Strange World (2022)

asih segar di dalam ingatan saya, bagaimana Strange World (2022) masuk ke dalam daftar tontonan keluarga saya. Bagaimana tidak? Trailer-nya saja membawa-bawa nama Big Hero 6 (2014) dan Encanto (2021). 2 film yang saya tonton bersama anak-anak saya. Jadi yaaaa, secara tersirat, otomatis Strange World (2022) memang dibuat untuk anak-anak dan keluarga. Oh apa saya salah menyimpulkan ya?

Film ini hadir dengan animasi yang cantik dan mengadirkan sebuah dunia yang berbeda. Sebuah dunia asing yang penuh misteri tapi jauh dari kata menyeramkan. Semua dibungkus oleh warna-warni yang cerah. Tidak ada adegan sadis di sana, lha wong monsternya saja tidak menakutkan. Masalah mulai ditemui ketika saya mengikuti jalan ceritanya. Yah paling tidak masalah bagi saya pribadi. Saya yakin banyak yang memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini.

Sepintas, Strange World (2022) seperti film petualangan bagi anak-anak dan keluarga. Kisahnya berkisar pada sebuah wilayah yang disebut Avalonia. Wilayah ini kelilingi oleh pegunungan yang tidak dapat dilewati oleh siapapun. Seberapa tinggi pun manusia terbang, tetap saja pegunungan tersebut tidak dapat dilewati. Seperti apa dunia di luar Avalonia? Jaeger Clade (Dennis Quaid) adalah penjelajah paling terkenal dari Avalonia. Perlahan tapi pasti, ia selalu selangkah di depan dalam menembus pegunungan yang mengelilingi Avalonia.

Berbeda dengan sang ayah, anak Jaeger yaitu Searcher Clade (Jack Gyllenhaal), justru tidak senang menjelalah. Clade justru berhasil mengembangkan tanaman ajaib yang dapat menghasilkan energi bagi Avalonia. Sebuah penemuan fenomenal yang membuat kehidupan rakyat Avalonia semakin nyaman. Jaeger dan Searcher memiliki patung besar di tengah kota, sebagai wujud penghormatan rakyat Avalonia bagi kedua anggota keluarga Clade tersebut. Keduanya dihormati atas 2 hal yang bertolakbelakang. Jaeger berusaha membantu rakyat Avalonia untuk keluar dan menemukan hal baru di luar Avalonia. Sementara itu Searcher justru memberikan penemuan yang membuat rakyat betah hidup damai di dalam Avalonia.

Berada di bawah nama besar ayah dan kakeknya, Ethan Clade (Jaboukie Young-White) seakan berada di tengah-tengah. Ethan adalah anak semata wayangnya Searcher Clade. Sebagai seorang ayah, Searcher sendiri berharap agar Ethan mengikuti jejaknya sebagai petani dan penemu yang sukses. Padahal diam-diam Ethan menginginkan sesuatu yang berbeda ….

Searcher seolah lupa bahwa ia pun melawan arus. Keluarga Clade terkenal akan kemampuannya untuk menjadi petualang dan penjelajah, bukan petani. Menjadi petani adalah keputusan yang agak berbeda bagi seorang Clade. Sekarang, Searcher berada di posisi Jaeger. Memiliki seorang anak yang mengambil jalan yang berbeda. Berbeda di sini adalah berbeda mengenai profesi dan hobi, bukan perbedaan preferensi seksual. Semua karakter pada Strange World (2022) tidak mempermasapahkan Ethan Clade yang menyukai sesama jenis. Semua karakter pada Strange World (2022) memiliki toleransi yang sangat baik terkait hal ini. Mengingat, karakter yang jelas-jelas seorang LGBTQ hanya Ethan, si karakter utama yang masih ABG.

Dari sudut pandang mengajarkan toleransi, hal ini merupakan hal yang positif. Namun sudah pantaskah memperkenalkan anak-anak kecil kepada konsep LGBTQ? Dari cerita, visual sampai iklannya saja, Strange World (2022) seolah-olah dibuat untuk ditonton oleh keluarga lengkap dengan anak-anaknya. Di agama saya sendiri, LGBTQ termasuk hal yang dilarang. Namun semua bergantung pada individu masing-masing. Setiap orang berhak menentukan apa yang ingin ia lakukan. Saya pun harus menghormati keputusan yang diambil. Namun, bagaimana dengan anak-anak kecil yang masih jauh dari kata dewasa?

