The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

The Exorcist (1973) merupakan salah satu contoh film horor yang sangat populer di Amerika sana. Pada intinya sih itu film mengenai kesurupan ala Amerika. Kemudian ada ritual pengusiran setan atau roh halus dari tubuh korban yang kesurupan. Film horor-horor sejenis ini banyak bergentayangan dan cukup membosankan bagi saya pribadi. Kesurupannya Indonesia lebih seram dan masif daripada itu :’D.

Semua sedikit bergeser ketika James Wan menelurkan The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016). Tokoh utamanya diambil dari karakter nyata di dunia nyata. Edward “Ed” Warren Miney dan Lorraine Rita Warren. Keduanya merupakan pasangam suami istri yang konon telah menyelidiki sampai 10000 kasus paranormal . Mereka bahkan memiliki koleksi akan berbagai benda paranormal dari beberapa kasus yang telah mereka tangani. Saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Kalau sudah masuk film, sopasti ada yang diubah agar menarik untuk ditonton.

Yang menjadi kelebihan dari 2 film besutan James Wan tersebut terletak pada kedua karakter Ed dan Lorraine yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Lorraine memiliki kemampuan cenayang, sedangkan Ed menjadi otot yang menjadi tumpuan Lorraine. Kerjasama keduanya terbilang enak untuk diikuti. Apalagi The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016) bukan hanya kerasukan dan kesurupan saja. Ada misteri dan jalan cerita yang beragam di sana.

Kesuksesan kedua film Conjuring menelurkan berbagai film spinoff yang menceritakan mengenai hal-hal terkait kasus Ed dan Lorraine Warren. Tapi keabsedan tokoh Ed dan Lorraine membuat spinoff-spinoff tersebut terasa hambar. Apalagi mereka menggunakan jump scare tak penting yang tidak pernah digunakan James Wann pada 2 film Conjuring.

Setelah 5 tahun menanti, akhirnya lahirlah film ketiga Conjuring yaitu The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Ini bukan spinoff yaaa, ini Conjuring original :P. Namun sangat disayangkan, Kokoh James Wan tidak akan mengisi posisi sutradara lagi. Ia terlibat sebagai produser dan penulis, cie cieee udah jadi pak bos euy. Lalu siapa sutradaranya? Michael Chaves, salah satu sutradara film spinoff dari Conjuring. Aaahhh, di sini saya agak ragu…..

Beruntung trailer The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) terlihat keren jadi perlahan saya lupa siapa sutradara film ketiga Conjuring ini. The Devil Made Me Do It merupakan salah satu judul berita di koran tahun 80’an. Isinya mengenai kasus persidangan pembunuhan. Eeeeeiiit tapi ini bukan kasus pembunuhan biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, kesurupan dijadikan alasan sebuah pembunuhan. Arne Cheyenne Johnson menyatakan bahwa ia dipengaruhi dan dikendalikan oleh setan ketika melakukan pembunuhan. Ed dan Lorraine pun hadir sebagai saksi ahli yang berusaha membuktikan bahwa Arne benar. Ed dan Lorraine berjuang di pengadilan berusaha membuktikan mengenai kesurupan setan. Sesuatu yang kontoversial dan bukan hal yang mudah. Nahhh ini adalah kisah nyata dari kasus tersebut. Isinya pengadilan saja dooong, seperti menonton Serial Law & Order duuong x_x.

Ok, beruntung versi filmnya dibuat berbeda. Karena tidak semua yang asli kisah nyata itu menarik untuk ditonton. Pada The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021), dikisahkan bahwa Ed dan Lorraine sedang menangani kasus kesurupan anak bungsu keluarga Glatzel. Arne Cheyenne Johnson (Ruari O’Connor) hadir sebagai kekasih si kakak. Di sana Arne ditampilkan sebagai pemuda baik hati yang sudah seperti menjadi bagian keluarga Glatzel. Maka tidak mengherankan ketika pada sebuah insiden, Arne menawarkan tubuhnya untuk dijadikan inang baru si setan. Arne tidak tega melihat penderitaan adik kekasihnya yang masih kecil.

Tak disangka, setan tersebut benar-benar menjadikan Arne sebagai inang yang baru. Ini sebenarnya lebih berbahaya karena kini si setan memiliki kendali atas tubuh seorang remaja, bukan anak kecil. Masalahnya, benarkah semua ini adalah udah setan? Untuk pertama kalinya Ed dan Lorraine harus berhadapan dengan lawan yang tidak 100% setan. Jangan apa-apa disalahakan ke setan dong, kasian amet jadi setan ;P.

