The Batman (2022)

Batman merupakan tokoh superhero yang sangat populer sejak saya kecil. Tak terhitung sudah ada berapa aktor yang memerankan Batman pada film layar lebarnya. Christian Bale adalah salah satu yang terbaik melalui trilogi Batman-nya Christopher Nolan. Kemudian Ben Afflect mengambil alih peran Batman pada proyek DCEU (DC Extended Universe) yang sudah jelas kalah telak melawan MCU (Marvel Cinamatic Universe).

Sepertinya film layar lebar para superhero adan supervillain DC relatif lebih sukses pada film solonya. Apakah The Batman (2022) akan sesukses trilogi Batman-nya Nolan? Kali ini Batman atau Bruce Wayne diperankan oleh Robert Pattinson. Kebetulan film yang mempopulerkan nama Pattinson adalah kelima film Twilight. Oooucch, itu adalah 5 film populer yang kurang saya sukai. Hhhmmmm, inilah yang pada awalnya membuat saya agak ragu dengan The Batman (2022) :(.

Latar belakang The Batman (2022) adalah sekitar 2 tahun setelah Bruce Wayne pertama kali menjadi Batman. Kota Gotham masih dikuasai oleh para penjahat. Seorang Batman terasa kurang banyak untuk membasmi semua ini.

Biasanya, seorang superhero sebesar Batman harus berhadapan dengan penjahat super dengan rencana maha dahsyat. Pada DCEU bahkan sebuah rencana yang dapat menghacurkan dunia. The Batman (2022) lebih memilih kembali ke dasar. Batman yang masih hijau, berhadapan dengan lawan-lawan yang masih baru juga. Tidak ada senjata super canggih di sana. Tidak ada pula kekuatan super yang maha dahsyat di sana. Kostumnya pun relatif sederhana tapi tidak murahan.

Diantara berbagai penjahat kecil yang Batman hadapi, terdapat seorang penjahat yang berani membunuh para pejabat kota. Satu per satu pejabat Gotham dibantai dengan berbagai cara yang unik. Pelaku selalu meninggalkan teka-teki yang harus Batman pecahkan. Semakin lama, Batman semakin dihadapkan kepada berbagai rahasia kotor yang dimiliki berbagai orang berpengaruh di Gotham, … termasuk rahasia keluarga Wayne sendiri.

Alur penyelidikan pada The Batman (2022) terbilang sangat menyenangkan untuk diikuti. Di sini Batman kembali kepada jati dirinya seperti pada awal mula tokoh ini hadir di DC Comics, Batman sebagai detektif. Pada awalnya kisah-kisah pada komik Batman memang memiliki unsur-unsur penyelidikan ala detektif. Hal ini yang terkadang seolah terlupakan dari film-filmnya Batman terdahulu, kecuali trilogi Batman-nya Nolan tentunya.

Kehadiran Pattinson sebagai Batman pun sangat bagus sekali. Bagaimana Batman muncul dan berkelahi, semuanya terlihat keren dan seru. Batman di sini terlihat sangat manusiawi, Pattinson berhasil menunjukkan bahwa Batman juga manusia. Batman bisa merasakan sakit, marah dan ketakutan.

Sedikit kekuarangan dari The Batman (2022) adalah akhirnya ada agak antiklimaks. Namun kalau digali lebih dalam lagi, bagian akhir The Batman (2022) memiliki makna yang dalam. Semua saling berkaitan dan mampu menjadi pembelajaran bagi Batman yang masih hijau.

Saya rasa The Batman (2022) sukses besar menyaingi trilogi Batman-nya Nolan. The Batman (2022) sopasti pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Dengan kualitas sebagus ini, kemungkinan besar film ini akan menelurkan beberapa sekuel lagi. Oh ya, film ini bukan film anak-anak. Adegan sadisnya sih tidak terlalu parah. Hanya saja ceritanya memang lebih pantas ditonton oleh orang dewasa.

Sumber: http://www.thebatman.com

Ghostbusters: Afterlife (2021)

Ghostbusters mengisahkan sekelompok ilmuwan yang menggunakan sains untuk menangkap hantu. Saya pernah membaca komik Ghosbusters dan film layar lebarnya. Pada 2016, franchise ini mengalami reboot melalui Ghostbusters: Answer the Call (2016). Tokoh imuwan yang pada awalnya laki-laki semua, berubah menjadi wanita. Saya sebenarnya suka dengan reboot ini. Namun sepertinya film Ghostbusters selanjutnya bukan lagi mengenai mereka. Sebagai film terbaru Ghostbusters, Ghostbusters: Afterlife (2021) sangat berkaitan dengan kisah awal franchise ini, keempat ilmuwan pria pendiri Ghostbusters.