Sebagai orang tua, saya ingin menanamkan nilai-nilai yang saya anggap baik kepada anak-anak saya. Merupakan hak dan kewajiban saya untuk memprogram anak-anak saya sedari dini. Sebagai seseorang yang beragama, saya ingin anak-anak saya untuk paham dulu mengenai ajaran agamanya. Termasuk pandangan agama yang dianut terkait LGBTQ. Di sana mereka belajar pula bagaimana caranya menghadapi perbedaan. Perbedaan tidak seharusnya membuat manusia saling benci. Kita masih dapat hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki pandangan atau keyakinan yang berbeda dengan kita. Namun semua itu ada batasannya masing-masing. Toleransi berbeda dengan mencampuradukan keyakinan.

Disney membungkus Strange World (2022) dalam bentuk animasi yang bagus sekali. Sesuatu yang menarik bagi anak-anak. Saya sadar film ini masuk ke dalam kategori PG (Parental Guide) yang artinya bukan untuk anak-anak dan harus didampingi orang tua. Tapi bukankah di Indonesia terkadang orang-orang agak abai dengan pengkategorian umur penonton seperti ini? Apalagi nama Disney sangat identik dengan film-film animasi yang ramah anak-anak. Padahal akhir-akhir ini, Disney agak sudah mulai melenceng…. Zaman sekarang, orang tua memang memiliki tantangan ekstra untuk menentukan film apa yang bisa anak-anaknya tonton. Sesuatu yang terlihat seolah-olah cocok bagi anak-anak, belum tentu benar-benar cocok bagi anak-anak. Apakah pesan moral yang dibawakan sudah cocok semua?

Saya sendiri tidak akan mengijinkan anak-anak saya untuk menonton Strange Worlds (2022). Karena anak-anak saya belum ada yang siap untuk disuntikkan pengetahuan LGBTQ oleh Disney. Silahkan sebut saya homophobic, tapi ini sudah melampaui batas. Ini kita berbicara mengenai anak-anak kecil yang masih polos looooh.

Disney nampaknya sibuk dengan agenda LGBTQ-nya hingga lupa bagaimana membuat film animasi dengan cerita yang menarik. Biasanya, pada film-film Disney sebelumnya, unsur LGBTQ dibuat tersirat atau muncul sekilas. Dengan demikian, hanya orang dewasa yang akan faham dan menyadarinya. Pada Strange World (2022), karakter utamanya saja sudah terang-terangan flirting dengan ABG laki-laki lain. Kemudian di tengah-tengah dialog basa-basi saja, topik LGBTQ tiba-tiba muncul sebagai bahan obrolan. Nampaknya hal ini sengaja ditonjolkan sampai-sampai tidak ada komedi yang lucu pada Strange World (2022). Biasanya ada selipan lelucon yaaa di film-film seperti ini. Lah ini yang ada hanya obrolan LGBTQ saja.

Terlepas dari ada LGBTQ atau tidak, dunia misteriusnya Strange World (2022) gagal membuat saya penasaran. Hal-hal unik yang ada di sana pun gagal menambah greget film ini. Petualangan ketiga generasi keluarga Clade pun terasa klise dan membosankan. Saya pun beberapa kali berhenti ketika menonton film ini. Setelah 15 menit saya malas dan berhenti. Kemudian melanjutkan menonton lagi besok-besok, itupun hanya 10 menit wkwkwkwk. Setelah melawan kebosanan, karena tanggung ya, siapa tahu ada hal yang keren pada film ini. Saya masih tidak percaya kok ya Disney bisa-bisanya membuat film animasi seperti ini :(.

Sebenarnya, film ini bisa jadi tetap menarik bagi penonton cilik. Namun agenda dan pesan LGBTQ saya rasa kurang cocok bagi anak-anak kecil. Pangsa pasar film ini terada agak membingungkan. Maka, cerita yang membosankan dan pesan moral yang kurang cocok bagi anak-anak, membuat saya hanya memberikan Strange World (2022) nilai 1 dari skala maksimum 5 yang artinya “Tidak Bagus”. Strange World (2022) gagal total di box office dan sukses membuat Disney rugi ratusan juta dolar. Bukan kerugian terparah Disney sih. Namun kepercayaan saya terhadap Disney, sebagai penghasil film animasi unggulan ramah anak, lenyap sudah. Tapi yaa apalah saya, hanya buih di Samudera Hindia hehehehe.

