yaaaa memang relatif minim.

Walaupun menghadirkan beberapa adegan yang kurang pas untuk ditonton anak kecil sendirian, Larva masih layak untuk ditonton anak-anak kok. Tidak ada adegan sadis atau porno di sana. Slapstick yang dihadirkan jauh dari kata parah kalau dibandingkan denga Tom & Jerry atau Oggy and the Cockroaches. Film kartun yang satu ini memiliki rentang umur pemirsa yang cukup lebar. Tua dan muda pasti tertarik dan tidak kebosanan ketika menonton Larva. Saya rasa Larva pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.larva.re.kr

Ant-Man and the Wasp (2018)

Setelah euforia Avengers Infinity War (2018), Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjadi MCU (Marvel Cinematic Universe) berikutnya yang hadir di layar lebar. Entah kenapa Ant-Man memang absen dari Avengers Infinity War (2018). Padahal ia menjadi salah satu superhero berpartisipasi pada Captain America: Civil War (2016), sebuah film MCU tepat sebelum Avengers Infinity War (2018). Hhhmmm, apa yang terjadi dengan Ant-Man pada periode antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018)? Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjawab pertanyaan tersebut karena film ini mengambil waktu kejadian tepat setelah Captain America: Civil War (2016) dan sebelum Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Sebagaimana pernah dikisahkan pada Ant-Man (2015), Scott Lang (Paul Rudd) adalah penjahat kelas teri yang dapat berubah menjadi Ant-Man setelah menggunakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas). Ant-Man memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran sebuah objek menjadi lebih kecil atau lebih besar. Pada suatu pertarungan di Ant-Man (2015), Ant-Man berhasil mengubah ukurannya menjadi sangat kecil sekali ke ukuran mikro hingga ia sempat mengunjungi dunia kuantum. Melalui teori kuantun, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu keluar dari dunia kuantum ketika ia berhasil menyusutkan tumbuhnya ke ukuran mikro. Scott yang saat ini menggunakan kostum Ant-Man, membuktikan bahwa teori ini salah. Ia berhasil kembali dari dunia kuantum dan mengalahkan Yellowjacket pada saat itu.

Nah, pada Ant-Man and the Wasp (2018), dikisahkan bahwa Scott ternyata membawa sesuatu dari dunia kuantum. Sesuatu yang Pym dan putrinya, Hope van Dyne (Evangeline Lily), dambakan selama 30 tahun terakhir. Semua berawal pada bencana yang terjadi sekitar 30 tahun yang lalu ketika Ant-Man dan Wasp menjalankan misi berbahaya yang menyebabkan terjebaknya Wasp di dalam dunia kuantum. Mengikuti jalan cerita komik Ant-Man tahun 1960-an, pada saat itu Hank Pym adalah Ant-Man dan istri Pym adalah Wasp. Ant-Man dan Wasp kurang kebih memiliki kemampuan yang serupa, hanya saja Wasp memiliki sayap untuk terbang. Kostum Wasp sendiri sebenarnya sudah pernah sekilas diperlihatkan pada bagian akhir Ant-Man (2015).

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sesuai dugaan, putri Pym, Hope van Dyke menggunakan kostum Wasp pada Ant-Man and the Wasp (2018). Bersama dengan Ant-Man, ia berusaha membuka portal menuju dunia kuantum dan menemukan ibunya yang sudah 30 tahun terjebak di sana. Perjalanan mereka tidak mudah karena ada pihak-pihak lain yang menginginkan hal tersebut pula.

Kali ini supervillain yang harus Ant-Man dan Wasp hadapi adalah Ghost (Hannah John-Kamen). Berbeda dengan di komik, karakter Ghost kali ini adalah perempuan dan memiliki motif yang tidak terlalu jahat. Walaupun memiliki kemampuan super yang cukup merepotkan Ant-Man dan Wasp, saya rasa Ghost tidak jahat. Iq hanya putus asa dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sebenarnya, karakter yang sesungguhnya benar-benar jahat adalah Sonny Burch (Walton Goggins). Tapi ia tidak memiliki kekuatan super apapun. Ia pun bukan bos besar yang berkuasa seperti Dr. Doom, Kingpin atau Lex Luthor. Yaaaah hanya penjahat kelas menengah yang memiliki koneksi ke FBI. Hal inilah yang cukup merepotkan Scott dan kawan-kawan karena status Scott adalah tahanan rumah yang tidak boleh kemana-mana. Setelah Scott ikut membantu pihak Captain America melanggar hukum pada Captain America: Civil War (2016), ia memilih untuk menjalani hukuman asalkan ia dapat bertemu putri semata wayangnya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Ini memang berbeda dengan mayoritas superhero pendukung Captain America lainnya yang memilih menjadi buronan.

Ant-Man and the Wasp

Yaaaah, rasanya Ant-Man and the Wasp (2018) memang berbicara tentang keluarga. Hal-hal yang rela dikorbankan agar dapat hidup bersama keluarga. Di sana terlihat hubungan ayah anak yang kompak dan sedikit mengharukan. Semua dibalut dengan berbagai kelucuan dari Scott Lang :D. Unsur komedi pada film ini memang menjadi nilai plus yang sangat besar. Ditambah lagi adanya adegan aksi yang unik dan jarang saya lihat pada film superhero lainnya.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sayang Ant-Man and the Wasp (2018) banyak menggunakan teori kuantum yang kurang komunikatif. Para karakter protagonis nampak bisa dengan cepat memperoleh solusi melalui teori dan ilmu pengetahuan yang kurang jelas maksudnya. Kalau kita menonton Ant-Man and the Wasp (2018) tanpa mengikuti dan melihat semua hal terkait teori kuantum dan lorong kuantum, film ini sebenarnya terbilang mudah dipahami dan mampu berdiri sendiri, kita tidak perlu menonton film superhero Marvel lain untuk memahami film ini. Meskipun yaaah memang akan lebih seru kalau kita sudah menonton film MCU lainnya, terutama Ant-Man (2015), Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Jauh berbeda dengan film superhero Marvel terakhir yang saya tonton sebelum menonton film ini, karakter antagonis film ini kurang menggigit. Film ini terasa hampa tanpa adanya tokoh antagonis yang benar-benar “antagonis” dan kuat. Ghost dan Burch gagal mengisi ruang tersebut.

Film ini sebenarnya terbilang bagus kalau dilihat dari sisi aksi dan komedi. Tapi saya pribadi kurang suka dengan alur ceritanya. Selain itu Ant-Man dan Wasp bukanlah superhero yang menurut saya keren. Coba saja bayangkan apabila keduanya menjadi superhero Indonesia, pastilah namanya menjadi manusia semut dan si lalat bukan? :’D. Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) lebih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” ;).

Sumber: https://marvel.com/antman