Pada tahun 80-an, keempat ilmuwan pria beberapa kali menyelamatkan dunia dari ancaman hantu-hantu. Puncaknya adalah ketika New York mengahadapi serangan besar dari Vigo dan Gozer The Gozerian Sang Dewa Kehancuran Sumeria. Dengan menggunakan nama Ghostbusters, para ilmuwan tersebut berhasil menangkap para hantu. Mereka melakukan tugasnya dengan sangat baik sampai-sampai, keluhan akan gangguan hantu semakin menurun. Terus menurun sampai akhirnya Ghostbusters pun hanyalah sebuah sejarah.

Bertahun-tahun kemudian, sebuah keluarga datang ke kota kecil di Oklahoma. Mereka menerima warisan berupa sebuah tanah yang luas beserta sebuah gudang dan sebuah rumah tua. Keluarga tersebut terdiri dari si ibu yaitu Callie (Carrie Coon), dan kedua anaknya yaitu Trevor (Finn Wolfhard) dan Phoebe (Mackenna Grace). Ketiganya mengalami berbagai kejadian aneh ketika tinggal di kota tersebut. Perlahan, mereka baru menyadari bahwa aset yang mereka dapatkan bukanlah tanah biasa atau rumah tua biasa. Di sana terdapat berbagai perlengkapan Ghostbusters lengkap dengan mobilnya.

Entah apa yang terjadi di sana. Namun kota kecil tersebut ternyata tidak aman. Bencana yang puluhan tahun lalu terjadi di New York, bisa saja terjadi di Oklahoma. Phoebe yang sangat cerdas berhasil menemukan cara untuk mengoperasikan senjata dan perangkap Ghostbusters. Pada awalnya saya pikir karakter Trevor akan dominan pada film ini. Ternyata saya salah besar. Karakter Phoebe berhasil tampil menonjol. Kerja yang sangat bagus dari Mackenna Grace sebagai pemeran Phoebe.

Phoebe, Trevor dan ditambah oleh teman sekolah mereka, jadilah semacam Ghostbusters baru. Pemburu hantu baru yang masih belia dan harus banyak belajar. Saya tidak menyangka bahwa Ghostbusters yang diisi oleh sekelompok remaja, bisa menghasilkan sebuah cerita yang menarik. Unsur misteri dan penyelidikan dari film ini berhasil menjadi sesuatu hal menyenangkan untuk diikuti. Tak lupa terdapat pula beberapa humor ringan yang dapat menyegarkan suasana :).

Bagian akhirnya pun terbilang mengharukan bagi para pecinta Ghostbusters original. Ghostbusters: Afterlife (2021) memang banyak mengandung nostalgia dan bagian akhir film ini adalah puncaknya.

Saya sendiri terlalu kecil untuk mengikuti kisah Ghostbusters ketika komik dan filmnya baru hadir. Tanpa aroma nostalgia pun, saya tetap menyukai Ghostbusters: Afterlife (2021). Film ini layak untuk memperoleh bilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.ghostbusters.com

The Bad Guys (2022)

The Bad Guys (2022) merupakan film animasi terbaru dari DreamWorks. Sesuai judulnya, film ini mengisahkan sekelompok penjahat profesional yang bernama The Bad Guys. Masing-masing anggota memiliki kelebihan dan peranan tertentu dalam melancarkan aksinya.

Semua terasa mudah sampai The Bad Guys berusaha mencuri piala Golden Dolphin Awards. Beberapa penjahat ternama sudah merasakan pahitnya kegagalan ketika berusaha mencuri piala ini. Satu diantaranya bahkan sampai menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.

Rintangan The Bad Boys kali ini bukan hanya jeruji besi. Melainkan perubahan hati para anggotanya. Kawanan penjahat ini berpura-pura menjadi penjahat yang insyaf demi mencuri piala Golden Dolphin Awards. Lama kelamaan tanpa mereka sadari, berbuat baik itu ternyata menyenangkan.