Sumber: http://www.disney.com

Serial The Glory

The Glory (더 글로리) merupakan serial asal Korea Selatan yang berbicara mengenai balas dendam dan perundungan. Di Korea Selatan sendiri, kasus perundungan atau bullying menjadi sesuatu yang memalukan. Sudah ada artis dan atlet yang karirnya hancur akibat bullying. Bukan karena peran mereka sebagai korban, melainkan sebagai pelaku. Sentimen negatif masyarakat bagi para pelaku bullying terbukti membuat karir seseorang hancur lebur. Ini bukanlah hal yang diduga akan terjadi bagi pelaku bully di tahun-tahun 2000-an awal. Sehingga, saat ini, ada beberapa tokoh ternama yang hancur dikecam masyarakat setelah diketahui bahwa ia merupakan pelaku bullying ketika masih sekolah dulu. Kurang lebih hal inilah yang menjadi latar belakang The Glory.

Pada tahun 2000-an awal, Moon Dong Eun (Song Hye-kyo) menjadi korban bully yang sangat parah dari sekelompok teman sekolahnya. Tidak hanya di sekolah, kelompok pelajar laknat ini melanjutkan perilaku norak mereka di rumah Dong Eun. Hal ini diperparah oleh perilaku kurang terpuji guru dan orang tua Dong Eun. Semua bukti bullying yang dikumpulkan oleh perawat sekolah seakan hanya menjadi angin lalu. Mental dan fisik Dong Eun hancur akibat bullying berkepanjangan ini. Semua terjadi hingga pada akhirnya Dong Eun keluar dari sekolah dan mengubur mimpinya untuk menjadi seorang arsitek.

Hidup memang seolah tak adil bagi Dong Eun. Para pelajar yang dulu mem-bully-nya sekarang hidup bahagia dan sukses. Beberapa diantaranya bahkan terkenal dan masuk TV. Oknum guru yang berperan dalam kasus bullying Dong Eun pun, bahkan berhasil memperoleh penghangaan dan pemerintah dan menikmati hidup damai sebagai pensiunan guru. Dong Eun memantau pergerakan orang tua nya sama seperti ia memantau pergerakan para pem-bully. Entah apa yang akan Dong Eun lakukan pada orang tuanya sendiri.

Di sini The Glory dengan cerdas membuat aksi bullying terlihat berada ambang dibatas antara mustahil dan mungkin. Sangat berbeda dengan film-film Indonesia dan India yang sering kali berlebihan untuk adegan-adegan seperti ini. Peristiwa bullying pada Glory ternyata memang diambil dari kasus-kasus bullying yang memang nyata pernah terjadi di Korea Selatan.

Potongan aksi bullying ini sering kali muncul pada The Glory. Penonton pun membuat semakin memihak Dong, Eun, meski apa yang ia lakukan tidak 100% benar. Si tokoh utama memang masih mengalami trauma sampai bertahun-tahun setelah peritiwa buruk tersebut terjadi. Dong Eung pun selama ini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membalas dendam bagi semua pihak yang bertanggung jawab terhadap aksi bullying yang menimpanya.

Perlahan tapi pasti, selama bertahun-tahun Dong Eun menyiapkan rencana balas dendam. Ia tidak ingin semuanya langsung mati terbunuh begitu saja. Dong Eun ingin pula menghancurkan hidup para pelaku. Balas dendam ini harus perlahan agar lebih terasa :’D.

Sebenarnya, dalam perjalanannya, Dong Eun menemukan persahabatan dan cinta. Semua itu berusaha ia buang jauh-jauh agar dapat tetap fokus menjalankan rencanya. Sebenarnya ia memiliki pilihan untuk melupakan semua aksi bullying dan memaafkan semuanya. Kemudian menjalankan hidup normal bebas dari semua kebencian. Pilihan lainnya adalah menyiksa semua pihak yang terlibat, sampai habis. Secara moral, pilihan memaafkan memang yang paling baik. Tapi terus terang pilihan ini agak klise dan sangat membosankan. Melihat Dong Eun membalas dendam memang sangat memuaskan. Terlebih lagi, adegan aksi bullying di masa lampau selalu muncul pada setiap episodenya hehehehe. Gemes saya melihatnya.

Sementara ini The Glory berhasil menjadi serial balas dendam favorit saya. Balas dendam tidak hanya langsung pukul atau tembak sampai mati saja, hehehe. Serial ini sudah selayaknya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.studiodragon.net

Serial Revenge of Others

Serial Revenge of Others (3인칭 복수) merupakan serial asal Korea Selatan yang bercerita mengenai misteri pembunuhan di sebuah sekolah. Ok Chan Mi (Shin Ye-eun) rela pindah sekolah dari Busan ke Seoul demi menyelidiki kematian saudara kembarnya. Kepolisian Seoul menyatakan bahwa ini adalah kasus bunuh diri. Semua orang percaya dan menerima hal itu kecuali Ok Chan Mi.