Bak detektif paranormal, Ed dan Lorraine menelusuri berbagai petunjuk yang ada. Investigasi merupakan bagian yang paling saya suka dari film ini. Belum lagi terdapat unsur thriller yang bagus di sana. Penggunaan jump scare memang relatif lebih banyak dibanding 2 film Conjuring sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar kok.

Terus terang saya lebih suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) ketimbang 2 film pendahulunya. Unsur misteri dan thriller-nya terasa lebih kental. Memang hal ini mengorbankan unsur horornya sih. Tapi toh yang dikorbankam itu horor kesurupan, ah saya ikhlas sajalah. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan ritual pengusiran setan. Bosen ahhh, sekali-kali Ed & Lorraine pakai cara yang lainlah untuk menyelesaikan kasusnya.

Dengan demikian The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata keraguan saya kepada Mas Sutradara Michael Chaves terbukti salah. Saya ternyata cocok dengan caranya mengolah kasus Ed dan Lorraine, mangap ya Mas Chaves :).

Sumber: http://www.theconjuringmovie.net

Ratu Ilmu Hitam (2019)

Ketika masih kecil dulu, saya pernah menonton beberapa film Indonesia termasuk film-filmnya Suzzanna. Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah salah satu film Suzzana yang masih saya ingat sampai sekarang. Ceritanya cukup sederhana, Murni (Suzzanna) belajar ilmu hitam dan menjadi seorang ratu ilmu hitam setelah Murni kehilangan segalanya. Ia menggunakan ilmu hitam untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Film horor lawas tersebut memiliki jalan cerita dan plot yang lumayan menarik dan agak berbeda dengan film Suzzanna lainnya karena cara menceritakan yag lumayan bagus dan terdapat sedikit kejutan di dalamnya.

Lalu, apakah Ratu Ilmu Hitam (1981) sama dengan Ratu Ilmu Hitam (2019)? Sangat berbeda. Sudut pandang penonton pada Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah Si Ratu Ilmu Hitam yang diperankan oleh Suzzanna. Sementara itu, sudut pandang Ratu Ilmu Hitam (2019) dipandang dari kaca mata beberapa mantan anak panti asuhan, yang datang bersama keluarga mereka ke Panti Asuhan tempat mereka dulu dibesarkan.

Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) datang kembali ke Panti Asuhan setelah pemimpin Panti Asuhan tersebut sakit keras dan sepertinya tak lama lagi akan meninggal. Pada awal cerita mereka seolah khawatir akan nasib Panti Asuhan tersebut setelah pemimpinnya meninggal. Apalagi Panti tersebut terletak di tempat yang sangat terpencil. Bagaimana nanti nasib anak-anaknya nanti?

Dibalik semua itu, sebenarnya Hanif, Jefri dan Anton menyimpan sebuah rahasia kelam yang pernah terjadi di Panti tersebut. Sebuah rahasia yang tanpa mereka sadari, dapat mengancam keselamatan semua orang yang ada di sana. Padahal Hanif sendiri datang bersama istri dan ketiga anaknya. Jefri dan Anton pun datang bersama istri mereka masing-masing. Selain itu, Panti Asuhan tidaklah dalam keadaan kosong, terdapat 4 anak panti yang bertugas menyambut Anton dan kawan-kawan. Sementara anak-anak panti lainnya sedang Tamasya naik Bus ke luar daerah.

Teror datang silih berganti menghantui semua orang yang sedang ada di dalam Panti Asuhan tersebut. Semuanya terkait praktek ilmu hitam yang kejam. Siapa dan kenapa? Ok, sejauh ini kalau saya hitung terdapat 12 karakter yang keamanannya terancam. Pertanyaannya, apakah semua karakter-karakter tersebut cukup penting bagi cerita film ini? Sayangnya tidak. Saya rasa Ratu Ilmu Hitam (2019) seolah menampilkan banyak karakter untuk membuat penonton kesulitan menerka-nerka siapa biang keladi dari petaka yang terus berdatangan. Padahal banyak dari karakter-karakter tersebut yang saya sendiri tak ingat namanya. Kalaupun beberapa karakter tersebut tewas, yaaaa sudah tewas saja, kurang penting sih :’D.

