Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)

peregrine1

Pada pertengahan 2016 ini, Tim Burton menghadirkan film Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) yang dibuat berdasarkan novel karangan Ransom Riggs dengan genre dark fantasy. Aahhhh genre ini memang genre favoritnya Opa Tim Burton. Bisa dilihat dari film-film yang pernah digarap, semuanya memiliki ciri khas tertentu.

Pada Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) kita dibawa ke dalam dunia fantasi dimana pada periode waktu tertentu, terdapat anak-anak berkemampuan khusus. Karena kemampuan khusus mereka, mereka diburu oleh segerombolan monster jahat yang dipimpin oleh Barron (Samuel L. Jackson). Barron dan kawan-kawan membutuhkan bola mata anak-anak tersebut untuk merubah wujud mereka agar menyerupai manusia.

peregrine11

peregrine12

Sudah menjadi tugas seorang Ymbryne untuk melindungi anak-anak tersebut. Seorang Ymbryne mampu berubah menjadi burung peregrine dan mampu menguasai waktu. Ia akan membuat sebuah looping waktu sebagai tempat aman bagi anak-anak tersebut. Setiap hari, seorang Ymbryne akan membawa anak-anak untuk mengulang hari sehingga setiap hari akan memiliki tanggal yang sama dan umur anak-anak tersebut tidak akan berkurang, tapi ingatan dan pengalaman dari anak-anak tersebut tetap berjalan seperti biasa.

peregrine5

peregrine2

Alma LeFay Peregrine (Eva Green) merupakan salah satu Ymbryne yang membuat looping waktu pada tanggal 3 September 1943 di Wales. Setiap hari, anak-anak di bawah asuhan Peregrine akan menghadapi keadaan Wales di tanggal 3 September 1943. Di sana terdapat Emma Bloom (Ella Purnell) yang mampu memanipulasi udara, Millard Nullings (Cameron King) yang memiliki kemampuan tembus pandang, Enoch O’Connor (Finlay MacMillan) yang mampu menghidupkan berbagai mahluk, Olive Abroholos (Lauren McCrostie) yang mampu mengendalikan api, Bronwyn Buntley (Pixie Davis) yang super kuat, Fiona Frauenfeld (Georgia Femberton) yang mampu mengendalikan tanaman, Hugh Apiston (Milo Parker) yang memiliki ribuan lebah di perutnya, Claire Densmore (Raffiella Chapman) yang memiliki mulut monster di bagian belakang kepalanya, Horace Sommuson (Hayden Keeler-Stone) yang mampu memproyeksikan sebuah mimpi melalui matanya, Victor Buntley (Louis Davison) yang super kuat namun sudah dalam bentuk mayat dan si kembar misterius (Joseph & Thomas Odwell) dengan kemampuan yang hanya ditampilkan pada bagian akhir film ini hohohohoho.

peregrine6

Selama ini, keberadaan akan Peregrine dan anak-anak tersebut, telah menjadi dongeng yang  Abraham “Abe” Portman (Terence Stamp) ceritakan setiap malam kepada cucunya, Jacob “Jake” Portman (Asa Butterfield). Abe kerap bercerita bagaimana ia dulunya menjadi bagian dari keluarga Peregrine. Bahkan Abe pun menunjukkan foto-foto sebagai cara agar dongengnya nampak lebih nyata bagi Jake.

peregrine9

Jake selalu menganggap bahwa Abe hanyalah kakek pikun yang mengalami dimensia sampai pada suatu saat Jake menemukan kakeknya tewas dengan bola mata yang sudah hilang. Perlahan Jake mengalami kejadian-kejadian yang menunjukkan bahwa dongeng Abe ternyata benar-benar ada. Jake pun akhirnya bertemu dan berteman dengan anak-anak yang ada di dongeng Abe tanpa menyadari bahwa Jake pun memiliki sebuah kemampuan khusus, kemampuan spesial yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk bertahan dari serangan Barron dan monster-monsternya.

peregrine7

peregrine4

peregrine3

peregrine10

peregrine13

peregrine8

Awalnya saya kira kekuatan Jake ini benar-benar luar biasa, yaah macam Neo-nya The Matrix (1999). Ternyata kekuatan Jake hanyalah bagian kecil dari kekuatan yang diperlukan untuk melawan Barron dan kawan-kawan. Jake sangat bergantung pada kemampuan teman-teman barunya yang menurut saya tidak terlalu keren. 