Sekilas, lingkungan sekolah saudara kembar Ok Chan Mi, seperti lingkungan sekolah biasa. Lama kelamaan Chan Mi menemukan berbagai masalah di dalam lingkungan tersebut. Mulai dari bullying, pelecehan, sampai cinta terlarang. Semua dibungkus dibalik budaya ketimuran yang tidak sevulgar budaya barat.

Serial ini memiliki beberapa misteri yang terus menerus muncul secara bergantian. Misterinya tidak mengadung teka-teki yang rumit sehingga semua terbilang mudah dipahami. Sayangnya, terkadang yah misterinya terlalu mudah ditebak. Semua serba ringan karena Revenge of Others berbicara pula mengenai permasalahan remaja.

Kisah percintaan dan bullying ternyata cukup dominan juga pada serial ini. Bagian paling memuaskan pada serial ini justru pada beberapa adegan yang membahas bullying. Bukan ketika misterinya terungkap. Lucunya, bullying dan misteri pembunuhannya, bukanlah bagian yang menjadi sebab akibat langsung. Entah serial ini mau bercerita mengenai misteri pembunuhan atau permasalahan remaja.

Karena latar belakangnya adalah sekolahan, jadi masuk akal kalau permasalahan remaja ikut hadir disana. Walaupun memang agak overdosis. Selain itu terdapat beberapa bagian yang lumauan menegangkan dan menbuat saya penasaran. Bagaimanapun juga, Revenge of Others tetap menarik untuk diikuti. Serial ini mampu menjadi hiburan ringan di saat penat. Saya rasa Revenge of Others layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksinum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sbsmedia.co.kr

Puus in Boots: The Last Wish (2022)

Puus in boots atau kucing bersepatu boot sebenarnya merupakan salah satu karakter dongeng sewaktu saya masih kecil. Karakter ini muncul pada film-film Shrek. Namun saya pribadi kurang suka dengan film-film Shrek. Meskipun patut diakui bahwa film-film tersebut memiliki pesan moral yang baik.

Puus in Boots (2011) hadir sebagai spin-off dari film-film Shrek. Sayang film tersebut agak kurang lucu dan membosankan bagi saya pribadi. Maka saya agak skeptis ketika Si Kucing hadir kembali pada pergantian tahun ini. Saya pun menonton Puus in Boots: The Last Wish (2022) karena ini adalah satu-satunya film yang masuk kategori Semua Umur. Saya sekeluarga bisa masuk bioskop menontonnya.

Antonio Banderas masih menjadi pengisi suara Puus. Sebagai pemeran Zorro pada The Mask of Zorro (1998) & The Legend of Zorro (2005), Antonio memang menjadi pilihan yang paling pas bagi Puus. Karakter Puus memang sangat mirip dengan Zorro. Mulai dari cara berkelahi sampai cara berkelakar, Puus merupakan versi animasi dari Zorro. Dengan penuh rasa percaya diri, Puus berani menentang penguasa dan mengalahkan segalanya.

Namun belakangan terdapat sebuah peristiwa yang membuat Puus kehilangan kepercayaan dirinya. Ia pun memutuskan untuk pensiun dan hidup sebagai kucing biasa. Hadirnya sebuah kabar mengenai bintang jatuh yang dapat mengabulkan permintaan, berhasil membuat Puus bangkit. Ia kembali untuk meramaikan arena perebutan bintang jatuh.

Agak klise, terjadi perebutan dimana-mana. Semua karakter berburu bintang jatuh untuk memperoleh keinginan masing-masing. Sudah dapat ditebak bahwa memperoleh keingingan dari bintang jatuh, bukanlah segala-galanya. Masing-masing karakter dalam perjalannya menyadari bahwa apa yang dicari sebenarnya sudah ada di depan mana … yah keculi satu karakter yang memang didesain untuk menjadi mahluk serakah. Sekali lagi, sebuah franchise dari Shrek mampu memberikan pesan moral yang sangat baik. Namun kalau dari segi hiburan, terkadang agak membosankan. Leluconnya pun tidak terlalu lucu, hanya mampu membuat saya tersenyum tipis.

Beruntung animasi yang ditampilkan merupakan sebuah keunggulan yang tidak dapat dipungkiri. Film ini memberikan visual yang memukau untuk film animasi keluaran tahun 2022 akhir. Adegan aksinya otomatis nampak seru dan enak ditonton oleh anak-anak dan orang dewasa.

Film kedua Puus ini memang lebih baik daripada film pertamanya. Secara keseluruhan, Puus in Boots: The Last Wish (2022) layak untuk meperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sementara ini, inilah nilai maksimum yang bisa saya berikan kepada film-film di semesta Shrek. Mungkin saya pribadi saja yang tidak terlalu cocok dengan Shrek dan kawan-kawan :).