Tetap patut saya akui, misteri yang dihadirkan memang membuat saya penasaran sampai akhir film. Meskipun jalan menuju akhir film ini penuh dengan adegan yang agak sadis dan menjijikan. Sisi positifnya, semua adegan sadis tersebut dihadirkan dengan sangat halus dan terlihat nyata. Sisi negatifnya, yaaa saya pribadi kurang suka dengan film-film horor yang menampilkan banyak adegan sadis nan menjijikkan atau sering disebut adegan gory.

Bisa dibilang film-film seperti ini memang menjadi ciri khas dari beberapa karya Kimo Stamboel sebagai sutradara film ini. Dipadukan dengan misteri ala Joko Anwar sebagai penulis Ratu Ilmu Hitam (2019), film ini cukup menghibur walaupun saya kurang suka dengan unsur gory pada film ini. Selain itu bagian akhirnya terasa terlalu cepat dan sederhana. Ratu Ilmu Hitam (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jelas Ratu Ilmu Hitam (2019) jauh lebih berkualitas dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang hadir hanya dengan memamerkan aurat wanita, efek murahan dan plot cerita yang berlubang dimana-mana x_x. Semoga perfilman Indonesia dapat terus maju dan menelurkan film-film berkualitas lainnya.

Sumber: http://www.rapifilms.com/page/detail/425/ratu-ilmu-hitam

Hereditary (2018)

Sejak beberapa pekan yang lalu saya mendapatkan rekomendasi untuk menonton sebuah film horor yang berjudul Hereditary (2018). Karena berbagai kesibukan, akhirnya saya baru dapat menontonnya beberapa hari kemudian. Film ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga setelah kehilangan ibu/nenek mereka. Di sana terdapat Annie Grahan (Toni Collette), pembuat miniatur mini yang baru saja kehilangan ibunya. Terdapat pula 2 anak Annie yaitu Charlie Graham (Milly Shapiro) dan Peter Graham (Alex Wolff). Memimpin keluarga kecil ini, Steve Graham (Gabriel Byrne) sebagai suami dari Annie dan bapak bagi Peter dan Charlie.

Dari awal, keluarga ini nampak muram dan aneh. Mereka harus menghadapi sejarah buruk keluarga Annie yang dilingkupi oleh depresi dan penyakit kejiwaan. Ayah, ibu dan saudara laki-laki Annie mengalami masalah kejiwaan sebelum mereka meninggal. Annie pun beberapa kali tidur sambil berjalan dan tak sadar akan apa yang dia perbuat. Hubungan di dalam keluarga ini agak saling asing antara satu dan lainnya. Rasanya hanya Steve saja yang nampak tegar dan berusaha merangkul agar keluarga ini tetap utuh. Tak heran kalau mereka nampak jarang tersenyum atau bahagia.

Tempo Hereditary (2018) berjalan lambat sekali sehingga saya merasa bosan dengan separuh bagian awal dari film ini. Masalah kejiwaan seakan menjadi topik utama Hereditary (2018). Hal ini membuat Hereditary (2018) nampak seperti film drama tentang orang stres dan gila saja. Loh? Mana horornya? Perlahan unsur horor dari Hereditary (2018) muncur mulai dari pertengahan film. Horor dimunculkan bukan dalam wujud jump scare yang didukung dengan suara nyaring dadakan. Jangan pula berharap akan ada banyak monster-monsteran di sana. Horor yang dihadirkan adalah horor psikologis yang anehnya, dapat membuat saya merinding.

Berbagai peristiwa tragis yang Annie dan keluarga hadapi memang misterius. Penonton diajak untuk menebak-nebak apakah semua ini disebabkan oleh faktor supranatural atau faktor kegilaan semata. Sayang, misteri yang dihadirkan kurang berhasil membuat saya penasaran. Beberapa bagian pada jalan cerita film ini, terbilang membosankan. Saya pribadi hanya dapat memberikan Heriditary (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: hareditary.movie

Pengabdi Setan (2017)

Setelah sempat beberapa kali kecewa melihat wajah film horor Indonesia, saya agak skeptis melihat kesuksesan Pengabdi Setan (2017) besutan sutradara ternama tanah air, Joko Anwar. Saya sendiri kurang menyukai serial misteri horor karya Om Joko yang sempat tayang di HBO yaitu Halfworlds. Apakah kali ini akan berbeda bagi saya?