Perubahan sosok jahat menjadi sosok baik memang sudah banyak sekali diangkat oleh film-film lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa pesan moral The Bad Guys (2022) memang berhubungan dengan itu. Seorang penjahat kelas dapat berubah menjadi menjadi seseorang yang baik dan berhenti melakukan kejahatan.

Hanya saja, The Bad Guys (2022) menyampaikan pesan moral tersebut dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Jalan ceritanya penuh lika-liku, namun tidak membingungkan. Akhir ceritanya yah memang jelas bisa ditebak. Tapi pertengahan ceritanya benar-benar penuh kejutan.

Ditambah dengan gaya animasi yang halus dan unik, The Bad Guys (2022) semakin nyaman untuk ditonton. Grafik 2D dengan gaya tulisan tangan di mana-mana memang menjadi trend baru bagi berbagai film animasi berbudget besar.

Saya suka dengan visual, pesan moral dan kisah dari The Bad Guys (2022). Film ini sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Kisah yang diadaptasi dari buka anak-anak karangan Aaron Blabey ini, kemungkinan akan menelurkan sekuel. Kita tunggu sajaaa ;).

Sumber: http://www.thebadguysmovie.ca

Turning Red (2022)

Pada awal tahun 2022, Walt Disney kembali menelurkan sebuah film animasi. Apakah akan ada putri baru kali ini? Jawabnya antara ya dan tidak. Turning Red (2022) mengambil latar belakang kota Toronto di Kanada pada tahun 2002. Bukan di zaman kerajaan yaaa.

Tokoh utamanya adalah Meilin “Mei” Lee (Rosalie Chiang), seorang remaja keturunan Tionghoa yang tinggal di Kanada. Mei memiliki banyak sahabat. Ia memiliki kepribadian yang supel dan mudah berteman. Yang Mei tidak sadari adalah ternyata ia adalah keturunan dari seorang bangsawan Tiongkok.

Hal ini memberikan Mei sebuah kekuatan sekaligus kutukan. Tergantung bagaimana kita memandangnya. Pada kondisi tertentu semua wanita yang berada di satu garis keturunan dengan Mei, dapat berubah menjadi seekor panda merah raksasa.

Perubahan wujud inilah yang menjadi topik utama Turning Red (2022). Mei harus belajar untuk beradaptasi dengan kondisinya. Tidak hanya Mei, ternyata ibu Mei pun ternyata masih menghadapi masalah kurang lebih sama. Dalam perjalanannya permasalahn terkait hubungan ibu dan anak pun ikut terpecahkan.

Terdapat bagian mengharukan pada bagian akhir film. Sayang alur ceritanya agak membosankan dan klise. Kelebihan dari Turning Red (2022) adalah pada karakter Mei yang energik. Tanpanya, film ini akan sangat hambar. Secara keseluruhan, Turning Red (2022) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: movies.disney.com

Death on the Nile (2022)

Death on the Nile adalah salah satu novelnya Agatha Christie yang pernah saya baca. Hercule Poirot sang detektif ternama dari Belgia kembali hadir dengan beberapa kasus pembunuhan di Mesir. Poirot adalah karakter favorit saya dari beberapa karakter karangan Agatha Christie. Saya pun sempat menonton Death on the Nile (1976), tapi itu dulu sekali. Sebenarnya kisahnya tidak terlalu berkesan, jadi saya sudah agak lupa hehehe.

Setelah Murder at the Oriont Express (2017), Hercule Poirot (Kenneth Branagh) kembali berhadapan dengan sebuah misteri kasus pembunuhan. Sebenarnya keadaan yang Poirot hadapi agak mirip dengan yang ia hadapi pada Murder at the Oriont Express (2017). Dikisahkan bahwa Poirot sedang menikmati liburannya di Mesir. Ia bertemu seorang sahabat dan di sana ia memutuskan untuk bergabung pada sebuah paket perjalanan liburan. Poirot mengikuti paket wisata mengarungi Sungai Nil. Ia bersama beberapa tamu lainnya, berwisata menggunakan sebuah kapal mewah yang cantik. Tak lupa mereka pun mampir melihat Kuil Abu Simbel yang terkenal. Di tengah-tengah kegembiraan tersebut, bahaya diam-diam datang mengancam.