Sumber: http://www.dreamworks.com

Serial Kingdom

Mengambil latar belakang era kekuasaan Dinasti Joseon di Korea, Serial Kingdom (킹덤) berbicara mengenai perebutan kekuasaan. Pertikaian memperebutkan kekuasaan memang sudah sering menjadi topik yang diangkat pada berbagai film lainnya. Agak berbeda dengan yang lain, Kingdom menambahkan unsur misteri dan horor ke dalam perebutan kekuasaan tersebut.

Diawali oleh kegagalan invasi Jepang ke wilayah Korea pada Perang Imjin. Korea berhasil bertahan namun dengan cara yang tidak lazim. Cara ini pun dipergunakan oleh petinggi kerajaan demi memperoleh kekuasaan. Cara yang tidak lazim ini melahirkan sebuah penyakit yang ganas dan sulit untuk dibendung.

Penderita penyakit misterius ini akan berperilaku seperti layaknya mayat hidup atau zombie. Penyakit ini sangat mudah menular karena dapat menyebar melalui gigitan. Apalagi para zombie pada Kingdom, dapat berlari dengan sangat agresif. Hal ini menambah ketegangan ketika menonton serial tersebut.

Dari banyak karakter licik dan kejam yang ada, paling tidak terdapat 1 tokoh mulia pada serial ini. Sang Putra Mahkota Lee Chang (Ju-Ji-hoon) memiliki ambisi untuk membangun pemerintahan yang adil dan memihak rakyat. Namun, cepat lambat ia tidak akan memiliki rakyat apabila para zombie masih berkeliaran menularkan penyakit.

Dengan dibantu oleh beberapa pihak tidak semuanya 100% setia, Chang harus memusnahkan para zombie dan mengamankan tahta kerajaan dari para pejabat kotor. Perlahan misteri mengenai penyakit zombie mulai terkuak. Sebuah misteri yang tidak terlalu misterius. Namun jalan yang ditempuh untuk memecahkan misterinyalah yang menyenangkan untuk ditonton.

Perebutan kekuasaannya pun menggunakan beberapa fitnah dan taktik licik lainnya. Semuanya dalam takaran yang pas sehingga saya tidak bosan ketika melihat Chang tertimpa kemalangan. Si tokoh utama tidak dizalimi terlalu lama. Kisah Kingdom tidak bertele-tele seperti sinetron. Selalu ada saja sesuatu yang baru. Jadi saya menemukan beberapa bagian yang menyenangkan ketika menonton Kingdom.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Kingdom nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Perebutan tahta kerajaan di tengah-tengah serangan zombie, ternyata mampu menjadi hiburan yang menarik.

Sumber: astory.co.kr

Serial Alice in Borderland

Setahun sebelum Squid Game mulai tayang, terdapat 1 serial lain yang genre-nya mirip. Sama-sama berbicara mengenai kompetisi maut. Hanya saja hadiah bagi sang pemenang adalah kehidupan, bukan uang. Serial 今際の国のアリス atau Alice in Borderland merupakan serial asal Jepang yang dibuat berdasarkan manga karya Haro Aso.

Kalau pada Alice in Wonderland, si tokoh utama tiba-tiba pergi ke sebuah dunia lain yang penuh warna. Nah, pada Alice in Borderland, dikisahkan beberapa penduduk kota Tokyo yang ramai, tiba-tiba berada di kota Tokyo yang sangat sepi. Kota Tokyo ini sangat berbeda dan merupakan dunia alternatif yang berbeda dengan kota Tokyo yang kita kenal. Di sana, terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Setiap individu harus memenangkan salah satu pertandingan maut yang berada di beberapa sudut kota. Peserta yang kalah tentunya kehilangan nyawanya. Sementara itu para pemenang memiliki tambahan hari untuk hidup. Sebelum tambahan harinya habis, mereka harus mengikuti kembali salah satu pertandingan maut lagi. Siklus ini terus berulang entah sampai kapan. Namun pada perkembangannya, terdapat beberapa perubahan peraturan yang harus dihadapi.

Misteri mengenai asal dan maksud dari semua ini merupakan tanda tanya besar yang membuat penonton penasaran. Berbagai pertandingan mautnya pun sangat seru untuk ditonton. Beberapa perubahan dalam permainan yang ada pun berhasil menjadi kejutan yang keren.

Alice in Borderland tidak hanya bercerita mengenai permainan maut saja. Terdapat jeda antara satu permainan maut ke satu permainan maut lainnya. Mereka bisa saja beristirahat, atau justru menemukan mesalah dan sekutu baru. Manusia cenderung melakukan berbagai hal untuk selamat. Berbagai taktik dilakukan ketika sedang berada di dalam permainan, dan di luar permainan.