Pada Pengabdi Setan (2017) dikisahkan bahwa Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annus) dan Ian (M. Adhiyat) harus menghadapi penampakan dan teror dalam wujud mendiang ibu mereka yang sudah meninggal, Mawarni Suwono (Ayu Laksmi). Mawarni adalah penyanyi tempo dulu yang sudah lama sakit parah. Sakitnya Mawarni membuat keuangan keluarga terpuruk sampai mereka harus menggadaikan rumah tua mereka. Setelah Mawarni dikebumikan, Sang Bapak (Bront Palarae) pergi ke kota untuk memperbaiki kondisi keuangan keluarganya. Sebagai anak tertua, Rini menggantikan peran orang tuanya di rumah. Di sinilah awal teror-teror menimpa Rini dan adik-adiknya. Setelah penguburan selesai dan Sang Bapak pergi ke kota, terjadi banyak keanehan di rumah mereka. Almarhumah ibu mereka sering menampakkan diri dalam wujud yang menyeramkan. Mau apa ya? Kok malah menteror anak sendiri.

Keadaan semakin mencekam ketika nenek mereka, Rahma Saidah (Elly D. Luthan), ditemukan tewas di dalam sumur rumah. Sebelum meninggal, Nenek Rahma ternyata sudah mencurigai bahwa akan terjadi sesuatu. Ia sudah meminta Budiman (Egy Fedly), sahabat Nenek sejak kecil, untuk melakukan penyelidikan. Budiman memberitahukan bahwa almarhumah Mawarni terlibat dengan sekte pemgabdi setan. Mereka bermaksud untuk membawa anak Mawarni untuk sebuah tujuan yang …..

Tujuan para pengabdi setan inilah yang saya rasa menjadi salah satu faktor kejutan dari Pengabdi Setan (2017). Film ini memang memiliki beberapa twist atau kejutan yang bagus namun sayang kurang dieksekusi dengan baik. Seharusnya ada sedikit adegan kilas balik agar unsur kejutannya lebih terasa. Ada kejutan-kejutan yang tidak penonton sadari. Saya sendiri baru menyadarinya beberapa jam setelah selesai menonton film. Ternyata ada lebih dari 1 twist tho, ternyata ada penjelasan kenapa si A kesurupan, …

Film ini sudah menggunakan “jump scare” yang sangat baik, sudah seperti film Hollywood jaman sekarang. Tapi saya terus terang lebih seram melihat “jump scare” pada Pengabdi Setan (2017) dibandingkan “jump scare” film-film luar negeri. Aroma mistik Indonesianya terasa sekali. Latar belakang rumah tua di era 90-an, ditambah suara lagu dari piringan hitam dan … bunyi lonceng .. bisa membuat bulu kunduk berdiri :’D.

Film ini nuansa tahun 90-annya benar-benar terasa. Saya bahkan melihat mainan masa kecil saya dimainkan oleh katakter pada Pengabdi Setan (2017). Awalnya saya pikir Pengabdi Setan (2017) merupakan remake atau reboot dari Pengabdi Setan (1980). Munculnya tokoh antagonis utama pada akhir Pengabdi Setan (2017), menjelaskan kepada saya bahwa peristiwa pada Pengabdi Setan (2017) berlangsung sebelum peristiwa pada Pengabdi Setan (1980) terjadi. Untunglah Om Joko Anwar tidak menggunakan plot dan tokoh antagonis yang sama seperti pada Pengabdi Setan (1980), sudah basi dan mudah ditebak.

Tidak hanya soal plot dan tokoh antagonis saja, Pengabdi Setan (2017) memberikan peranan dan gambaran yang berbeda mengenai tokoh agama setempay. Baik pada Pengabdi Setan (2017) maupun Pengabdi Setan (1980), Keluarga yang diteror memang sama-sama tidak taat beribadah kepada Allah. Namun kemampuan dan peranan ustad pada Pengabdi Setan (2017) nampak lebih manusiawi. Pak ustad juga manusia biasa dan bukan orang suci. Orang yang dianggap masyarakat sebagi ustad pun belum tentu benar-benar ustad atau ulama bukan?