Semua tamu-tamu pada perjalanan ini ternyata saling mengenal. Pusat perhatian pada perjalanan tersebut adalah pada Linnet Ridgeway-Doyle (Gal Gadot). Ia merupakan wanita kaya raya yang sedang merayakan bulan madu. Semua tamu yang ada pada perjalanan tersebut memiliki hubungan dengan Linnet. Di mana ada uang, di sanalah semut-semut berdatangan.

Ketika terjadi beberapa pembunuhan di dalam kapal, Poirot harus menuntaskan semua prahara ini. Pembunuhan terjadi ketika kapal sedang berlayar di tengah sungai. Maka tersangka pembunuhannya sudah pasti diantara awak kapal dan penumpang yang ada. Saya suka dengan bagaimana Poirot menginterogasi dan menggali motif dari setiap penumpang. Terbukti bahwa semuanya memang memiliki motif untuk melakukan semua tindak kejahatan ini. Poirot pun terpaksa mengumumkan sebuah rahasia yang ia simpan ketika memutuskan untuk bergabung dengan rombongan wisata ini.

Saya suka dengan cerita-cerita penyelidikan seperti ini sebagai hiburan. Hanya saja kasus Poirot yang satu ini pada dasarnya memang tidak terlalu “Wah”. Death on the Nile (2022) sudah melakukan yang terbaik untuk menampilkan kasus ini. Mulai dari latar belakang Mesir yang cantik lengkap dengan kapal lawas yang mewah. Saya rasa Death on the Nile (2022) masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com

Accha, Indian Soul Food

Pertama kali saya menyantap makanan India adalah puluhan tahun yang lalu di Singapura. Saya kesulitan memotong roti cane menggunakan sendik dan garpy. Hehehehe. Maaf, namanya juga pertama kali. Roti cane biasanya dimakan dengan menggunakan tangan sih.

Kali ini saya menemukan restoran India bernama Accha yang memiliki banyak cloud kitchen. Artinya restoran ini memiliki banyak cabang tapi mayoritas bentuknya hanya dapur. Pemesanan dapat dilakukan dengan praktis melalui layanan ojeg online. Hanya saja, Accha masih terbatas di kota Jakarta-Bekasi-Tangerang, yaitu di daerah Tebet, Bendungan Hilir, Tomang, Pluit, Kelapa Gading, Mangga Besar, Cilandak, Kebon Jeruk, Cibubur, Jaka Setia, Pondok Aren, Margonda, BSD, Gading Serpong, Cicendo, dan Pelaspas.

Dari berbagai hidangan khas India yang ada di sana, saya baru mencicipi nasi biryani kambing, chicken kofta bites dan chicken tikka masala dengan naan. Ok sebagai besar namanya agak asing di telinga. Mari kita bahas satu per satu.

Nasi biryani kambing hadir dengan menggunakan beras basmati dan potongan daging kambing yang besar-besar dan super lembut. Aroma dan rasa khas biryaninya sangat agresif dan berani. Sayang lama kelamaan, rasanya jadi sedikit terlalu asin. Tapi potongan kambing yang relatif jumbo, membuat rasa kambingnya lebih mantab. Terlebih lagi, daging kambingnya tidak pringus.

Chicken tikka masala hadir dalam bentuk potongan ayam bakar yang dicelupkan di dalam semangkuk saus kari. Sausnya mirip bumbu dengan nasi biryani, rasanya gurih penuh rempah-rempah yang sangat berani. Potongan ayamnya pun besar-besar dan empuk, jadi rasa ayamnya benar-benar terasa. Tak lupa saya menggunakan butter naan sebagai pelengkap. Sekilas Naan sendiri agak mirip dengan roti canai. Keduanya sama-sama terbuat dari tepung gandum, namun ada sedikit perbedaan dalam proses pembuatannya. Roti canai akan lebih berminyak, sementara itu roti naan akan memiliki sedikit rasa yogurth. Naan pun nemiliki berbaga rasa. Tapi kali inu saya memilih menyantap naan original tanpa rasa-rasaan, yaitu butter naan. Mencolek naan ke dalam chicken tikka masala memberikan rasa yang unik dan beda. Yah, rasa dan aroma rempah khas India benar-benar terasa pada hidangan Accha ini.

Chicken kofta bites memiliki bentuk seperti bakso daging atau perkedel daging. Bentuknya memang bulat-bulat. Bulatan tersebut terbuat dari daging ayam dan berbagai bumbu rempah. Rasanya gurih dan lebih halus dibandingkan menu-menu sebelumnya. Bagi yang senang dengan rasa yang lebih berani, tersedia saus kari ala Accha untuk menemani kofta.