Seingat saya, pasti ada karakter yang gugur pada setiap episodenya. Terkadang, memang ada beberapa karakter yang gagal memperoleh perhatian saya. Mereka terlalu cepat gugur tanpa ada cerita di belakangnya. Namun, pada beberapa karakter utama, kisah latar belakangnya cukup detail, beberapa diantaranya bahkan mengejutkan.

Paling tidak terdapat 2 karakter protagonis yang paling menonjol pada Alice in Borderland. Ryohei Arisu (Kento Yamazaki) dan Yuzuha Usagi (Tao Tsuchiya) bisa jadi menjadi karakter utama pada serial ini. Keduanya sangat menyenangkan untuk dilihat. Kecerdikan Arisu dan kelincahan Usagi membuat keduanya nampak bersinar. Hubungan romantis antara Usagi dan Arisu pun berhasil menambah bumbu yang lezKarena permainan maut pada serial ini membutuhkan kemampuan fisik dan pikiran. Ahhh satu lagi, hati. Waaah permainan hati menjadi sesuatu yang paling sulit pada Alice in Borderland. Terlebih lagi, Arisu dan Usagi perlahan memperlihatkan ketertarikan satu sama lain. Mampukan mereka bertahan?

Saya sudah berkali-kali menonton film yang bertemakan survival. Alice in Borderland memiliki berbagai kelebihan yang membuat saya terpaku ketika menontonnya. Saya ikhlas memberikan Alice in Borderland nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.robot.co.jp

Serial Mandalorian

Di dalam dunia Star Wars, ternyata terdapat satu kesatria lagi selain Jedi dan Sith, yaitu Mandalorian. Mandalorian memang tidak memiliki ilmu telekinesis seperti Jedi dan Sith. Namun para Mandalorian terkenal akan kemampuannya bertempur dengan dilengkapi oleh berbagai peralatan tempur yang canggih. Sebagian besar dari perlengkapannya terbuat dari bahan beskar. Beskar sendiri merupakan logam yang sangat kuat, namun langka dan mahal. Budaya Mandalorian memang sangat berhubungan erat dengan dunia militer. Jadi bahan semahal Beskar pun rela mereka bayar demi meraih kejayaan di medan tempur.

Bagi penonton Star Wars tentunya mengetahui bahwa Galactic Empire memiliki hubungan yang erat dengan Sith. Sementara itu Rebel Alliance atau New Republic memiliki hubungan yang erat dengan Jedi. Jadi, dimana posisi Mandalorian? Pada awalnya, para mandalorian bersekutu dengan para Sith untuk mengalahkan Jedi. Namun pada akhirnya Galactic Empire dan Sith yang menyerang Planet Mandalore dan melakukan genosida terhadap Mandalorian.

Planet Mandalore telah lama sekali menjadi rumah bagi para Mandalorian. Sejak serangan besar dari Galactic Empire, para mandalorian yang selamat, terpencar ke seluruh galaksi. Sebagian besar memilih berprofesi sebagai pemburu bayaran. Begitu pula yang tokoh utama Serial Mandalorian lakukan.

Din Djarin (Pedro Pascal) merupakan seorang Mandalorian yang handal dalam melakukan perburuan. Namun, berburu dan mendapatkan hadiah bukanlah segala-galanya bagi Djarin. Ia adalah seorang Mandalorian dengan hati nurani. Di tengah-tengah sikapnya yang dingin, Djarin rela berkorban demi sesuatu yang dianggap benar. Ia bahkan rela kehilangan segala-galanya demi menyelamatkan seorang bayi Jedi.

Berdasarkan sejarah masa lalu, para Jedi memiliki hubungan yang buruk dengan beberapa mandalorian. Latar belakang Serial Mandalorian sendiri adalah antara Star Wars Episode VI: Return of the Jedi (1983) dan Star Wars Episode VII: Star Wars: The Force Awakens (2015). Rebel Alliance dan Jedi yang dipimpin Luke Skywalker baru saja mengalahkan Galactic Empire dan Sith terkuat mereka. Keruntuhan Galactic Empire hanya menunggu waktu saja. Namun jauh di luar pusat kekuasaan Rebel Alliance, pecahan Galactic Empire masih ada dan terus merencanakan sesuatu. Inilah yang harus Djarin Sang Mandalorian hadapi.