Menurut saya justru kekuatan si kembar yang misteriuslah yang sebenarnya bisa langsung dipergunakan untuk melumpuhkan Barron, kenapa kok digunakannya hanya di akhir film? Apa karena mereka masih anak-anak? Ahhh itu bukan alasan sebab walaupun wujud mereka anak-anak, pengalaman hidup dan ingatan mereka trus berjalan. Terus menerus menjadi anak-anak tanpa harus bekerja seolah menjadi fantasi yang menyenangkan, tapi apakah mereka tidak pernah merasa kebosanan? Apakah mereka tidak pernah ingin mendapatkan semacam kesusksesan dalam bentuk lain? Saya rasa dunia fantasi yang dibangun pada film ini memiliki banyak lubang kelemahan di mana-mana. Jalan cerita yang melibatkan perjalanan waktu ini menemui terlalu banyak kekompleksan sehingga penonton menjadi malas memikirkan perubahan-perubahan jalur waktu yang ada, jadi yaaa tidak terlalu menarik.

Akantetapi perlu saya akui bahwa kelebihan-kelebihan dari anak-anak spesial yang ditampilkan pada Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) memang nampak cantik karena dibalut dengan special effect yang memukau. Ditambah lagi kehadiran ciri khas filmnya Tim Burton yang sedikit gelap namun tetap enak dipandang, semakin mengkompensasi beberapa kelemahan film tersebut.

Tokoh Peregrine nampak sedikit eksentrik dan memiliki beberapa kemiripin gaya dengan tokoh-tokoh yang Jhonny Depp perankan pada beberapa film Tim Burton terdahulu. Kalau saya boleh memilih, Depp tetap berhasil menjadi tokoh eksentrik yang lebih baik dibandingkan pemeran Peregrine, Eva Green. Eva Green seolah meniru apa yang Depp pernah lakukan.

Walaupun memiliki kelemahan dimana-mana, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) dapat diselamatkan oleh visual yang cantik dan jalan cerita yang sebenarnya terbilang lumayan. Film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.foxmovies.com/movies/miss-peregrines-home-for-peculiar-children

300: Rise of an Empire (2014)

300 Rise 1

Pada tahun 2006 lalu, saya sempat menonton film 300 (2006) yang menceritakan peperangan antara bangsa Yunani & bangsa Persia. Dikisahkan bangsa Yunani terpecah-pecah ke dalam berbagai negara kota. Negara kota yg terbesar adalah Sparta & Athena. Athena mengembangkan peradaban yang cinta damai dan tidak suka bertempur, mereka mengembangkab suatu sistem pemerintahan yang saat ini kita sebut demokrasi. Berkebalikan dengan Athena, Sparta mengembangkan budaya suka bertempur dan keras. Anak-anak Sparta sudah dididik untuk berkelahi sedari kecil, kota Sparta berisikan pejuang-pejuang yang haus darah.

Pada suatu masa, negri Persia yang dipimpin oleh raja Xerses berniat untuk menginvasi & menaklukkan Yunani. Xerses menebar ancaman bagi seluruh negara kota Yunani termasuk Sparta. Sudah dapat ditebak, bangsa Sparta pasti menolak mentah-mentah tawaran Raja Persia, Xerses, untuk tunduk & menyerah. Raja Sparta saat itu, Leonidas, memimpin 300 orang pejuang Sparta untuk menghalau ribuan tentara Persia yang datang. Pertempuran dilakukan sudut sempit sebuah ngarai yang disebut Gerbang Neraka. Karena lokasi pertempuran yang sempit, 300 pasukan Sparta dapat bertahan dan menghalangi pasukan Xerses sampai tetjadi sebuah penghianatan yang menyebabkan gugurnya raja Leonidas & ke-300 prajurit setianya. Keberanian 300 pejuang Sparta tersebut menjadi pemacu semangat bagi bangsa Yunani untuk melawan Persia yang jumlah kekuatan tempurnya di atas Yunani.

300 Rise 2

Nah pada bulan Maret ini, kelanjutan dari kisah pertempuran antara Yunani dengan Persia hadir kembali dalam film yang berjudul 300: Rise of an Empire (2014). Saya tergoda melihat trailer 300: Rise of an Empire (2014), sepertinya baguuuss, lebih bagus dari 300 (2006) mungkin. Jadi, ketika teman saya memberitahukan bahwa 300: Rise of an Empire (2014) sudah tayang di bioskop, saya langsung mampir ke bioskop ketika ada kesempatan. Kebetulan ada bioskop XXI dengan rete harga yg murah, baru buka di dekat rumah ;).