Menu-menu Accha memang unik dan kaya akan rasa. Hanya saja, dari beberapa hidangan yang saya cicipi, rasanya jadi agak mirip, hanya tekstur dan bentuknya saja yang berbeda. Rasa gurih memang dominan dan saya senang dengan makanan gurih, tapi terkadang gurihnya sedikit overpower. Saya rasa Accha layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Scream (2022)

Pada tahun 2022 ini hadir film kelima Scream yaitu Scream (2022). Yah film ini resminya tidak menggunakan angka di judulnya. Bukan Scream 5, tapi cukup Scream saja. Sama dengan judul film pertamanya, Scream (1996). Film tersebut disutradarai oleh Wesley Earl Craven dengan anggaran yang tidak terlalu besar. Diluar dugaan, Scream (1996) sukses besar dan meraup keuntungan besar. Genre slasher remaja bangkit dan menjamurlah film-film lain yang mirip dengan Scream (1996).

Sejak itulah, Wesley Early Craven kembali menghadirkan Scream 2 (1997), Scream 3 (2000), Scream 4 (2011). Lama kelamaan Scream pun menjadi franchise dan sebenarnya ada perencanaan mengenai Scream 5 dan Scream 6. Sayang Wesley Early Craven meninggal pada 2016. Proyek Scream 5 dan Scream 6 tak ada kabarnya.

Barulah 11 tahun setelah Scream 4 (2011) muncul, Scream 5 (2022) lahir tanpa kehadirab Wesley Earl Craven tentunya. Ceritanya berlatar belakang tepat setelah peristiwa pada Scream 4 (2011) terjadi. Pada keempat film Scream sebelumnya, Sidney Prescott (Neve Campbell) mengalami teror dari sosok misterius bertopeng hantu. Banyak teman dan rekan terdekat Sidney berguguran di sana. Paling tidak, Gale Weathers (Courteney Cox) dan Dewey Riley (David Arquette) ada 2 rekan dekat Sidney yang hadir di keempat film Scream dan masih selamat. Dewey, Gale dan Sidney sudah beberapa kali berhasil membuka kedok pembunuhan berantai oleh si topeng hantu. Setiap film Scream, memiliki tokoh antagonis yang berbeda. Mulai dari anak selingkuhan ibunya Sidney, istri selingkuhan ibunya Sidney, sepupu Sidney, sampai saudara kandung Sidney sendiri. Sidney, Sidney, Sidney, yaa semua berawal dan berputar pada masalah keluarga Sidney. Bagaimana dengan Scream (2022)?

Sudah saatnya peremajaan pada franchise ini. Mirip seperti yang franchise MCU dan Star Wars lakukan. Apalagi Scream banyak berbicara mengenai remaja. Jadi tokoh-tokoh utama lawas seperti Sidney dan kawan-kawan, sudah bukan menjadi pusat perhatian utama pada Scream (2022). Kehadiran Sidney seakan berfungsi sebagai pengantar kepada tokoh-tokoh baru yang masih muda. Perlahan, pusat segala masalah beralih kepada Sam Carpenter (Melissa Barrera).

Pada awalnya, Sam dan adiknya seolah menjadi target teror dari sang pembunuh bertopeng. Teman-teman dekat Sam pun menjadi target dan teror. Tak lupa karakter-karakter Scream lawas pun ada yang berguguran. Hanya saja, si tokoh antagonis pada Scream (2022) nampak lebih realistis ketika sedang beraksi. Tidak semua korban mereka langsung tewas. Beberapa diantaranya bahkan berhasil selamat walaupun dengan luka parah. Ini adalah hal yang bagus. Mengenakan pakaian yang menyeramkan, tidak serta merta membuat seseorang menjadi sakti bukan?

Sayangnya, Scream (2022) melakukan banyak kebodohan dasar ala Hollywood. Karakter antagonis jelas saja kalah. Ketika si karakter antagonis memiliki kesempatan untuk membunuh. Ia justru berbicara panjang lebar mengenai motif pembunuhan dan sebagainya. Ini berlangsung berkali-kali, ya jelas saja kalah. Otomatis motif pembunuhannya pun tidak didapatkan melalui penyelidikan. Yang patut disayangkan lagi adalah motif si karakter antagonis yang kurang wow. Sebenarnya Scream 4 (2011) pun yaaa seperti ini. Sangat berbeda dengan Scream (1996), Scream 2 (1997), Scream 3 (2000). Motif pembunuhan pada ketiga film tersebut benar-benar wah dan wow ;).