Saya suka dengan jalan cerita Mandalorian. Sekilas memang seperti game RPG ya. Hampir di setiap Planet, Djarin memperoleh misi atau quest untuk mendapatkan apa yang Djarin inginkan. Misinya sendiri beraneka ragam dan jauh dari kesan membosankan. Semakin lama, petualangan Djarin semakin menyenangkan untuk ditonton. Kerennya, semua ini dilakukan tanpa dialog yang panjang dari Sang Mandalorian. Ia bahkan hampir tidak pernah membuka helmnya. Apa tidak gerah dan gatal ya? :,)

Pada awalnya, adegan pertempurannya terbilang lumayan. Saya menikmati tontonan ketika para tokoh serial ini saling tebak dan saling pukul. Apalagi persenjataan Mandalorian terbilang unik, agak berbeda dengan karakter lain. Semua semakin menarik ketika mulai hadir Jedi lengkap dengan pedang lasernya. Terakhir, muncul pula Dark Saber, wah wah wah apa ini?

Akhir-akhir ini saya agak kecewa dengan beberapa film Star Wars yang saya tonton. Saya selalu berfikir bahwa Star Wars tidak akan seru kalau tokoh utamannya bukan Sith atau Jedi. Serial Mandalorian mengubah segalanya. Star Wars bukan hanya mengenai Jedi dan Sith saja. Saya rasa serial yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Kesuksesan Mandalorian melahirkan spin-off baru seperti The Book of Boba Fett. Mungkin suatu saat nanti saya akan menonton spin-off ini.

Sumber: http://www.starwars.com

Serial Wednesday

Dahulu kala, saya pernah menonton serial The Addams Family. Kurang lebih serial tersebut mengisahkan sebuah keluarga dengan nuansa horor sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Semua yang seharusnya menyeramkan, diolah menjadi sarkasme. Sayangnya, saat itu saya masih terlalu kecil untuk faham sarkasmenya. Ketika The Addams Family hadir dalam berbagai film animasi atau serial lainpun, saya tidak tertarik untuk ikut menontonnya. Serial Wednesday agak berbeda. Berhubung aplikasi streaming smartphone saya terus menerus menampilkan iklan serial ini, saya pun akhirnya mencoba menontonnya. Saya menonton Wednesday tanpa mengetahui ini serial apa :’D.

Ternyata Wednesday itu adalah nama tokoh utamanya. Tokoh utama serial ini bernama Wednesday Addams (Jenna Ortega). Sudah ada nama Addams saja, pada awalnya saya tetap belum sadar siapa itu Mba Wednesday hehehehehe. Lama-kelamaan saya baru menyadari bahwa Wednesday Addams adalah salah satu anak dari The Addams Family. Jadi dapat dikatakan bahwa Wednesday adalah spin-off dari The Addams Family.

Wednesday Addams tampil sebagai gadis gothic yang cuek, pantang menyerah, cerdas dan penuh sarkasme. Uniknya, sarkasme pada serial ini berhasil membuat saya tertawa. Pembawaan karakter Wednesday sangat menyenangkan untuk ditonton. Akting Jenna Ortega sebagai Wednesday terbilang menonjol.

Selain itu, Wednesday dipenuhi oleh berbagai misteri yang menarik untuk diikuti. Setiap episodenya terdapat sesuatu yang membuat menonton penasaran. Walaupun penuh misteri, semuanya disajikan dengan sederhana dan mudah dipahami. Misterinya bukan misteri yang seperti benang kusut ala sinetron kok. Misterinya berada di tengah-tengah dunia supranatural yang bernuansa gothic.

Serial ini mengambil latar belakang yang sama dengan The Addams Family. Jadi, beberapa karakter pada serial ini memiliki kekuatan tertentu. Namun kekuatan tersebut tidak digambarkan seperti kekuatan superhero. Semua digambarkan sebagai kekuatan supranatural yang agak suram dan gelap.

Sutradara serial ini adalah Tim Burton yang sangat akrab dengan karya-karyanya yang bernuansa gothic. Biasanya saya tidak terlalu suka dengan film-filmnya Opa Tim Burton. Tapi kali ini saya harus mengacungkan 2 jempol bagi Serial Wednesday. Serial Wednesday ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya jauh lebih suka Wednesday ketimbang The Addams Family.

Sumber: http://www.mgm.com

Serial Weak Hero Class 1

Bullying atau perundungan menjadi sebuah topik yang sudah sering diangkat ke layar kaca dan layar lebar. Ketika pertama kali melihat serial Weak Hero Class 1, saya pikir ini akan menjadi kisah from zero to hero. Anak yang menjadi korban bullying perlahan berhasil melawan si pelaku. Ah ternyata saya salah besar.