Saya rasa Pengabdi Setan (2017) jelas jauh lebih baik ketimbang Halfworlds. Film ini mampu memberikan ketakutan dan misteri mistik Indonesia dengan cara yang modern dan mengikuti jaman. Terlepas dari kekuranggamblangannya mengungkap misteri yang sudah ada, Pengabdi Setan (2017) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Wha ini film Indonesia pertama yang dapat nilai 3 dari saya hehehe.

Sumber: www.rapifilms.com/page/detail/409/pengabdi-setan

Constantine (2005)

Constantine1

Constantine (2005) mengisahkan bagaimana John Constantine (Keanu Reeves), sang pengusir setan dan iblis, menyelidiki kasus bunuh diri saudara kembar identik dari Detektif Angela Dodson (Rachel Weisz). Penyelidikan John terhadap kasus bunuh diri ini ternyata berhubungan dengan sebuah rencana besar yang dapat menghancurkan keseimbangan antara dunia, neraka dan surga.

Constantine3

Constantine13

Constantine6

Constantine9

Constantine2

Setan? Iblis? Constantine (2005) itu film horor ya? Bukan, Constantine (2005) adalah film bergenre supranatural action thriller yang diadaptasi dari komik Hellblazer yang diterbitkan oleh Vertigo Comics, anak perusahaan DC Comics. John Constantine yang menjadi karakter utama komik tersebut memang dilahirkan dengan kemampuan untuk melihat dan berinteraksi dengan malaikat dan setan. Merasa stres dengan kemampuannya, John sempat melakukan dosa besar yang membuat John divonis untuk tidak akan masuk surga. Lucifer, raja neraka, berjanji akan datang sendiri untuk menjemput jiwa John ketika John meninggal nanti.

Constantine8

Constantine4

Constantine12

Constantine5

Constantine7

Constantine11

Constantine14

Constantine10

Nah, masa lalu John inilah yang pada akhir film Constantine (20015), John pergunakan untuk mempertahankan keseimbangan antara surga, dunia dan neraka. Cerdasss, saya suka dengan Constantine (2005) karena bagian akhirnya yang cerdas, kadang kita tidak perlu sekuat Superman untuk menang ;). Selain itu, alur ceritanya tidak membosankan, special effect-nya pun lumayan ok. Saya rasa Constantine (2005) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus” :).

Horns (2014)

Horns 2

Horns (2014) merupakan versi layar lebar dari novel karangan Jie Hill dengan judul yang sama. Dikisahkan hidup 6 teman lama, sejak masa kecil, yang hidup di suatu kota kecil. Ada Ignatius “Ig” Perrish (Daniel Radcliffe), Lee Tourneau (Max Minghella), Glenna (Kelli Garner), Terry Perrish (Joe Anderson), Merrin Williams (Juno Temple) & Eric Hannity (Michael Adamthwaite).

Pada suatu hari, Merrin ditemukan tewas terbunuh di dalam hutan. Ignatius yang berstatus sebagai pacar Merrin langsung ditetapkan sebagai tersangka utama. Eric yang berprofesi sebagai polisi adalah orang yang pertama kali menemukan dan menangkap Ignatius, Eric yakin bahwa Ignatius membunuh Merrin setelah Merrin & Ignatius bertengkar hebat pada malam terbunuhnya Merrin. Eric menyalahkan Ignatius atas kematian Merrin.

Horns 4

Horns 7

Berbeda dengan Eric, Lee yang berprofesi sebagai pengacara yakin bahwa Ignatius tidak bersalah. Lee pun membela Ignatius di pengadilan agar sahabatnya itu tidak dihukum. Sebagai kakak Ignatius, Perry tentunya mendukung Ignatius. Begitupula Glenna, ia yakin Ignatius tidak bersalah. Dengan hilangnya Merrin dari kehidupan Ignatius, Glenna berusaha menggantikan posisi Merrin di hati Ignatius. Sayang cinta Ignatius kepada Merrin sangatlah besar, Ignatius tidak dapat melupakan Merrin.