Beruntung kekalahan si pembunuh berantai terbilang sangat memuaskan untuk ditonton. Kekalahan yang sangat memuaskan dibandingkan kekalahan pada film-film Scream sebelumnya. Saya sangat suka dengan yang satu ini.

Kemudian selain itu, Scream (2022) memiliki keunggulan lain ketika penonton diajak menduga-duga, siapa pembunuhnya. Mirip seperti film-film Scream sebelumnya, si pembunuh adalah satu atau dua dari tokoh-tokoh utama yang dihadirkan. Mereka saling menggoda dan bergurau mengenai identitas sang pembunuh.

Dengan demikian, tanpa Wesley Early Craven, Scream (2022) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sudah pasti saya akan menonton film Scream berikutnya, yaitu film Scream yang keenam.

Sumber: http://www.screammovie.com

Spider-Man: No Way Home (2021)

Sejak awal abad 21 sampai sekarang, sudah ada 3 versi Spider-Man live action di layar lebar. Spider-Man versi Tobey Maguire, Spider-Man versi Andrew Garfield dan terakhir Spider-Man versi Tom Holland. Terus terang saya kurang suka dengan Spider-Man versi Tobey Maguire sebab di sana terdapat karakter Marry Jane yang menyebalkan. Selain itu kriminalisasi Spider-Man sangat dominan di sana. Sang superhero harus menyelamatkan publik yang membencinya. Yah lebih dramatis sih. Yah memang lebih menggemaskan sih. Tapi lama-lama lelah juga melihatnya. Beruntung kemudian hadir Spider-Man versi Andrew Garfield yang memiliki tokoh kekasih yang lebih baik, serta topik kriminalisasi Spider-Man yang tidak terlalu disorot.

Kemudian, hadir Spider-Man versi Tom Holland yang pada kedua film pertamanya sama sekali tidak membahas kriminalisasi Spider-Man dan memiliki tokoh Marry Jane yang jauh lebih ok. Pada film ketiga Spider-Man versi Tom Holland ini, unsur kriminalisasi Spider-Man mulai dihadirkan kembali.

Ya, Spider-Man: No Way Home (2021) diawali dengan terkuaknya identitas Spider-Man atau Peter Parker (Tom Holland), beserta berbagai fitnah yang tiba-tiba dihembuskan oleh J. Jonah Jameson (J.K. Simmons). Wah dia lagi dia lagi. Ini dia biang keladi kriminalisasi di Spider-Man versi Tobey Maguire. Sekarang tokoh yang sama, diperankan orang yang sama, hadir di Spider-Man versi Tom Holland @_@. Si J. Jonah Jameson ini sering kali berkata, dimana Spider-Man muncul, pasti ada bencana. Well, kalau bagi saya pribadi. Dimana J. Jonah Jameson muncul, pasti saya mulai ragu untuk lanjut menonton atau tidak hehehehe. Pasti akan ada fitnah yang menggemaskan di sana. Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan itu. Pada berbagai film, sudah biasa si tokoh utama terkena fitnah. Hanya saya, saya belum pernah melihat karakter J. Jonah Jameson terkena akibat dari perilakunya. Yah, seperti tidak adil saja. Inipun agaknya sedikit terbukti pada Spider-Man: No Way Home (2021). Yang benar dan yang berhati mulia, belum tentu dihargai.

Akibat berbagai tekanan, Peter Parker atau Spider-Man (Tom Holland) meminta pertolongan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch). Dengan kemampuan sihir tingkat tinggi, Strange berusaha menolong Peter. Namun kegugupan dan keraguan Peter, sukses besar mengacaukan mantra Strange hingga terbukalah pintu menuju dimensi lain. Disinilah semua kekacauan yabg sudah ada, justru semakin kacau.