Awalnya saya pikir 300: Rise of an Empire (2014) akan mengisahkan kejadian setelah peristiwa di 300 (2006) berakhir. Ternyata 300: Rise of an Empire (2014) mengisahkan kisah pada periode sebelum, saat & setelah peristiwa 300 (2006) berlangsung namun dari sisi pejuang negara kota Athena. Awalnya dikisahkan asal mula mengapa raja Persia, Xerses (Rodrigo Santoro), ingin sekali menaklukan Yunani. Ayah Xerses, Darius (Igal Naor), dibunuh oleh seorang prajurit Athena yang bernama Themistokles (Sullivan Stapleton) dalam sebuah pertempuran yang disebut pertempuran Marathon. Api amarah & dendam Xerses juga semakin membesar karena pengaruh tangan kanannya, Artemisia (Eva Green).

300 Rise 21

300 Rise 13

300 Rise 23

300 Rise 22

Artemisia adalah Jendral kesayangan ayah Xerses yang kemudian menjadi tangan kanan Xerses. Meskipun berdarah Yunani, Artemisia sangat membenci Yunani karena perbuatan orang-orang Yunani kepadanya & keluarganya di masa kecil. Provokasi Artemisia berhasil, Xerses mengerahkan pasukannya untuk menginvasi Yunani lagi. Xerses memimpin langsung pertempuran melayan Sparta yang diceritakan pada film 300 (2006). Sementara itu Artemisia memimpin pertempuran di laut melawan Athena & beberapa sekutunya.

R3_V10F_72613_CO3_PULLS_01rl_0042 300 Rise 20 300 Rise 3

Themistokles, pahlawan Athena pada perang Marathon, ingin menyatukan seluruh negara kota Yunani yang saat itu masih terpecah-pecah, Themistokles yakin bahwa Yunani akan menang melawan Persia bila Yunani bersatu, sementara itu beberapa politisi Yunani lainnya berpendapat skeptis, memang di atas kertaa, kekuatan tempur Yunani akan tetap di bawah Persia, namun penentu kemenangan suatu perang bukan hanya jumlah, perkiraan dan data di atas kertas saja. Akankah usaha Themistokles untuk menyatukan Yunani berhasil? . . …. dari awal film, saya yakin berhasil, tapi akankah tokoh protagonisnya, Themistokles, tewas diakhir cerita seperti Leonidas pada 300 (2006)? Pertanyaan yang akan terjawab setelah menonton 300: Rise of an Empire (2014) sampai habis :).

R3_V10F_72613_CO3_PULLS_01rl_0025

300 Rise 12 300 Rise 15

Saya senang menonton 300: Rise of an Empire (2014) karena film ini bukanlah film action yang hanya mengumbar kekerasan & kesadisan saja, walaupun menurut saya film ini memang kurang pantas ditonton anak-anak di bawah 17 tahun, banyak darah-darah bertebaran dan adegan sadis dimana-mana. Selain menampilkan kekerasan, 300: Rise of an Empire (2014) juga menampilkan kecerdikan Themistokles dalam menghadapi armada laut pimpinan Artemisia yang jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang armada laut yang dipimpin, perang taktik antara Themistokles & Artemisia cukup menarik & membuat saya betah duduk menonton film ini.

300 Rise 7 300 Rise 9 R1_V10D3_80613_CO3_PULLS_01rl_0012

300 Rise 17

300: Rise of an Empire

Cerita yang diangkat pada 300: Rise of an Empire (2014) diambil dari sejarah peperangan antara Yunani & Persia yang benar-benar terjadi di masa lampau, hanya saja cerita tersebut sudah diramu & dimodifikasi dengan versi yang berbeda, maklum 300: Rise of an Empire (2014) bukanlah film dokumenter jadi tidak 100% asli berdasarkan sejarah. Ada hal-hal tertentu yang dilebih-lebihkan & tidak ada di masa lampau.

300 Rise 6 300 Rise 4 300 Rise 5 300 Rise 8 300 Rise 10 300 Rise 11

Mirip seperti 300 (2006), film 300: Rise of an Empire (2014) juga menggunakan special efect yang membuat alam & latar belakang lokasi cerita menjadi lebih dramatis & lebay heheheheh. Awan, langit, ombak & penampakan alam lainnya nampak berbeda dengan film-film lainnya. Kostom yang dipergunakan juga menunjang tampilan latar belakang tersebut. Hanya saja sayangnya efek cipratan darahnya terlalu berlebihan sehingga cipratan darah tersebut tidak nampak asli.

Sebenarnya pada awalnya justru tampilan yang sangat mendramatisir tersebutlah yang menarik saya untuk menonton, tak disangka ternyata 300: Rise of an Empire (2014) memiliki cerita lebih bagus & menghibur dibanding 300 (2006). Olehkarena itulah 300: Rise of an Empire (2014) layak mendapat nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.300themovie.com