Horns 1

Horns 5

Horns 11

Walaupun hasil dari pengadilan membebaskan Ignatius dari tuduhan, warga sekitar tetap yakin bahwa Ignatius bersalah. Ignatius dikucilkan dan dibenci oleh mayoritas warga kota tempat Ignatius tinggal. Entah bagaimana, pada suatu pagi Ignatius menemukan sepasang tanduk mungil tumbuh di kepala Ignatius. Semenjak tanduk tersebut muncul, banyak peristiwa aneh terjadi di sekitar Ignatius. Setiap orang yang berinteraksi dengan Ignatius, entah kenapa, melakukan atau mengucapkan kejujuran “gelap” yang ada di hati mereka. Hal-hal yang lazim ditahan dan tidak dilakukan di muka umum pun menjadi tontonan Ignatius setelah tanduk tersebut muncul. Ignatius menggunakan kemampuan barunya untuk menyelidiki kematian misterius Merrin. Walau ia pun sebenarnya masih ragu apakah ia benar bersalah atau tidak bersalah.

Horns 3

Horns 14

Horns 8

Horns 6

Dalam proses penyelidikan tersebut, Ignatius menemukan rahasia-rahasia yang dimiliki oleh Merrin, Lee, Perish dan Eric. Ternyata teman-teman yang ia kenal sejak kecil memiliki rahasia yang Ignatius tidak ketahui, pertengkaran antar teman pun terjadi.

Horns 13

Horns 15

Horns 9

Horns 10

Horns 12

Penyelidikan Ignatius ini menarik untuk diikuti. Rasa penasaran menerpa saya ketika menonton Horns (2014). Perlahan tapi pasti, kebenaran terungkap. Sayang terdapat kelemahan mengenai detail-detail pembunuhan Merrin dan penjelasan akan kemampuan istimewa Ignatius yang menyerupai setan. Seharusnya ada penjelasan lebih banyak lagi mengenai tanduk Ignatius, entah penjelasan ligis atau penjelasan khayal, kan judul filmnya horns alias tanduk ;). Secara keseluruhan Horns (2014) cukup menghibur dan tidak membosankan untuk ditonton. Saya rasa Horns (2014) layak untuk mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

The Pact (2012)

The Pact 1

Entah kenapa beberapa hari yang lalu saya tertarik untuk menonton film The Pact (2012) yang katanya sih termasuk film horor, whaaa jarang-jarang nih saya nonton film horor. Film The Pact (2012) diawali dengan peristiwa meninggalnya seorang ibu. Ibu tersebut memiliki 2 orang anak, Nicole Barlow (Agnes Bruckner) & Annie Barlow (Caity Lotz). Nicole yang pulang ke rumah ibu mereka, tempat Nicole & Annie dulu tinggal, sedang mempersiapkan upacara pemakaman ibu mereka. Sementara itu Annie menolak untuk datang ke rumah tersebut karena ia memiliki kenangan buruk akan rumah tersebut, ibu mereka memperlakukan mereka dengan kurang baik.

Ketika upacara pemakaman berlangsung, Nicole tidak ada di tempat. Anak Nicole & sepupu Nicole yang mengasuh anak Nicole pun tidak tahu di mana Nicole berada. Annie yang menghadiri pemakaman, awalnya tidak menganggap serius ketidakhadiran Nicole. Menurutnya Nicole memang punya kebiasaan untuk lari kabur dari masalah ketika masalah yang datang sangat besar. Namun lama kelamaan, Annie menyadari bahwa Nicole benar-benar hilang, bukan kabur.

Annie akhirnya kembali ke rumah mendiang ibunya. Bukan kenangan indah yang diperoleh tapi justru peristiwa supranatural & mimpi-mimpi buruk. Annie meminta bantuan polisi & seorang kawan SMA-nya yang dapat melihat mahluk gaib, Annie ingin mengetahui nasib Nicole & arwah siapa yang sering mengganggunya di rumah mendiang ibunya. Penyelidikan Annie semakin lama semakin dalam, semakin besar rahasia kelam keluarganya yang terungkap.

The Pact 6

The Pact 2 The Pact 4

The Pact 7

The Pact 9 The Pact 5

The Pact 3 The Pact 8

Meskipun dikategorikan film horor, The Pact (2012) tidaklah penuh dengan adegan mengejutkan seperti film horor Amerika pada umumnya. The Pact (2012) cocok ditonton bagi penonton yang ingin menonton film horor dengan kadar horor yang rendah, mungkin ada sedikit adegan sadis, tapi kadarnya masih sangatlah jauh bila dibandingkan dengan Saw (2004) :’D.

The Pact 10

Jalan cerita The Pact (2012) agak berantakan, kurang beraturan & gagal membuat saya penasaran. Olehkarena itulah The Pact (2012) hanya layak mendapat nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.