Film-film MCU seperti Spider-Man: No Way Home (2021) menganut paham multi dimensi. Jadi dunia terbagi ke dalam banyak dimensi dimana pada setiap dimensi bisa saja terdapat Peter Parker lain. Sebagaimana kita ketahui, ada 3 versi film Spider-Man. Nah sekarang ini, Spider-Man (Tobey Maguire) dan Spider-Man (Andrew Garfield) tersedot masuk ke dalam dimensi Spider-Man (Tom Holland). Beberapa lawan utama pada Spider-Man (Tobey Maguire) dan Spider-Man (Andrew Garfield), ikut masuk juga ke dalam dimensinya Spider-Man (Tom Holland). Ini adalah kejutan yang sangat keren. Ada 3 versi Spider-Man yang pada awalnya memiliki film masing-masing. Reboot sudah sering dilakukan oleh film-film Hollywood. Namun baru kali inilah reboot memiliki makna yang sangat besar. Bukan tidak mungkin Marvel Comic akan melakukan ini lagi pada film-film superhero yang pernah mereka reboot.

Kehadiran tokoh-tokoh dari film Spider-Man lain, benar-benar sesuatu hal yang menakjubkan. Ini adalah nilai plus terbesar dari Spider-Man: No Way Home (2021). Saya rasa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skalam maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.spidermannowayhome.movie

Serial The Invincible

The Invincible? Superhero dari universe mana lagi itu? Bukan DC Comics atau Marvel yang menjadi asal The Invincible. Superhero yang satu ini diterbitkan oleh Image Comics, penerbit komik terbesar ketiga di dunia setelah DC dan Marvel. The Walking Dead, Spawn, Kick-Ass dan Jupiter’s Legacy merupakan komik-komik Image Comics yang sudah dari di TV atau Bioskop.

Kali ini The Invincible hadir dalam bentuk serial animasi. Para superhero di sana menggunakan berbagai kostum yang warna-warni. Modelnya pun mengimpilkasikan seolah-olah The Invincible merupakan film anak-anak. Gara animasi yang klasik namun tetap modern, cukup bagus, namun tidak akan menarik bagi anak-anak kecil jaman sekarang. Serial ini memang 100% tidak layak untuk ditonton oleh anak-anak. Dibalik warnaq2 warni kostum superhero-nya, terdapat banyak sekali adegan sadis pada serial ini. Beberapa diantaranya bahkan terlalu menjijikan untuk disaksikan andaikan serial ini bukan serial animasi. Tampil sebagai serial animasi merupakan kelebihan. Dengan demikian, The Invinsible dapat tetap tampil apa adanya tanpa membuat saya jijik.

Sebenarnya bercerita tentang apa The Invincible? Kok bisa sadis? Apa sama dengan Serial The Boys ya? Agak berbeda dengan Serial The Boys. The Invincible sebenarnya tidak sesuram dan segelap Serial The Boys. Masih banyak orang biasa dan superhero baik pada The Invincible. Penonton dibawa mengikuti perjalan sang Invincible atau Mark Grayson (Steven Yeun) dari awalnya belum memiliki kekuatan, sampai pada akhirnya menjadi tumpuan harapan planet Bumi. Kebaikan melawan kejahatan, keluarga dan kemanusiaan menjadi topik yang mendominasi serial ini.

Mark lahir dari rahim seorang manusia biasa. Ibu Mark memang penduduk asli Bumi. Namun ayah Mark berasal dari planet Viltrumite. Ayah Mark menggunakan identitas sebagai Omni-Man (J.K. Simmons) ketika sedang beraksi. Yaaah, Omni-Man ini seperti Superman atau Captain Marvel. Mahluk terkuat di Bumi.

Sebagai separuh keturunan Viltrumite, pada akhirnya Mark pun memiliki kekuatan yang mirip dengan kekuatan ayahnya. Seketika itulah Mark memutuskan untuk menggunakan semua kekuatannya demi kemanusiaan dan kebenaran. Ia menggunakan nama Invincible sebagai nama superhero-nya. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan berbagai superhero dan supervillain. Dunia pada serial ini memang dipenuhi oleh berbagai manusia super dan mahluk mistis, beserta organisasi super misterius. Semua hal yang sudah lazim ada pada komik superhero.