Pada Weak Hero Class 1 atau 약한영웅 Class 1, dikisahkan bagimana seorang Yeon Si-Eun (Park Ji-Hoon) menghadapi bullying. Ia hanyalah seorang anak sekolah yang ingin serius belajar, mendapatkan nilai bagus, lalu diterima kuliah di kampus ternama. Namun dalam perjalanannya, Si-Eun harus berhadapan dengan bullying. Berbeda dengan film mengenai bullying lainnya, Si-Eun sudah melakukan perlawanan yang sangat memuaskan sejak episode pertama.

Yang saya paling suka dari Weak Hero Class 1, si tokoh utama tidak menderita terlalu lama. Bisa jadi justru tokoh-tokoh antagonis yang menjadi bulan-bulanan target bullying mereka. Si-Eun menggunakan kecerdasan dan kenekadannya dalam menghadapi para pem-bully. Tanpa bekal ilmu kebal atau kesaktian ala superhero, Si-Eun berhasil membuat mereka semua gentar. Bagian ini terasa sangat memuaskan dan menyenangkan. Agak brutal sih, tapi ok loh. Bagusnya lagi, hal ini terjadi beberapa kali :D.

Sikap Si-Eun ini berhasil membuatnya memiliki teman …. dan musuh baru tentunya. Serial inipun akhirnya mengisahkan pula berbagai efek dari bullying. Selain itu, penyebab bullying terjadi pun ada di sana. Disinilah unsur drama Weak Hero Class 1 terasa semakin mengental. Saya pun mulai mengantuk pada bagian ini hehehe.

Serial asal Korea Selatan ini memang memiliki bagian yang sangat seru dan menyenangkan. Namun ada pula beberapa bagian yang sedikit membosankan. Bagaimanapun juga saya rasa Weak Hero Class 1 masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artiny “Bagus”.

Sumber: http://www.wavve.com

Black Adam (2022)

Setelah superhero Shazam hadir pada Shazam! (2019), nama Black Adam semakin menggema. Pada dasarnya Shazam dan Black Adam memiliki sumber yang sama. Hanya saja, Black Adam agak berbeda dan lebih gelap. Pada buku komik DC, Black Adam adalah salah satu musuh utama Shazam. Namun pada perkembangannya, Black Adam menggunakan kekuatannya untuk tujuan yang baik dengan cara yang terkadang kejam. Yah Black Adam adalah karakter antihero, jadi dia memang berada di wilayah abu-abu antara malaikat dan iblis.

Hal ini pula yang nampak jelas pada Black Adam (2022). Karakter DC Comics yang satu ini tidak terlalu peduli terhadap nyawa lawan-lawannya. Siapapun yang menghalangi langsung dibunuh. Apalagi Black Adam atau Teth Adam (Dwayne Johnson) dibangkitkan di tengah-tengah sebuah konflik. Ia memang sudah terkubur selama ratusan tahun, sehingga agak sulit bagi Black Adam untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Kemarahan dan kebencian pun membuat Black Adam kesulitan untuk mengendalikan kekuatannya. Disinilah peranan beberapa karakter lain diperlukan. Perlahan, Black Adam perlu belajar mengenai kemanusiaan dan persahabatan. Karena sekuat apapun Black Adam, ia tetap memerlukan teman.

Black Adam hadir dengan kekuatan super yang bisa dibilang setara dengan Superman. Sumber kekuatan Black Adam memang sama dengan Shazam. Namun cara Black Adam memperoleh kekuatannya terbilang jauh lebih kelam dan gelap dibandingkan Shazam. Sesuatu yang membuatnya lebih menarik ketimbang Shazam. Tentunya, Black Adam (2022) otomatis memiliki beberapa adegan sadis yang tidak baik bagi anak-anak.

Bagi orang dewasa seperti saya, adegan perkelahiannya terbilang cukup megah dan seru. Apalagi ditambah dengan kehadiran Justice Society yang terdiri dari Doctor Fate (Pierce Brosnan), Hawkman (Aldis Hodge), Atom Smasher (Noah Centineo) dan Cyclone (Quintessa Swindell). Semua membuat adegan perkelahiannya semakin ramai. Tentunya semua adegan perkelahian ini tidak overdosis.

Tidak hanya saling serang saja, masing-masing karakter pada Black Adam (2022) masih memiliki cerita yang nyaman untuk diikuti. Terdapat sedikit kejutan pada kisah masa lalu Black Adam (2022). Namun plot utama film ini tetap mudah ditebak. Yaaah tipikal origin story superhero pada umumnyalah.

Secara keseluruhan, Black Adam (2022) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Setidaknya film ini mampu memberikan secercah harapan bagi DCEU yang seperti sedang sekarat.

Sumber: http://www.blackadammovie.net