Walaupun agak sadis dan mengangkat topik yang sangat dewasa, saya suka dengan jalan cerita The Invincible. Masalah yang muncul sebenarnya bukan masalah khas superhero yang baru. Hanya saja cara penyampaiannya berhasil dibuat menarik. Gaya animasi yang cenderung lawas, tidak 3D atau modern, tetap mampu menampilkan adegan pertarungan yang seru …. dan tentunya … agak sadis tanpa membuat saya mual :’D. Dengan demikian, The Invincible sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: imagecomics.com

Nasi Kulit Malam Minggu, Nasi yang Menghadirkan Malam Minggu di Setiap Saat

Nasi kulit sempat populer beberapa tahun yang lalu. Walau sekarang sudah tidak terlalu hits lagi, beberapa pedagang nasi kulit masih ada. Paling tidak ini menunjukkan bahwa nasi kulit bukan hanya trend sekali coba saja.

Dari beberapa merk nasi kulit yang ada, saya sempat mencicipi Nasi Kulit Malam Minggu. Kebetulan lokasi cabang-cabangnya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Saya sendiri beberapa kali memesan Nasi Kulit Malam Minggu melalui layanan ojeg online. Bentuk ouletnya memang mungil-mungil siy. Sementara ini, Nasi Kulit Malam Minggu sudah tersebar di kota Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang, Subang, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Denpasar, Dalung, Medan, Lampung, Riau, Jambi, Batam, dan Palu. Mayoritasnya ada di Jakarta.

Untuk menu, seingat saya, Nasi Kulit Malam Minggu sering berubah-ubah dan berbeda di setiap kota. Di sana saya baru mencicipi nasi kulit ayam fillet (mozzarella), nasi kulit paru, dan nasi paru ayam crispy.

Nasi kulit ayam fillet (mozzarella) terdiri dari nasi putih dengan taburan serundeng, kulit ayam crispy, kol goreng, sambal, ayam fillet dengan keju mozzarella dan sambal. Keberadaan keju mozzarella memang membuat penasaran. Namun rasa gurih kejunya dan kulit crispy-nya saling mengubur. Ada sedikit rasa dan aroma keju di sana. Kerenyahan kulit crispy-nya juga masih terasa. Rasanya lumayanlaaa, hanya saja tidak seenak ekspektasi saya.

Nasi paru ayam crispy terdiri dari nasi putih dengan taburan serundeng, sambal, kol goreng, paru dan ayam crispy. Oooh tunggu dulu, dimana kulitnya?? Hehehehe. Saya pun agak kaget begitu menyadari bahwa saya memesan menu tanpa kulit di restoran nasi kulit @_@. Tepung pada ayamnya terasa berbeda dengan tepung pada kulit. Keberadaan daging ayam pun memberikan tektur yang berbeda. Tanpa kulit, memang seperti ada yang kurang. Namun menu ini tetap terasa lumayan ok kok. Kelembutan paru bertemu dengan kerenyahan ayam cruspy beserta bahan-bahan lainnya. Not bad!

Nasi kulit paru terdiri dari nasi putih dengan taburan serundeng, kol goreng, paru, sambal dan …. eng ing eng … kulit ayam crispy tentunya ;). Kulit ayamnya memiliki bentuk yang besar-besar dengan rasa gurih dan aroma yang unik. Kulitnya sendiri tidak terlalu garing sehingga masih terasa juicy dan sedikit kenyal ketika saya gigit. Rasa dan aroma kulit ayam crispy dapat tampil menonjol ketika bertemu dengan paru yang lembut. Tak lupa sambal yang tak terlalu pedas pun berhasil tampil lebih menonjol pada kombinasi menu yang satu ini. Wah akhirnya saya menemukan menu favorit saya di Nasi Kulit Malam Minggu. Mungkin nasi kulit paru tidak segemerlap nasi kulit plus mozzarella atau sate taichan. Namun, bagi saya, kulit crispy ini paling cocok kalau disandingkan dengan paru. Yummmm ;).

Secara keseluruhan, Nasi Kulit Malam Minggu layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Pada dasarnya Nasi Kulit Malam Minggu memiliki bahan kulit, ayam fillet, ayam crispy, paru, keju mozzarella, keju chedar, bakso, sate taichan dan empal. Sepertinya setiap kota dapat memilih kombinasi yang dirasa paling cocok dengan selera. Beda kota, bisa saja beda selera bukan? Itulah mengapa kok menu Nasi Kulit Malam Minggu agak aneh, ketika saya memesannya di Solo, bukan Jakarta. Sementara ini, kombinasi favorit saya tetap jatuh ke nasi kulit paru ;).